PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
29. Rapat Keluarga


__ADS_3

Keluarga segera dikabari. Keluarga Gayatri sangat sedih, tapi mereka berusaha tegar, agar Aya tidak terpuruk.Namun berbeda dengan keluarga Dewa yang langsung ribut besa. Sebab, peristiwa penelantaran Arjuna saat bayi, akhirnya diketahui oleh ibu kandungnya.


Saat pemakaman Dewa, Arjuna berusaha keras untuk tidak menunjukkan kebenciannya pada keluarga Dewa. Sehingga pemakaman. itu dapat berlangsung dengan hikmat.


Dengan didampingi mami dan adik iparnya, Gayatri terduduk lesu di samping gundukan tanah merah yang dipenuhi taburan bunga.


"Mari kita pulang, Nduk. Kau sudah berhari-hari kurang tidur di rumah sakit," bujuk mami.


"Dewa udah enggak ada, Mi ...."


Kalimat itu terus terucap di bibir Aya. Gadis itu seperti tak percaya bahwa suaminya sudah meninggal dunia. Dan sekarang dia sudah menjadi janda.


"Ujian hidup seperti apa yang digariskan Allah pada putriku," lirih papi sendu. Rencana resepsi minggu depan dapat dipastikan batal, karena pengantin prianya telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi.


Malam hari, diadakan pengajian di rumah papi dan juga rumah orang tua Dewa. Tapi Arjuna memilih berada di rumah Gayatri. Dia mengikuti acara pengajian dengan khusuk hingga selesai.


Saat acara usai, Arjuna berbicara dengan papi. Dia merasa harus menyampaikan wasiat Dewa secepatnya. Setelah itu, terserah bagaimana penerimaan Gayatri dan keluarganya saja. Dia sendiri merasa enggan. Tapi, menurutnya, wasiat harus dijalankan.


"Apa?" Papi sangat terkejut mendengar kata-kata Arjuna.


"Dewa membuat wasiat seperti itu?" tanyanya sekali lagi. Seakan tak yakin dengan perkataan pria muda di depannya.


"Bapak bisa tanyakan sendiri pada putri bapak tentang kebenarannya." Arjuna tak mau bersusah payah meyakinkan pria paruh baya di depannya itu.


"Panggil Aya ke sini!" Papi mengeluarkan kepalanya keluar ruang kerja dan meminta art melakukan perintahnya.


Tak butuh waktu lama, Aya muncul dengan kepala menunduk. Wajahnya kusut dan matanya sembab. Papi terenyuh melihat kemurungan putrinya.


"Nduk, papi tahu kamu sedang berduka cita atas kepergian suamimu. Tapi ada hal yang harus kita bicarakan sekarang juga."


Aya mengangkat wajahnya. Sekarang dia dapat melihat kehadiran orang lain di ruang kerja papi.


"Untuk apa kau di sini!" tanya Aya ketus.


"Menyampaikan wasiat Dewa!"

__ADS_1


Arjuna mengedikkan kedua bahunya. Menunjukkan bahwa dia sebenarnya tak peduli sama sekali dengan segala macam wasiat. Dia hanya meyampaikan yang harus disampaikan. Diterima atau tidak, dia tak peduli.


Jika Aya yang menolak, maka biarkan gadis itu yang menanggung konsekwensi dari tidak memenuhi keinginan terakhir suaminya. Arjuna akan lepas tangan dan bisa kembali merdeka.


"Apa benar Dewa ada mengatakan pesan terakhir pada kalian berdua?" selidik papi.


Aya baru akan membuka mulut, dengan wajah tak senang. Tapi papi segera mencegahnya bicara.


"Pikirkan baik-baik apa yang ingin kau katakan, Nduk. Wasiat orang yang telah meninggal tak boleh diputar balik hanya karena kau tak suka dengan bunyi wasiat itu. Kau harus mengatakan apa adanya, meskipun kau suka ataupun tidak. Resikonya besar jika berbohong tentang wasiat orang yang sudah tiada!"


Papi menekankan perkataannya agar putrinya yang keras kepala itu bisa mengerti bagaimana penting kejujurannya saat ini.


Gayatri menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dengan menunduk, dia mengatakan apa yang diinginkan Dewa sepeninggalnya.


"Kata Dewa, jika dia meninggal, Aya harus menikah dengan Arjuna."


Papi menghembuskan napas beberapa kali. Otaknya panas dipaksa menerima berbagai macam peristiwa berat dalam waktu dekat.


Arjuna melihat kesempatan untuk melemparkan tanggung jawab pada gadis yang dibencinya itu.


