
Arjuna dan Dicky telah berganti pakaian dengan pakaian yang mereka temukan di ruang ganti. Keduanya lantas membuka pintu ruang persalinan dengan santai, seperti halnya petugas medis lain.
Namun, keadaan di dalam tidak semudah yang terlihat. Para medis lain masih sibuk dan terus mondar-mandir. Mereka harus berkali-kali menghindar, agar tidak berpapasan dengan salah satunya, yang bisa berujung kecurigaan.
Setelah beberapa kali menghindari petugas medis yang lalu lalang, sekarang mereka berdua terjebak di dalam ruang tempat kain-kain kotor. Seprei dan kain lain yang penuh darah, tertumpuk di sana. Benar-benar noda darah yang sangat banyak, hingga Arjuna merasa mual.
Dicky membuka pintu ruangan kain kotor itu sedikit, untuk mengintip keadaan di luar. Diperhatikannya, beberapa orang petugas medis telihat bolak-balik ke luar masuk satu ruangan tertutup.
Dicky menebak, itu adalah ruang operasi persalinan. Namun, tak terdengar suara jeritan atau apapun, seperti ruangan persalinan yang lain yang ramai.
"Jika Gayatri yang ditunggui pria itu sedang dioperasi, maka artinya dia ada di balik pintu itu!" Tunjuk Dicky ke ruangan di seberang.
Arjuna mengintip pintu di seberang, dari celah kecil yang dibuat Dicky.
"Aku harus lihat dulu, baru yakin dia istriku atau bukan," kata Arjuna.
"Jika itu istri Anda, bagaimana?" tanya Dicky.
"Ya harus kubawa pergi, agar tidak dilarikan orang-orang itu lagi!" tegas Arjuna.
"Baik! Kita cari cara untuk melihatnya," kata Dicky. Pria itu memejamkan mata dan berpikir keras. Kemudian memperhatikan ruangan tempat mereka bersembunyi.
"Mbak Dar, tolong ambilkan seprei bersih untuk bed nomor empat!" terdengar perintah seseorang.
"Oke!" jawab satu suara yang berasal dari balik pintu.
Arjuna dan Dicky terkejut. Penguasa ruangan itu ternyata sudah kembali. Mereka bisa ketahuan di situ.
"Ayo!" Dicky berpikir cepat dan menarik tangan Arjuna. Dibukanya pintu lemari bagian bawah dan mendorong Arjuna masuk ke sana, kemudian menutupnya lagi.
Sementara Dicky membuka pintu lemari sebelahnya dan masuk untuk bersembunyi.
Kedua pria itu meringkuk di dalamlemari sempit. Hanya sedikit cahaya serta udara yang masuk dari celah-celah ukiran pintu.
Kaki seorang wanita berjalan hingga ke depan lemari kecil itu. Wanita tu berdiri cukup lama untuk melakukan sesuatu, sebelum pergi lagi.
Arjuna baru mau keluar, saat dia mendengar suara gagang pintu dibuka. Dengan cepat dia masuk lagi ke dalam lemari dan menunggu.
__ADS_1
Petugas kebersihan wanita itu seperti sedang membereskan kekacaan yang ada di sana. Lalu sebuah dorongan dibawa masuk. Semua kain kotor dimasukkan ke dalamnya dan dibawanya pergi. Pintu kembali ditutup.
Dicky langsung keluar. Pria itu menghirup udara segar, seperti orang yang sedang tercekik.
"Kau kenapa? Apa tak ada lubang udara di lemarimu?" tanya Arjuna.
"Bukan itu. Tapi di sana ada banyak bahan kimia yang baunya membuatku pening," jawab Dicky.
"Oke. Sekarang apa rencanamu? Jangan menunggu pemilik ruangan ini kembali," Arjuna mengingatkan.
Dicky melihat berkeliling. Matanya terpaut pada pakaian petugas ruangan yang berwarna berbeda dengan petugas medis.
