PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
48. Hari pertama Jadi Istri


__ADS_3

Aya lega karena Arjuna sama sekali tidak mengganggunya. Pintu penghubung kedua kamar tertutup rapat.


"Bagun! Sudah pagi. Apa kau selalu bangun siang seperti ini?"


Aya terkejut dan duduk dengan bingung. Tak biasanya dia dibangunkan sekasar itu. Dilihatnya Arjuna dengan mata melotot. Namun sebelum dia mulai bicara yang bukan-bukan, Arjuna sudah menyentil dahinya.


"Aduh ...." Aya mengusap dahinya dengan ekspresi tak senang.


"Ini rumahku. Sekarang sudah pukul enam pagi. Aku bahkan sudah kembali dari joging!" Arjuna memberi tahu.


Gayatri akhirnya ingat bahwa dirinya sudah menikah dengan pria itu kemarin malam. Sekarang dia berada di rumah suaminya. Bergegas dia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Alangkah malunya, dilihat pria dengan muka bantal, belum cuci muka serta sikat gigi.


Arjuna bisa mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Tapi dia ingat sesuatu. Kemudian tersenyum kecil. Dia menunggu dengan tenang di pintu penghubung kamar mereka.


Tak lama terdengar sedikit keributan di kamar mandi. Lalu pintunya terbuka sedikit. Kepala Aya celingak-celinguk melihat ke sekitar, khawatir Arjuna masih berada di kamarnya.


Dengan berjingkat-jingkat seperti pencuri, Gayatri keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos. Dia lupa membawa handuk. Dan sekarang harus menemukan benda itu secepat mungkin, sebelum Arjuna datang.


Dibukanya lemari. Isinya semua pakaian Arjuna. "Ah iya, baju-bajuku belum dikeluarkan dari koper." Gayatri menepuk keningnya.


Tangannya dengan gesit membuka koper yang kemarin disiapkan adik iparnya. Namun, hingga dua kali memeriksa, Aya tak melihat ada handuk di dalam sana.


"Aishh ...." gerutunya, Tubuhnya sudah mulai kedinginan karena ac kamar.


"Kurasa, kau butuh ini!"


"Mendengar suara Arjuna dari pintu penghubung, Aya bergerak cepat menarik selimut untuk melilit tubuhnya.


"Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu!" protes gadis itu.


"Hei, ini rumahku. Semua kamar bisa kumasuki. Apa lagi kamar ini. Lagi pula, aku sudah melihat semuanya!"


Arjuna menunjuk Gayatri dengan jari digerakkan ke atas dan bawah. Hal itu membuat Aya malu dan wajahnya langsung memerah.


"Jangan sok imut begitu!" sergah Arjuna. Apa kau sedang mengundangku? Aku ada pertemuan yang tertunda hari ini. Luna akan marah kalau aku terlambat lagi!" Arjuna melemparkan handuk yang dipegangnya ke tempat tidur, lalu meninggalkan kamar Aya.


"Mengundang? Dalam mimpimu!" cibir Aya dengan suara lirih. Setelah yakin Arjuna tidak kembali, barulah dia menjangkau handuk dan mengeringkan tubuh yang sudah setengah kering.

__ADS_1


"Aku bisa masuk angin nih," batinnya.


*


*


Aya turun ke lantai bawah. Dia tak mendengar suara Arjuna dari kamar sebelah, saat lewat tadi. Seorang pelayan wanita tua menunggunya di bawah tangga.


"Saya sudah menyiapkan sarapan, Nyonya," ujarnya.


Aya mengangguk. Dia memang sudah lapar. "Di mana dia?" tanyanya sambil mengikuti langkah pelayan itu.


"Dia siapa, Nyonya?" tanyanya tak mengerti.


"Arjuna!" kata Aya.


"Tuan sudah pergi sejak tadi, Nyonya. Dia bahkan melewatkan sarapannya," jelas pelayan itu.


"Jadi benar dia sibuk hari ini. Baguslah!" gumam Aya sendiri.


"Apa, Nyonya? Saya tidak dengar." Pelayan itu bertanya lagi sambil membuka penutup mangkuk, agar Aya bisa memilih sarapan yang dia mau.


Aya hanya mengambil dua helai roti tawar dan mengolesinya dengan krim keju dari mangkuk. Kemudian jus jeruk dituangkan ke gelas di hadapannya. "Terima kasih," angguk Aya pada pelayan wanita itu. Tampaknya dia sudah sangat terampil mengurus rumah dan mengikuti selera Arjuna.


