PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
69. Interogasi


__ADS_3

"Kami sudah menginterogasi mereka, tapi mereka tidak mau bekerja sama. Hanya bungkam saja sejak ditahan tadi malam!"


Polisi memberi penjelasan saat Arjuna sampai di kantor polisi.


"Bisakah aku bertemu dengan mereka? " tanya Arjuna.


Polisi tidak langsung menjawab. Ditatapnya Arjuna dengan seksama.


"Mungkin saja aku bisa mengenali mereka? Entah apakah pernah bertemu di suatu tempat, mungkin?" Arjuna berargumen.


"Waktu Anda setengah jam!" polisi akhirnya memberikan ijin.


"Aku ingin bertemu mereka satu persatu. Beri aku waaktu empat puluh menit untuk menemui mereka secara bergantian," tawar Arjuna.


"Baiklah, Tapi tidak diperbolehkan menyiksa tahanan!" Polisi memperingatkan dengan keras.


"Terima kasih!" Arjuna mengangguk penuh rasa terima kasih. Dengan diantar polisi, Arjuna bertemu dengan penculik yang ditangkap malam sebelumnya.


Dua orang itu dibiarkan dalam ruangan tertutup yang diawasi cctv. Arjuna tidak takut sedikit juga terhadap si penculik. Mereka duduk berhadapan dan hanya dibatasi meja kayu kecil.


"Apa alasanmu menculik istriku?" tanya Arjuna dengan mata menyipit. Dia sudah menghabiskan lima menit untuk mengamati orang di depannya. Dia sama sekali tidak ingat pernah jumpa di mana.


"Aku tidak menculiknya! Aku hanya menolong dan mengantarnya saat berusaha bunuh diri!" jawab pria itu datar.


"Oh ... ayolah. Siapa yang mau kau bodohi? Kalau kau tidak terlibat penculikannya, kau tak mungkin bersikeras saat ditangkap polisi!"


Nada suara Arjuna meninggi. Tetapi pria itu bergeming. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan intimidasi orang lain. Pilisi saja tak bisa mengorek keterangan dari mulut mereka berdua.


"Itu karena aku tak bersalah. Maka aku tak bersedia ditangkap!" jawabnya lancar. Arjuna tertawa sinis mendengarnya.


"Apakah bosmu yang melakukan penculikan kemudian menimpakan semua kesalahan pada kalian berdua?" tebak Arjuna.


"Aku tak punya bos!" jawab orang itu datar.


Tapi Arjuna tadi menangkap perubahan tipis pada mata pria itu saat dia mengatakan tentang bos. Penculik itu berbohong dan pura-pura tenang, untuk melindungi dalang penculikan.


"Apakah dia menyandera keluargamu, jika kau membongkar kejahatannya?" Arjuna mengangkat dagunya, kemudian berdiri dari kursi. Didekatinya pria itu.

__ADS_1


"Apa kau tahu kalau istriku kritis sekarang? Dan, bagaimana bisa bayi itu begitu kurus dan kekurangan gizi? Jika salah seorang tak selamat, maka kasus penculikan ini akan berubah menjadi kasus pembunuhan berencana. Aku akan pastikan kalian berdua membusuk di penjara!" desis Arjuna tepat di telinga tahanan.


Pria itu sedikit menggeser kepala, menghindari Arjuna yang terlalu dekat.


Arjuna berdiri tegak. Diangkatnya kaki dan menginjak kaki pria di depannya sekuat tenaga dan menumpukan seluruh bobot tubuhnya di kaki kanan.


Rahang tahanan itu mengeras. Dia tak menjerit sedikitpun, meski merasakan sakit yang amat sangat pada jari yang diinjak sepatu Arjna.


Arjuna mengamati ekspresinya. Setelah merasa cukup, dia berhenti dan kembali duduk dengan tenang, seakan tak terjadi apapun tadi.


"Aku akan mencicil pembalasan kecil seperti tadi, seumur hdupmu!"


Arjuna membungkuk ke depan meja sedikit dan berbisik. Termasuk keluargamu! Mereka lah akan membayar kekejian yang kau lakukan!" Senyum yang ditunjukkan Arjuna sangat mengerikan. Senyuman dingin penuh amarah.


Tanpa sadar, pria itu memundurkan tubuhnya hingga menyentuh sandaran kursi. Dan Arjuna tersenyum puas melihat hal itu.


"Aku bukan orang yang sabar dan suka membuang waktu. Kesempatanmu satu-satunya sudah kau sia-siakan. Kau bisa sesali itu nanti, saat mendengar kabar kematian adikmu!"


Arjuna berbalik, mengarahkan wajah pada cctv. Dia berteriak. "Aku sudah selesai dengannya!"


Pria di depannya melotot mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Arjuna. Tak lama petugas masuk dan membawanya keluar dengan berkali-kali berhenti jalan dan menoleh ke belakang. Tapi tak ada satu kata juga yang terlontar. Seakan dia tak percaya pada ancaman suami Gayatri.


