PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
62. Ruang Persalinan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, kekasih Luna datang kembali. "Bos, ini makan malam untuk Anda."


Arjuna melihatnya dengan heran. Dia tak mengenal pria itu dan juga selalu ketus pada Luna. Akan tetapi, sekretaris itu tetap saja ingat jika dia belum makan apapun sejak siang tadi.


"Terima kasih." Angguk Arjuna pada pria muda di depannya. Kemudian menatap punggungnya yang berjalan pergi.


Meskipun merasakan hatinya tidak nyaman tapi harum makanan dalam kotak di depannya menggugah selera makan.


"Kenapa aku terus ingat sama Aya?" batinnya gelisah.


"Apakah terjadi sesuatu padanya?" pikirnya lagi sambil menyuap.


Kemudian Dokter datang dan memberikan hasil tes darah. "Tidak ada yang mengkhawatirkan. Kemungkinan Anda sedang banyak pikiran dan kurang fit saja. Makanya tadi sampai jatuh pingsan. Kami akan menyarankan minum vitamin untuk sementara waktu. Jika masih ada keluhan, bisa datang ke poliklinik," ujar dokter sambil memberikan resep vitamin ke hadapan Arjuna.


"Jadi, saya sudah boleh pulang?" tanya Arjuna sambil menyuap makanan terakhirnya.


"Jika sudah selesai makan, Anda sudah bisa pulang dan menebus resep ini di apotik."


Dokter mengangguk dan pergi. Perawat melepaskan jarum infus dari tangan Arjuna, kemudian menutup lukanya dengan kapas.


"Terima kasih," ujar Arjuna saat perawat pergi meninggalkannya.


Diraihnya kertas lab dan resep dari meja, kemudian berjalan menuju pintu keluar.


"Di mana apoteknya?" tanya Arjuna pada seorang perawat yang melintas.


"Aduh!" Arjuna mengaduh saat punggungnya ditabrak seorang pria tinggi tegap berkulit gelap yang sedang buru-buru.


"Arjuna sudah akan membentak tapi orang yang menabraknya sudah berjalan cepat ke arah lain.


"Anda tak apa-apa?" tanya perawat itu.


"Orang brengsek! Seperti hanya dia saja yang punya keluarga sakit!" kesal Arjuna.


"Di mana arah apotek?" Arjuna mengulangi pertanyaannya tadi.


"Oh, ke arah sana, Pak. Nanti ada tulisannya," jawab perawat itu, kemudian berlalu.


Dengan sedikit meringis, karen punggungnya yang nyeri, Arjuna berjalan ke apotek untuk menebus resepnya.


Dia tak perlu begitu kesulitan untuk menemukan tempat itu, karena terjadi keributan di sana. Dan kembali, pria yang menabraknya tadi itu juga yang membuat keributan dan ingin dilayani lebih dulu. Padahal baru saja datang.

__ADS_1


"Ini genting! Berikan resep ini lebih dulu!" meja di depan loket digebraknya dengan keras.


"Anda harus antri seperti yang lain, Pak," ujar salah seorang pengunjung yang juga menunggu.


"Orangnya sekarang sedang di meja operasi! Bagaimana bisa sabar, jika obat ini tak disediakan di sana dan harus cari sendiri!" bentaknya balik.


Arjuna menggeleng. Dia tak setuju cara kasar pria itu. Namun, memang saat keluarga sedang sakit keras, apalagi sedang dioperasi, emosi jadi memuncak dan kehilangan kesabaran.


Diletakkannya kertas resepnya di loket dan mencari tempat duduk. Seorang petugas farmasi sedang bicara dengan pria yang mengamuk tadi. Tak lama, pria itu juga duduk, tepat di depan loket. Dia terlihat sangat tidak sabaran.


Arjuna memejamkan matanya untuk mengusir kebisingan di sekitar. Tiba-tiba dia mendengar nama Gayatri disebut seseorang. Dengan cepat dibukanya mata. Dan mencari-cari di manakah sosok istrinya itu. Akan tetapi dia tak menemukannya.


Dengan penasaran, dia bertanya pada petugas di loket, apakah tadi ada memanggil nama Gayatri.


"Itu bapak yang bikin keributan itu yang membawa resep pasien Gayatri!" tunjuk petugas itu ke arah keluar.


"Apa!"


Arjuna segera berlari mengejar ke luar apotek. Namun, pria itu terlalu cepat meghilang.


"Ah, dia tadi bilang keluarganya sedang operasi!" gumam Arjuna.


"Ruang operasi di mana?" tanya Arjuna.


"Ruang operasi di lantai delapan. Ruang persalinan di lantai tujuh! Pasiennya pria atau wanita pak? Sakit apa?" taya satpam ingin tahu.


