
"Kau tak apa-apa, Nduk?" tanya papi lagi.
"Aya enggak kenapa-kenapa kok Pi. Ini Mami yang kenapa-kenapa." Aya menggoyang-goyang lengan mami yang lemas.
"Mami kenapa?" tanyanya takut. Tanpa menjawab, lengan mami menarik kepala Aya dalam pelukannya.
"Nanti Aya saja yang ke tempat Eyang dan minta maaf. Mami jangan sedih lagi," bujuknya tanpa mengerti persoalan yang sedang dihadapi mami serta papinya.
"Yah, kita akan ke tempat eyang sekarang. Dan kalian akan langsung dinikahkan di sana saja. Jadi eyang tidak akan khawatir lagi dengan nasibmu!" Papi membuat keputusan yang membingungkan Aya.
"Siapa yang mau nikah, Pi?" tanyanya dengan wajah masih berada dalam kepitan lengan mami.
"Ya kamu dengan Arjuna!"
"Apa!" sontak Aya melepaskan diri dari kepitan lengan mami. Melihat dengan serius ke arah Papi, takut salah dengar. Namun mata papi tertuju pada kursi di seberangnya.
"Terima kasih, sudah membantu dan bersedia bertanggung jawab."
Aya tak terlalu memperhatikan kata-kata papi berikutnya. Matanya melotot ke arah Arjuna yang duduk dengan sikap santai di kursi tamu rumahnya.
"Kau ... sejak kapan ada di sini?" Aya seperti tidak menemukan pertanyaan yang lebih baik lagi. Otaknya tiba-tiba blank dan bibirnya hanya mengeluarkan pertanyaan tak berbobot sama sekali. Dipukulnya kepalanya sendiri karena kesal.
"Ya sejak tadi. Kan kau sendiri yang tak mau menaiki mobilku setelah kita selesai makan. Karena sudah berencana ke sini, ya aku tetap ke sini dan mengatakan sekali lagi niat baikku. Jika kau menolaknya sekali lagi, maka aku akan menghilang selamanya dari hidupmu!"
__ADS_1
Kecepatan kata-kata yang diucapkan Arjuna hampir secepat sepur tenaga arang. Aya menggelengkan kepala tak peduli. Dia siap untuk melontarkan penolakan lagi, saat papi menyeretnya masuk ke ruangan dalam.
"Apaan sih Pi?" protes Aya.
"Kamu tuh yang apaan. Kau dengar kata-katanya tadi? Sekali lagi kau menolaknya, maka dia akan menghilang dari kehidupanmu!" sergah papi serius.
"Ya biarkan saja dia pergi. Memang itu yang Aya mau!" jawab Aya keras kepala.
"Lalu bagaimana kalau kau hamil akibat hubungan kalian kemarin malam? Apa kau mau membunuh mami dan papimu ini dengan memiliki anak tanpa suami?" Mata papi menatap tajam dan lurus ke manik mata Gayatri. Putrinya yang keras kepala dan sangat sulit untuk dibujuk.
"Jika itu terjadi, papi bisa carikan aku suami. Terserah pria manapun asal bukan pria mata keranjang!" Suara Aya yang nyaris berteriak itu sungguh mengagetkan papi. Tanpa sadar tangannya melayang dan mendarat di pipi Aya.
"Jaga bicaramu! Kau sungguh tidak tahu bagaimana itu pernikahan. Memiliki anak dengan pasangan resmi saja masih mungkin kesulitan, apa lagi mencari sembarang pria untuk menikahimu karena hamil. Bayi itu bisa mati atau kekurangan kasih sayang! Apa itu yang kau inginkan!" Papi menatap Aya dengan mimik tak percaya.
"Karena bencimu pada Arjuna, kau lebih memilih menyakiti anakmu sendiri?" Betapa kejamnya kau!"
"Kali ini semua sudah terlanjur. Bagus dia masih bersedia datang dan bertanggung jawab. Jika dia membiarkanmu kemarin malam, maka masa depanmu hancur dibuat oleh orang-orang yang kau anggap teman dan kau percayai!" kata papi pedas.
"Mandi dan segera berpakaian yang pantas. Kita akan pergi ke tempat Eyang. Kau tak bisa lagi mengelak dari pernikahan ini. Arjuna memang takdirmu! Dan kau harus bisa mengambil pelajaran berharga dari kejadian tadi malam. Percayai orang yang pantas dipercaya. Jauhi yang penuh kepura-puraan!"
Papi meninggalkan Aya setelah memberikan wejangan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak khawatir kalau Aya akan kabur kali ini.
Dan memang benar dugaan tersebut. Aya masih shock mendapat tamparan di pipi. Belum pernah dia melihat papi bersikap ataupun berkata kasar. Tapi hari ini dia sudah mendapatkan peringatan keras pertama dalam sejarah hidupnya.
__ADS_1
"Karena dia, papi jadi marah padaku!" geramnya menahan air mata yang hendak tumpah.
Istri Radit yang sejak tadi mengintip dari pintu kamarnya, membimbing Aya kembali ke kamar. Dia tak berkata sepatah kata pun. Dia sendiri juga shock melihat tangan papi melayang dan berhenti di pipi Gayatri.
"Mau saya bantu bersih-bersih, Mbak?" Ibu muda itu menawarkan bantuan.
Aya menggeleng lesu. Dia masih terdiam dan duduk di tepi tempat tidur.
"Ingat kata-kata papi, Mbak. Jadikan pengalaman sebagai pelajaran yang sangat berharga. Jangan lihat sesuatu dari covernya. Kadang mata kita bisa tertutup oleh sesuatu dan tak bisa melihat kebenaran."
"Sejak kapan kau jadi begitu bijaksana?" tanya Aya.
"Sejak menjadi ibu. Cara pandangku akan sesuatu akhirnya berubah. Yang sebelumnya berfokus pada kepentinganku sendiri, sekarang aku lebih mementingkan anak-anak."
"Jangan lama-lama, nanti papi marah lagi hlo," wanita itu mengingatkan Aya, sebelum meninggalkan kamar.
"Mementingkan orang di sekitar dari pada diri sendiri ...."
Aya mengulang kata-kata adik iparnya itu. Dia juga mengakui bahwa sikapnya memang sangatlah egois, manja dan sering tak masuk akal. Namun kasih sayang mami dan papi yang berlimpah, membuatnya tak merasa bahwa itu suatu kesalahan. Tapi sekarang, adik iparnya sendiri telah mengingatkannya.
"Apa sekarang aku harus lebih memikirkan kebaikan untuk keluarga?" batinnya. Pikirannya terbang pada Eyang yang sampai ngambek dan pulang ke rumah pribadinya karena berbeda pendapat dengan Aya.
Kemudian mami yang terbaring lemah setelah mendengar cerita yang dibawa Arjuna.
__ADS_1
"Aku memang sangat egois dan telah membuat susah semua keluarga. Baiklah, jika kesediaanku bisa membuat mereka bahagia, maka aku akan menjalaninya!" tekadnya dalam hati.
********