"Bukankah dia bisa membeli sarapan sendiri?" Gayatri merasa enggan bertemu lagi dengan pria itu.


"Tuan itu sangat pemilih soal makanan. Dia jarang makan di luar kalau bukan makanan yang sudah dicoba dan dia sukai," jelas pelayan itu.


"Oh, baiklah. Siapkan saja." angguk Gayatri. Pelayan itu pergi ke dalam, meninggalkan Aya sarapan sendirian.


Beberapa waktu kemudian Aya keluar dari rumah. Seorang pria mendekat dan membuka pintu mobil berwarna putih yang ada di halaman. "Mulai sekarang, saya akan menjadi sopir anda, Nyonya," ujar pria itu ramah dan wajah cerah.


"Oke!" angguk Gayatri. Dia tak peduli ada sopir atau tidak. Dia hanya harus berangkat secepat mungkin agar tidak terlambat tiba di kantor.


Pelayan wanita mengikutinya dari belakang. Saat Aya sudah duduk, tas makanan disodorkan ke arahnya. "Sarapan Tuan, Nyonya," ujarnya sopan.


Aya menyambutnya dan mengangguk. Kemudian mobil itu meluncur pergi. Aya memandang tas kecil berisi makanan itu. "Pelayan yang penuh perhatian," batinnya.


"Kita ke kantor Tuan lebih dulu!" kata Aya pada sopir.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Sopir menyahuti tanpa menoleh. Pandangannya tetap lurus ke jalanan di depan.


*


*


"Kita akan keluar malam ini!"


Aya membaca pesan Arjuna di ponsel, tak lama setelah sampai di kantor. Dia tak menggubrisnya sama sekali. Perhatiannya justru tertuju pada beberapa kertas post-it yang ditempelkan di layar komputernya.


"Kau membawa penyakit ke kantor ini. Tak cukup bagimu seseorang dipecat. Masih juga harus terancam penjara!"


"Enyah kau dari sini!"


"Orang sombong sepertimu harusnya tinggal di Mars!"


Aya termangu melihat nada kebencian yang ditunjukkan dalam helai-helai kertas catatan itu. "Apa salahku? Mereka yang berbuat jahatlah yang harus dihukum!" gerutunya kesal. Dia makin merasa tak nyaman bekerja di tempat itu.


Di lihatnya ruangan kepala divisi yang tertutup rapat. Dia tak melihat bayangan Desta di ruangan itu. "Apa dia dipanggil direktur lagi?"


Aya sedikit cemas, karena ingat kemarin Arjuna juga meminta direktur menjatuhkan hukuman pada Desta sebagai bentuk pertanggung jawaban karena tak bisa mengatur bawahannya dengan baik.


Setelah mencopoti semua kertas yang ditempelkan di layar komputer, Aya berusaha berkonsentrasi untuk bekerja. Dia baru saja menyalakan komputer saat ponselnya berbunyi.


Panggilan masuk dari Arjuna. "Ya!" sahutnya ketus.


"Kau harus belajar lebih sopan dan lembut sedikit. Aku belum berkata apapun tapi suaramu itu bisa meruntuhkan gedung!" tegur Arjuna. Namun, nadanya biasa saja. Artinya, hati pria itu sedang bagus. Dia tak terpancing marah dengan sikap Gayatri.


"Kau menggangguku pagi-pagi!" balas Gayatri tak senang.


"Itu karena kau tidak membalas pesanku! Kukira kau pingsan atau tidur di kantormu yang jelek itu!" ejek Arjuna.


"Aku baru saja sampai. Masih banyak yang harus dibereskan di mejaku ketimbang membalas pesan tak penting!" kata Aya sengit. Dia sedang sangat kesal, dan menemukan tempat menumpahkan semua kekesalannya pada Arjuna.


"Oke ... Oke. Jadi sekarang apa jawabanmu?" desak pria itu tak peduli dengan situasi rumit Gayatri.


"Aku tidak tertarik!" jawab Aya cepat.


"Pesanku bukan tawaran, Nyonya. Kau hanya bisa bilang iya! Aku hanya memberimu pilihan jawaban, dijemput atau datang sendiri!" Arjuna menunjukkan dominasinya.

__ADS_1


"Terserah!" Aya mematikan ponselnya dengan rasa gondok di hati.


*******


__ADS_2