Meski merasa pesimis dapat membuka mulut si paling jagoan itu, Arjuna tetap duduk dengan tenang. Ditunggunya dengan sabar petugas memasang borgol ke besi belakang kursi yang diduduki tahanan.


"Dengar. Aku sudah membuang banyak waktu dengan temanmu itu. Dan aku sungguh merasa bosan melihat otak kecil kalian yang tak bisa dipakai untuk berpikir lurus."


Pria itu menatap Arjuna tak berkedip. Air mukanya seakan menantang Arjuna berkelahi. Arjuna hanya memiringkan kepalanya dan tergelak sedikit.


"Apakah kau pernah menolong istriku walau sekali, saat dia sedang dalam kesulitan besar?"


Ditatapnya pria itu tepat di matanya. Seperti berusaha melihat, menembus ke dalam relung hatinya.


"Berapa kali istriku mencoba lari?" tanyanya tanpa berkedip. Pria itu terkejut. Matanya yag semula menantang, kini meredup lalu membuang muka, mengelakkan pandangan suami dari wanita yang dijaganya.


"Apakah kondisi istriku mengingatkanmu pada seseorang, hingga kau berusaha menyelamatkan nyawanya meskipun setelah itu kau harus menghadapi kemarahan bosmu?" tebak Arjuna mendesaknya.


Pria itu menunduk tanpa menjawab. Namun Arjuna bisa melihat bahunya yang semula teguh, kini turun, seperti menyimpan kesedihan.

__ADS_1


"Jika kau percaya, katakan padaku di mana orang yang harus kau jaga itu berada. Aku akan menjaganya, seperti kau menjaga istriku. Anggap itu sebagai rasa terima kasihku."


Pria itu langsung mendongakkan kepala dan menatap Arjuna dengan mimik tak percaya.


Arjuna mengedikkan bahu, melihat pria itu masih tutup mulut. "Aku bisa lihat kepanikanmu di apotik saat menebus obat istriku. Dan karena kau harus menjalani hukuman untuk kasus penculikan, dan semoga tidak berubah jadi kasus pembunuhan, jika salah satu dari mereka tak bisa diselamatkan!"


Setelah menjeda kalimatnya. Arjuna melanjutkan. "Aku akan menjaganya sebaik kau menjaga istriku, selama kau ditahan!" Arjuna menuntaskan tawarannya.


Pria di depannya meragu sejenak. Dengan menahan dongkol, karena begitu sulit membujuk kedua orang itu, Arjuna berdiri.


"Waktuku habis. Kau punya waktu memikirkan ini hingga dua hari ke depan. Jika bosmu tidak mempedulikan kalian, maka kau bisa tahu, bahwa percuma menggantungkan harapan padanya!"


Sesampai di pintu, Arjuna berbalik sebentar. "Dua hari lagi, aku akan datang dengan pengacara. Semoga kau cukup pintar, sebelum maniak itu menghilang atau menghilangkan kalian berdua selamanya, dan wanita itu terus menunggumu yang tak akan pernah kembali!"


Pintu dibuka dari luar setelah terdengar ketukan pada pintu. Arjuna pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.


Mobilnya dikendarai dengan kencang ke suatu tempat. Kemudian keluar dan melangkah buru-buru. "Apakah ada yang mau berlatih tanding denganku?" teriaknya pada orang-orang yang sedang berlatih tinju di sasana.


Mereka menoleh dan melihat pria perlente yang berwajah kusut. Jelas dia sedang punya masalah berat dan ingin melampiaskannya dengan meninju siapapun di situ.


"Berapa!" teriak seseorang.


"Dua puluh lima juta!" jawab Arjuna lantang.


Para pria yang berlatih itu saling pandang. Mereka memang akan menjadi samsak bagi Arjuna yang sedang marah. Tapi, jumlah itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan.


"Tiga puluh lima juta! Anakku harus operasi, dan segitu biaya yang dikatakan dokter. Bagaimana?" seorang pria usia empat puluhan, cukup tampan dan berkharisma berjalan mendekati ring.


"Aku akan membiayainya hingga sembuh!" jawab Arjuna cepat. Dia membuka lokernya dan berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian dia sudah mendapati pria tadi menunggu di atas ring.


"Ini cekmu!" Arjuna menyerahkan kertas cek, Pria itu langsung menyambut dan wajahnya menjadi cerah.


"Ayo!" katanya. Semua orang yang sedang berada di sasana, mengelilingi ring. Wasit juga sudah naik ke arena. DIa harus menjaga jangan sampai pria yang satu tewas karena menjadi bulan-bulanan kemarahan Arjuna.


"Siap?" Wasit melihat kedua orang yang mengangguk tegas.


"Satu. Dua. Tiga!"

__ADS_1


********


__ADS_2