PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
82. Kekalahan Robert Giles


__ADS_3

Arjuna tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia terus mengejar dan menendang Robert Giles, sebelum pria itu dapat menguasai diri. Sepatu boot Arjuna yang besar dan tebal itu mendarat di perut Robert. Membuat pria itu mengaduh sambil memeluk perut. Mulutnya mengeluarkan darah segar saat punggungnya menabrak di pilar teras.


Arjuna masih belum puas. Pria yang sudah menyakiti Aya dan membunuh Dewa itu kita jadi bulan-bulanan sepatu Arjuna.


Kengerian itu baru berhenti saat lenguhan Robert tak terdengar lagi. "Sampah!" cercanya sambil melayangkan kaki sekali lagi. Suara tulang rusuk yang patah, membuat bulu roma berdiri.


"Apa kau kira aku tak bisa gila sepertimu Heh!" Arjuna masih melayangkan kakinya lagi ke kaki Robert. Kembali suara tulang patah, terdengar.


"Bos! Apa tidak sebaiknya kita cari tahu keadaan detektif swasta itu?" Seorang bawahannya memberi ide, untuk mengalihkan pikiran Arjuna dari menyiksa Robert.


Arjuna akhirnya benar-benar berhenti menendang. "Ikat dia dengan kuar, tanpa ada kesempatan lepas!" perintahnya.


"Baik, Bos!" anak buahnya segera maju untuk membereskan Robert Giles.


"Kau yang bernama Hendra, kan. Kalau masih mau hidup, tunjukkan padaku di mana kalian semunyikan Dicky!" ancam Arjuna.


"Di lantai atas. Dia ada di lantai atas!" tunjuk Hendra ke arah tangga di tengah ruang.


Arjuna langsung lari menuju tangga dan melompati sekaligus dua anak tangga agar bisa sampai lebih cepat.


Hendra didorong untuk mengikuti dan menunjukkan di mana DIcky.


Pria itu kemudian membuka sebuah pintu. yang tertutup rapat. Saat dibuka dari luar, uap hangat menyerbu keluar.


"Kalian bermaksud membunuhnya di sauna? Biadap!" Arjuna meninju perut Hendra, satu-satunya komplotan Robert yang tersisa.


Pria tambun itu ambruk dengan cepat. Sepertinya dia bukanlah ahli bela diri. Namun, tetap saja tak ada beda. Apapun posisinya dalam kelompok Robert, dia sama bersalahnya seperti pria itu.


Seorang bawahan Arjuna yang lain, membawa Dicky keluar dari Sauna. Pria itu pingsan di dalam sana. Mereka segera melakukan pertolongan pertama untuk membuatnya sadar.


"Kau bawa dia ke dokter. Selamatkan nyawanya!" perintah Arjuna.


"Baik!" Dua bawahannya segera pergi sambil menggotong Dicky ke lantai bawah.


"Ikat dia dan masukkan saja ke sauna!" ketus Arjuna. DIa melangkah pergi.


"Kalian bawa semua penjaga itu ke sini!" Anak buahnya langsung bergerak memindahkan semua pria yang mereka kalahkan sebelumnya. Kemudian diikat jadi satu di tengah ruangan.


"Sudah, Bos."


"Siapkan hadiahnya, kemudian kita pergi dari sini!" perintah Arjuna. Dia melangkah menuju mobilnya. Sopirnya juga menyusul.


Mereka menunggu seluruh anggota geng selesai melakukan perintah, baru pergi dari sana.

__ADS_1


******


Acara televisi pagi itu diisi dengan Breaking News, ketika pukul tujuh pagi, di bawah guyuran hujan deras, sebuah bangunan misterius meledak dan terbakar hebat di tengah hutan lindung.


"Mengerikan!" komentar Bu Ajeng saat menonton televisi.


"Dugaan sementara adalah kebocoran gas, kemudian sambaran petir, membuat lidah api dan meledakkan tempat itu!" Pak Sangaji menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Di mana Arjuna?" tanya Bu Ajeng.


"Aku di sini, Bu. Maaf jika membuat kalian menunggu. Ada banyak pekerjaan yang harus kebereskan tadi malam."


Arjuna datang ke meja makan dengan pakaian santai. Dia ingin bersantai hari minggu ini. Hari santainya yang mendadak hilang sejak kematian Dewa.


"Bapak menonton apa? Apa ada cara menarik pagi ini?" tanyanya sambil lalu, sambil mengoles roti.


"Tidak banyak yang menarik. Hanya ada satu ledakan yang menghancurkan rumah akibat lalai mematikan gas saat bepergian. Tckk ... sayang sekali," jawab Pak Sangaji.


