
Arjuna yang tidur di sofa, terkejut mendengar teriakan Aya di tengah malam buta.
"Ada apa?" tanyanya sambil berusaha untuk duduk dan mengerjapkan mata kebingungan. Dilihatnya tubuh istrinya itu bergerak-gerak dengan gelisah.
Pria itu bangkit dari sofa dan naik ke tempat tidur. Tangannya terulur untuk memeluk Gayatri.
"Sstt, tenang .... Tak ada apa-apa. Aku akan menjagamu, di sini," bisiknya lembut.
Seolah dapat merasakan keamanan dari pelukan Arjuna, perlahan kegelisahan Aya mereda. Dia terus tertidur tanpa menyadari keadaan.
Pukul lima pagi, teriakan nyaring kembali terdengar dari lantai atas rumah. Kali ini bukan hanya berteriak, tapi juga tangannya secara refleks mendorong orang yang memeluknya dari belakang.
Suara tubuh Arjuna yang berdebam jatuh ke lantai, terdengar keras. "Aduh ... punggungku ...." keluh pria itu sambil meringis.
Kemudian matanya menatap Aya dengan nyalang. "Oh, begini ya caramu berterima kasih sudah kutemani tidur!"
Aya memang sedikit terkejut saat menyadari bahwa yang didorongnya jatuh adalah suaminya sendiri. Namun, sikap tak mau kalahnya justru muncul.
"Aku tak butuh ditemani tidur! Dan juga, lain kali ... Jika kau ingin tidur di tempat tidurku, dapatkan dulu ijin dariku!" ketusnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Apa?" Arjuna terbengong mendengarnya. "Hei! Ini rumahku. Kau dengar? Terserah aku mau tidur di mana saja. Tak ada yang akan melarangku!" kejar Arjuna ke depan pintu kamar mandi.
Karena tak mendengar jawaban, Arjuna mendekatkan telinga ke daun pintu. Hanya ada suara keran air menyala.
Dengan kesal dipukulnya pintu kamar mandi. "Dasar wanita! Bikin mood hilang saja pagi-pagi!" gerutunya sambil kembali ke kamarnya.
Di meja makan, bibir Gayatri masih cemberut. Arjuna juga seperti itu. Dia tak terlihat senang sama sekali. Punggungnya masih menyisakan nyeri akibat jatuh dengan keras.
"Besok pagi aku akan mengantarmu ke rumah keluargamu," ujarnya kaku.
Di depan pelayan, berusaha seolah tak terjadi apapun di antara mereka. Akan tetapi, Aya tak mengerti. Yang ada di kepalanya hanya menjauh dari Arjuna.
"Tak perlu. Aku akan ke sana diantar sopir setelah jam kerja nanti sore. Besok aku kembali."
Arjuna menggertakkan gigi. Namun, dia tak ingin berdebat di depan pelayan. Akhirnya hanya anggukan kepala yang diberikannya.
Sementara Aya menganggap anggukan itu sebagai ijin. "Terima kasih," ujarnya dengan sedikit senyum palsu.
__ADS_1
Arjuna menahan amarah dengan menggertakkan gerahamnya. Tangan kakunya yang memegang sendok di atas piring, sedikit bergetar. Pria itu berusaha keras untuk tidak membentak ataupun mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.
"Aku harus sabar. Lambat laun, dia akan takluk juga seperti wanita-wanita lain," batin Arjuna percaya diri.
Setelah selesai sarapan, Aya lebih dulu berdiri. Seperti sedang terburu-buru. Pada hal, dia hanya ingin menghindari pria di depannya itu.
"Aku masih punya tugas yang belum selesai kemarin. Jadi harus datang lebih pagi," pamitnya.
"Hemm ...." Arjuna hanya berdehem.
Dengan ekor mata dilihatnya Gayatri melenggang pergi. Tiba-tiba dia menelan ludah. Baru sekarang dia menyadari bahwa tubuh istrinya itu sangat bagus.
"Sial!" ujarnya sambil mengepalkan kedua tangan, agar segala sesuatunya dapat aman terkendali pagi itu.
Namun, tiba-tiba dia berdiri dan bergegas mengejar Gayatri. "Persetan!" gumamnya dengan nada bergetar.
"Aya!" panggilnya.
Gayatri menoleh. Tapi, pandangan matanya tajam menusuk seperti belati. Kemudian masuk ke mobil dan membanting pintu. Mobil pun segera meluncur pergi.
Arjuna yang semula bingung dengan apa yang menyebabkan Aya kembali marah, akhirnya mengetahui sumbernya. Wajahnya memerah menahan murka.
"Mau apa kau ke sini!" tanya Arjuna kasar.