Arjuna terkekeh geli dengan leluconnya sendiri. Sementara papi bermuka masam. Pria itu tahu apa maksud dari perkataan kembaran Dewa itu. Dia ingin melemparkan semua tanggung jawab penolakan pelaksanaan wasiat pada putri tersayangnya.


Belum lama mengenal Arjuna, papi sudah mulai tak suka dengannya. Pria di depannya ini sangat arogan dan menyebalkan. Belum apa-apa dia telah bergerak cepat melemparkan kesalahan pada Aya. Bagaimana dia bisa mengijinkan putrinya menikah dengan pria seperti ini?


Aya tertunduk. Dia membenci Arjuna. Bagaimana bisa Dewa menyerahkannya pada pria mesum ini?


Ruangan hening dan terasa mencekam. Papi dapat melihat rasa tak suka dari putrinya. Dia harus mencari cara agar bisa mengulur waktu.


"Aya sedang dalam keadaan duka. Tanah makam suaminya masih basah. Bagaimana kalau kita bahas lagi hal ini lain kali? Beri dia waktu untuk menata hatinya dulu," kata papi bijak.


"Baik. Terserah. Maka saya akan pamit." Arjuna segera berdiri dari kursinya.


Papi mengantarnya ke luar dan meninggalkan Aya sendiri di ruang kerja.


Namun, kepergian Arjuna bukan berarti pembahasan tentang wasiat Dewa itu selesai. Papi justru mengumpulkan Eyang, mami, Radit dan tak ketinggalan istrinya, serta sanak keluarga yang hadir malam itu. Aya dipanggil untuk mengikuti rapat keluarga.

__ADS_1


"Apa! Karena otaknya yang cedera, Dewa jadi gila di akhir hayatnya!" cela Radit tak senang.


"Betul. Istri bukan barang yang bisa dipindah tangan dengan mudahnya!" kata yang lain.


"Benar. Aya kan juga punya hati. Masa baru menikah beberapa hari, suaminya sudah ingin memberikannya pada saudara kembarnya? Apa dia tak memikirkan perasaan istri sendiri!"


"Jangan bertengkar. Dewa toh tidak mengatakan kapan waktu mereka berdua harus menikah. Kita bisa tunggu masa iddah Aya selesai. Jadi kita masih punya waktu untuk berpikir yang terbaik," ujar kerabat lainnya.


"Berpikir yang terbaik apa maksudmu!" Eyang menatap tajam pada orang itu.


"Menunggu masa iddah Aya selesai itu, harus. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk memungkiri wasiat Dewa! Kita sekeluaga besar akan menerima akibat buruknya!" kata Eyang tajam.


Semuanya menunduk. Apa yang dikatakan eyang sepenuhnya benar. Bahwa sebenarnya tak ada yang bisa mereka lakukan, selain meminta Aya memenuhi wasiat itu.


Sekarang semua pandangan dialihkan pada gadis yang sedang murung itu. Air matanya sudah kering. Tapi matanya sembab. Seperti menyadari belasan pasang mata yang menatapnya, Aya yang tengah menunduk pun, mengangkat kepala.


"Kenapa melihat ke arahku?" tanya Aya bingung.


"Kau harus melakukan wasiat itu setelah masa iddahmu selesai!" putus Eyang.


"Apa? Menikahi Arjuna? Tidak mau! Dia pria kasar dan punya banyak kekasih. Aya bisa makan hati jika jadi istrinya!" tolak Aya dengan cepat.


"Nduk ... wasiat orang meninggal itu tak boleh kau abaikan. Apa lagi itu pesan suamimu sendiri. Dan kau sudah mendengarnya sendiri!" mami mengingatkan.


"Iya, Mi. Tapi Arjuna bukanlah pria yang baik! Dia---"


"Cukup! Menurut pendapat Eyang, Dewa pasti punya penilaian sendiri tentang saudara kembarnya itu. Itu kenapa dia mempercayakanmu pada Arjuna!"


"Tapi---"


Jari tangan mami yang bergoyang ke kanan dan kiri, membungkam mulut Aya. Mami sedang mengingatkan Aya bahwa Eyang bukanlah orang yang senang dibantah. Nanti Aya sendiri yang rugi kalau eyang akhirnya murka.


Gayatri hanya bisa diam menunduk. Hatinya ingin sekali memberontak. Dulu keluarganya yang mengatur pernikahan dengan Dewa yang tak dikenalnya. Sekarang, malah Dewa sendiri yang mengatur jalan hidupnya untuk menikahi saudara kembarnya yang brengsek itu. Aya benar-benar merasa tak punya kuasa atas tubuhnya sendiri.


******

__ADS_1


__ADS_2