"Oh ... orang-orang ceroboh makin banyak belakangan ini," komentar Arjuna sambil mengunyah sarapannya.


"Kau benar." Bu Ajeng mengangguk. "Tak banyak yang bertanggung jawab sepertimu dan Dewa," pujinya.


"Bagaimana dengan istriku?" tanya Arjuna. Dia belum melihat Aya pagi ini.


"Dia sudah bangun dan mandi. Tadi sedang disuapi makan," kata Bu Ajeng.


"Lihat, Pi. Sepertinya dia makin menyayangi putrimu!" bisik Bu Ajeng pada suaminya.


""Itulah hikmah dibalik musibah. Mendekatkan yang sebelumnya tidak cinta," Senyum Pak Sangaji.


"Hai, apakah kami mengganggu kemesraan papi dan mami?"


Radit muncul membawa anak dan istrinya. Mereka ingin melihat Aya yang menurut mami sudah semakin sehat dan mulai bisa diajak bicara.


"Wah, cucu kesayangan Yang Uti datang. Sini!" panggilnya pada gadis cilik yang digendong Radit.


"Biar mereka melihat Aya dulu di atas," tegur Pak Sangaji.


"Iya, kami mau lihat Mbak Aya," sambung istri Radit yang tengah berbadan dua.


Di kamar, Arjuna menyisiri rambut Aya, sementara perawat memberi susu lewat selang untuk bayinya.


"Kau terlihat segar dan cantik pagi ini," puji Arjuna.

__ADS_1


"Bu Aya pagi-pagi minta mandi," jawab perawat itu.


"Bagus sekali. Bukankah mandi jauh lebih segar ketimbang hanya dilap, Sayang."


Arjuna memancing obrolan dengan Aya. Namun, istrinya masih saja diam. Hanya saja, sekarang ada kemajuan. Biasanya sorot mata Aya kadang tajam, kadang ketakutan. Sekarang tidak lagi. Dia sudah melihat dengan tatapan lembut. Terutama ke arah boks bayi.


"Kau ingin melihat putra kita?" bisik Arjuna lembut.


"Itu bayi Arjuna?" tanyanya lirih.


"Iya. Tentu saja itu bayiku. Bayimu juga." Arjuna menunjuk perut Aya yang dililit kain panjang oleh ibu mertuanya.


"Bayiku ...." lirihnya tersenyum tipis.


"Bayi kita." Arjuna memeluk Aya dari belakang. Ingin membagi kehangatannya pada wanita itu, berharap Aya segera menyadari semua hal di rumah itu.


Suatu kemajuan bahwa Aya bahkan tidak menolak pelukannya. Membuat Arjuna menangis di dalam hatinya.


"Apakah kami megganggu kemesraan kalian?" goda Radit di depan pintu.


"Bude ...!" Putri Radit langsung mengulurkan tangan ke arah Aya, minta dipeluk dan gendong.


Panggilan itu langsung mengalihkan pandangan Aya padanya. Senyumnya langsung merekah. Tangannya otomatis mengulur lebar, menyambut pelukan keponakannya.


"Bude ke mana aja?" Gadis kecil itu menangis di pelukannya. Memeluknya erat, takut berpisah lagi.


"Bude enggak ke mana-mana," hiburnya dengan ekspresi berubah.


Sambil memeluk keponakannya, dilihatnya seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruangan yang segera dikenalinya sebagai kamarnya di rumah Arjuna.


Suara tangisan bayi yang terbangun akibat mendengar kebisingan, kembali mengalihkan pandangan Aya. Dia menatap box bayi dengan bingung.


"Ada apa, Nduk?" Mami maju selangkah setelah menyadari kebingungan Aya.


"Itu bayi siapa, Mi?" tunjuk Aya ke arah box bayi. Dia merasa sangat gelisah.


"Itu bayimu. Apa kau lupa kalau beberapa hari yang lalu sudah melahirkan?"


Melihat Aya masih bingung, Mami menyingkap bawah dasternya dan menunjukkan kemben yang melilit perutnya. "Lihat ini!" tunjuk mami.


Aya menyentuh dadanya, Mami mengangguk. "Apakah sakit? Sebentar kita pompa, biar bayimu tetap dapat asi." Mami menjelaskan dengan lemah lembut.


"Bayiku!" Aya turun dari tempat tidur dan melangkah ke box bayi khusus itu.

__ADS_1


"Dia kenapa?" kecemasan kembali muncul di matanya.


********


__ADS_2