"Ada yang harus kukatakan," jawab wanita itu.
"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak menyukaimu! Terutama setelah kau bermain-main juga dengan pria lain!" Arjuna menekankan maksudnya sekali lagi.
"Aku juga tak suka dengan pria sombong sepertimu. Tetapi ...." wanita itu membuka jaket yang menutupi perutnya yang membukit. "Anakmu tidak perlu alasan cinta ataupun suka. Dia hanya butuh ayah!"
"Anak? Anak apa? Kau kira aku percaya kalau itu anakku? Di mana pria muda yang waktu itu kau banggakan? Apa dia sudah mencampakkanmu setelah tahu kau hamil? Atau dia tak cukup kaya untuk ambisimu menjadi nyonya kaya dan membesarkan anak seperti seorang pangeran?" Arjuna tertawa keras.
Suara tawa yang disertai amarah, terdengar sangat mengerikan. Wanita itu mundur dua langkah dari tempatnya berdiri, menghindar dari jangkauan Arjuna yang bisa ringan tangan.
"Ini memang anakmu. Kau bisa melakukan tes DNA jika ragu." Wanita itu menantang Arjuna.
"Pergi kau! Aku sudah menikah! Tak akan ada wanita lain yang layak menggantikan istriku!" teriak Arjuna murka. Tangannya memberi kode pada sekuriti untuk mengusir wanita hamil itu keluar dari halaman rumahnya.
__ADS_1
"Sekali lagi kau biarkan dia masuk ke sini, kau kupecat!" ancam Arjuna serius.
"Baik, Pak." Dengan setengah menarik tangan, wanita itu dibawa ke luar halaman rumah.
"Tolong, jangan menyusahkan saya, Mbak!" ujarnya dengan nada minta dikasihani. Kemudian pintu pagar dikunci.
Arjuna masuk rumah dengan alis mengerut. "Apa yang sudah dikatakannya pada Gayatri?" pikirnya cemas.
Di perjalanan ke kantor, ekspresi Gayatri sangat menakutkan. Dia bertemu dengan wanita berdandan menor yang mengobrol akrab dengan sopirnya. Dia sudah menduga bahwa wanita itu mungkin salah satu kekasih Arjuna. Namun, yang tak diduganya adalah, wanita itu dengan blak-blakan mengatakan bahwa dia sedang mengandung bayi Arjuna.
"Dasar bajingan!" desisnya lirih. Dia merasa sakit hati, tapi anehnya tak ada tanda-tada akan jatuhnya air mata.
Aya menyadari bahwa dirinya tidak mencintai Arjuna. Tetapi, menikahi pria yang menghamili wanita lain juga tak ada dalam rencana hidupnya. Mengajukan perceraian karena hal itu, juga tak mungkin. buku nikahnya baru saja selesai. Belum lagi penentangan anggota keluarganya.
"Pernikahan macam apa yang kujalani ini?" batinnya tak mengerti.
Hari itu dilaluinya dengan mood yang buruk. Dan hal itu berimplikasi pada kinerjanya di kantor.
"Apa kau digaji kantor untuk melamun?"
Terdengar suara Desta. Kepala Divisi itu kini diturunkan jabatannya menjadi sama dengan Gayatri. Kinerja mereka berdua akan dievaluasi, untuk menentukan siapa yang layak menjadi Kepala Divisi berikutnya.
Gayatri mencoba untuk fokus dalam tugas yang diberikan padanya. Karena rasa bersalahnya, Aya memutuskan untuk tidak bersaing dengan Desta. Dia merelakan jabatan itu dipegang oleh pria itu kembali.
Siang hari, Aya mendapat tugas ke luar kantor. Dan karena pekerjaan itu baru selesai sore hari, diputuskannya untuk langsung pulang ke rumah mami dari tempat klien.
"Pak antar saya berbelanja ke supermarket dulu ya," pinta Aya pada supir.
"Baik, Nyonya." Sopir mengarahkan mobilnya memasuki supermarket yang searah dengan jalan ke rumah mami.
"Tunggu di sini saja. Saya hanya membeli beberapa buah saja, tidak lama," pesannya.
"Baik." Sopir itu mengangguk dan memperhatikan Nyonya barunya itu masuk ke gedung supermarket.
Aya baru saja selesai membayar di kasir dan sedang berjalan di parkiran menuju mobilnya, saat sebuah mobil van hitam lewat.
Pintu belakang van itu terbuka, kemudian dua tangan menarik tubuh Gayatri masuk ke dalam mobil dan segera menutup pintunya. Mobil itu melaju cepat menuju pintu keluar.
__ADS_1
*******