PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
37. Kehilangan Aya


__ADS_3

Karena pulang cepat, Aya memutuskan untuk mampir ke apartemen Dewa. Itu lebih baik dari pada harus menjawab pertanyaan penuh kecurigaan seisi rumah.


Diambilnya pakaian-pakaian Dewa yang dicuci sebelumnya. Sambil menyetrika, pikirannya melamun. "Andai kau tidak pergi begitu cepat, maka semua akan jauh lebih mudah bagiku," lirihnya sendu.


Selesai menyetrika, gadis itu merasa kelelahan. Dia membaringkan tubuh sejenak di atas tempat tidur. Melihat plafon di kamar yang temaram, seperti sedang menonton layar tancap yang menampilkan cerita pendek tentang Dewa.


Pria baik, tidak terlalu humoris memang. Namun celetukannya yang tak terduga, mampu membuat Gayatri sewot dan cemberut. Tetapi Dewa adalah pria yang menepati janji. Demi bisa menikahi Aya, dia memenuhi persyaratan konyol yang diajukan gadis itu.


Sekarang dia harus menghadapi rencana pernikahan dengan Arjuna yang sifatnya bertolak belakang 180 derajat dari Dewa.


"Aku menyesal .... Andai kau bisa kembali ke sini, aku akan menjadi istri yang baik untukmu."


Aya tak dapat membayangkan bagaimana hidupnya jika benar-benar menikahi Arjuna. "Buaya itu bahkan tanpa malu mengundang wanita ke kantor dan berbuat mesum di siang bolong!" teriaknya kesal.


"Apa maumu sebenarnya menjodohkanku dengannya? Kau menyiksaku kalau begini. Apa kau tahu itu!"


Aya merasa sangat lelah dengan tekanan pernikahan dari waktu ke waktu. Air matanya meneteskan semua rasa sakit yang menyesakkan dadanya.


"Kalian hanya menganggapku benda yang bisa dipindah tangan kepemilikan. Kalian kira aku bisa diwariskan pada yang lain semaunya? Aku juga punya hati. Aku ingin masa depan yang lebih baik ketimbang jadi istri di atas kertas oleh seorang pria mata keranjang!"


Tanpa terasa, dia kelelahan dan tertidur dengan pulas di kamar itu. Kepalanya rebah di bantal yang basah oleh air mata.


******


Rumah dilanda kepanikan karena Aya tidak pulang higga pukul sepuluh malam. Papi menelepon Arjuna menanyakan apakah Aya masih tertahan di kantor.

__ADS_1


"Tidak. Dia sudah pulang sejak pukul lima sore tadi!" jawab Arjuna. Dia sendiri juga sedang berada di club malam, berkencan dengan gadis cantik lainnya.


"Ya Tuhan, ke mana dia? Apa dia kecelakaan? Apa mungkin diculik orang? Atau dia kabur lagi?" Papi berkata dengan bingung sebelum menutup telepon.


"Kabur lagi?" batin Arjuna. "Apa karena peristiwa tadi siang, dia kabur agar tak jadi menikah denganku?" pikirnya lagi.


Tak lama pria tampan itu berdiri dan meninggalkan gadis yang melendot manja padanya.


"Mau ke mana lagi? Ini masih sore," tahannya.


"Aku ada urusan!" jawab Arjuna dingin. Dia sama sekali tak peduli dengan pandangan kecewa gadis yang menemaninya itu.


"Makanan dan minumannya akan kubayar. Kau bisa tetap di sini jika mau!" teriak Arjuna menyaingi suara debum musik. Kemudian dia menghilang diantara orang ramai.


"Ke mana aku harus mencarinya?" pikirnya kesal. "Menyusahkan saja!" Berkali-kali Arjuna menelepon Gayatri, tapi tidak mendapat respon apapun. Panggilannya tersambung, namun tidak diangkat.


Arjuna menyetir sambil memperhatikan jalanan, matanya mencari-cari sosok Aya diantara orang-orang yang berlalu lalang.


Sudah setengah jalanan kota disusurinya. Mobilnya berputar-putar tak tentu arah hingga harus mengisi bensin.


Diliriknya jam tangan. Sudah pukul satu lewat dua puluh lima menit. Ini sudah lewat tengah malam. Dia sendiri sudah letih dan mengantuk. Rumahnya berada jauh dari lokasinya sekarang.


"Merepotkan saja. Sekarang aku harus menginap di hotel karenamu!" kesal Arjuna.


Pria itu melajukan mobilnya dari tempat pengisian bahan bakar. Dia mengarahkan mobil ke hotel terdekat untuk beristirahat. Kemudian matanya tertumbuk pada satu bangunan tinggi yang dikenalinya.

__ADS_1


"Ah, kenapa harus ke hotel. Apartemen itu toh sudah tak ditempati." Tangannya mencari-cari sesuatu di laci dashboard. Seulas senyum tersungging saat jarinya menyentuh benda yang dicarinya.


"Syukurlah kunci ini masih ada di sini. Aku bisa ke sana sekarang!" Mobil dibelokkan memasuki halaman kompleks apartemen yang pernah ditunjukkan Dewa padanya.


Langkahnya ringan menyusuri koridor yang dipenuhi pintu-pintu bercat merah. Dari bibirnya keluar suara siulan sumbang. Tapi pria itu tak peduli sama sekali jika ada yang merasa sakit telinga akibat siulan itu.


Ditempelnya kartu kunci kamar Dewa. Kemudian menekan kode yang waktu itu dikatakan Dewa. Tanggal lahir mereka berdua.


Ekspresi lega tampak di wajahnya manakala bunyi pintu terbuka, terdengar. Dibukanya pintu dan memasuki ruangan yang temaram.


Lampu menyala di area dapur dan kamar mandi. Namun mati di tempat lainnya. Jarinya dengan cepat mematikan tombol lampu kamar mandi, kemudian menutupnya. Dilepaskannya sepatu begitu saja dan menyeret tubuh lelahnya ke dalam kamar.


Meski sangat mengantuk, namun matanya masih dapat melihat seseorang sedang bergelung di atas tempat tidur saudaranya. Cahaya bulan yang menerobos lewat jendela kaca besar di kamar itu, menampilkan siluet tubuh wanita.


Arjuna mendekat perlahan dan memperhatikan. "Apa kau punya selingkuhan, Dewa?" pikirnya tak percaya.


Ditelisiknya wajah wanita yang tertidur dengan rambut awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya. Setelah beberapa saat, matanya membelalak tak percaya. Wanita yang membuat kehebohan dan dikira menghilang, ternyata tertidur di apartemen mantan suaminya!


Arjuna sangat ingin membangunkannya dan mengatakan bagaimana cerobohnya dia, telah membuat semua orang sibuk mencari! Namun mata sembab Aya yang secara samar terlihat, membuat tangannya yang hendak mengguncang tubuh gadis itu, terhenti dan melayang di udara.


"Marahnya besok saja. Aku juga sudah capek dan butuh tidur." Arjuna berbalik ke pintu kamar hendak keluar. Namun diputarnya lagi tubuh dan memperhatikan posisi tidur wanita di depannya yang meringkuk sambil menekan lutut ke dada.


"Tak bisakah kau memakai selimut dulu? Apa kau ingin mati kedinginan?" gerutunya dalam hati. Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh Aya perlahan. Setelah itu dia keluar dan menutup pintu kamar.


Kakinya terseok-seok mengarah ke sofa dan menghempaskan diri di sana. Dalam sekejap, dengkuran halus terdengar.

__ADS_1


*******


__ADS_2