Arjuna yang kebingungan harus menjawab apa, karena dia sungguh tidak tahu. Akhirnya menjawab asal-asalan. "Wanita pak. Mau melahirkan," sahut Arjuna.


"Iya, ke lantai tujuh. Nanti nama setiap pasien akan ditulis di depan pintu masuk ruang persalinan. Jadi bisa tahu, apakah masih ada di ruangan situ atau sudah pindah ke ruang perawatan," jelas satpam itu sambil memencetkan tombol lift untuk Arjuna naik.


"Terima kasih," ujar Arjuna sebelum menghilang di balik pintu lift.


"Nanti dari lantai tujuh, naik lagi saja ke lantai delapan," pikir Arjuna. Dia menunggu pintu lift terbuka, kemudian keluar.


Ada banyak orang yang duduk di ruang tunggu. "Ternyata banyak juga yang melahirkan setiap hari." batinnya heran.


Entah apa yang membawanya berjalan mencari pintu masuk ruang persalinan. Tiba-tiba ada keinginan untuk melihat nama-nama pasien yang dicantumkan di sana.


Arjuna masih sejarak empat meter dari sana, ketika kakinya terhenti begitu saja. Pria yang tadi menubruk dan mengambil obat untuk pasien Gayatri, juga ada di sana. Pria itu berdiri dengan gelisah dan mondar-mandir, seperti seorang suami yang sedang menunggui istri melahirkan.


Arjuna meragu. "Berapa persen kemungkinan seseorang punya nama yang sama di dalam satu kota?" batinnya sambil mencoba mengkalkulasi.

__ADS_1


"Nama Gayatri itu unik. Itu bukan nama yang umum di jaman sekarang," Arjuna terus berdiri sambil terus berpikir. Dia tak melakukan apapun selain menunggu. Menunggu pasien Gayatri yang di dalam, keluar dan bisa dilihatnya. Agar dia dapat meyakinkan diri bahwa itu bukan istrinya.


"Tapi, Gayatriku tidak sedang hamil!" Sebuah kemungkinan dimasukkannya ke dalam kalkulasi penghitungan persentase.


"Bagaimana kalau dia hamil? Kami kan sudah berhubungan waktu itu." batinnya kembali memberikan argumen yang membuat dia akhirnya tak beranjak pergi dari sana.


"Berapa persen kemungkinan hamil dalam satu kali hubungan?" Otaknya kembali mereka-reka, mencari argumen untuk membuat pilihan menunggu di situ, atau naik ke lantai delapan.


"Keluarga pasien Gayatri!" panggil seorang perawat.


Arjuna tertegun melihat dua pria serempak berdiri menghadap perawat yang kemudian mengatakan beberapa hal.


"Bos!" Sebuah suara rendah menyapa dari belakang.


"Ah! Astaga!" pekik Arjuna tertahan karena terkejut.


"Dicky? Kenapa kau ada di sini? Apakah istrimu juga melahirkan?" tanya Arjuna setelah mengetahui siapa yang menyapanya.


Pria itu mengerutkan dahi sebentar sebelum menggeleng. "Apa Bos sedang menyelidiki mereka?"


Dicky mengangkat dagu ke arah dua orang yang terlihat sedang berdiskusi dengan perawat di depan pintu ruang persalinan.


"Tidak!" bantah Arjuna.


"Ah ... ya. Sebenarnya tidak sengaja mendengar nama Gayatri disebut saat saya menunggu obat di apotek. Saya ikuti pria itu ke sini." Arjuna menjelaskan bagaimana dia bisa ada di tempat itu.


"Lalu kau, mau apa ke sini?" Arjuna mengulang pertanyaan yang belum dijawab pria itu.


"Penyelidikan membawa saya ke sini. Informan mengatakan bahwa ada pasien percobaan bunuh diri bernama Gayatri masuk ke rumah sakit ini. Tapi dia sedang hamil besar. Itu yang membuat saya buru-buru datang. Namun, sepertinya ikatan seorang suami jauh lebih kuat. Anda juga sudah berada di sini lebih dulu!"


"Jadi, pasien Gayatri itu istri saya?" Mata Arjuna melebar tak percaya. "Dia ... dia hamil?" ulangnya lirih.


"Ssttt!" bisik Dicky, agar Arjuna tidak berbicara terlalu keras yang bisa menimbulkan kecurigaan dari orang yang sedang diselidikinya itu.


"Saya belum melihatnya, Bos. Kita harus pastikan dulu apakah itu istri Anda atau bukan," bisik Dicky.


"Bagaimana caranya?" Arjuna melihat bahwa dua pria di depan sana pasti akan menjaga pintu itu dengan seluruh kekuatan. Terlihat dari tubuh mereka yang tinggi tegap, khas seorang penjaga.


"Ada akal. Ikuti saya." ajak Dicky.


********

__ADS_1


__ADS_2