"Aku akan memakai ini dan memeriksa di luar. Anda tunggu saja di sini, dulu."
Dicky langsung melakukan rencananya, tanpa menunggu persetujuan Arjuna.
Sekarang dia sudah siap untuk melakukan pengintaian dari jarak dekat. "Tunggu di sini. Aku akan memeriksa di bagian luar dulu. Jangan ke mana-mana!" pesan Dicky
"Kau tahu seperti apa istriku?" tanya Arjuna.
"Ya. Saya mengenalnya dari Pak Dewa," jawabnya lugas.
Dicky membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati, sebelum keluar dengan ember pel di tangan. Lalu pintu kembali ditutup rapat.
Di dalam ruangan, Arjuna berpikir, mencari akal untuk bisa masuk ke ruangan operasi. Dia harus memastikan itu Aya istrinya atau bukan.
Matanya yang mengintip di celah kecil daun pintu, membesar. Senyumnya terkembang.Seperti sedang dibantu Tuhan. Seorang petugas medis keluar dari ruangan dan pergi ke toilet buru-buru.
Dia memperkirakan bahwa pria itu sedang sakit perut dan akan sedikit lebih lama di dalam toilet.
Setelah memakai masker, kakinya melangkah dengan yakin menuju pintu ruang operasi. Pintu itu terbuka otomatis tanpa disentuh. Jadi Arjuna terpaksa langsung masuk, agar tidak dicurigai.
Matanya tertuju pada satu bed yang diletakkan di dekat dinding. Wanita itu tampaknya masih dalam pengaruh obat bius. Dia sama sekali tidak membuka mata.
Arjuna memeluknya dengan terharu. "Aya ...." lirihnya. Dilihatnya keadaan istrinya yang sangat memprihatinkan. Hatinya langsung murka. Dengan tangan gemetar, diambilnya ponsel dan menelepon polisi.
"Saya sudah menemukan istri saya. Tapi penculiknya ada di sini. Jadi, apa bapak polisi bisa meringkus mereka? Atau perlu saya lagi yang melakukannya!"
__ADS_1
Setiap kata yang dilontarkan Arjuna, penuh penekanan dan sedang sangat berusaha untuk sabar.
"Di mana posisi Bapak?" tanya polisi dari seberang,
"Di rumah sakit X lantai tujuh. Cepat ke sini, sebelum kesabaran saya habis dan menghajar mereka!" ancam Arjuna.
"Hei!" suara seseorang menegur dan menarik tubuh Arjuna dari memeluk Gayatri.
"Anda siapa? Jangan sembarangan memeluk pasien!" mata orang itu berkilat marah. Anda harus menjawab pertanyaan security!" katanya sambil membuka pintu ke luar ruangan.
Arjuna bergerak cepat dan kembali menarik dokter wanita itu masuk, kemudian mendesaknya ke dinding hingga tak berkutik.
"Dia istri saya yang diculik oleh penjahat di luar sana. Orang yang membawanya ke sini dan mengaku sebagai keluarga pasien!" desis Arjuna menahan diri, untuk tidak berkata kasar di depan dokter itu.
"Bagaimana saya bisa percaya? Bisa saja Anda yang ingin menculik ibu ini!" Dokter wanita itu berargumen.
"Saya sudah memanggil polisi untuk meringkus mereka yang ada di luar sana. Jadi, tunggu beberapa saat dan lindungi istri saya. Jagan katakan jika dia sudah selesai di sini!"
Arjuna menatap dokter itu lekat-lekat, tepat di matanya, agar sang dokter dapat melihat kejujuran dalam sinar matanya.
Melihat dokter itu masih tidak mempercayainya, Arjuna melunak. "Saya akan lepaskan Anda, asal jangan berteriak. Tetaplah di situ dan jaga Aya. Namun, jangan katakan dulu bahwa dia sudah selesai pada orang-orang di luar sana. Bisakah kita bekerja sama?" tanya Arjuna dengan suara rendah.
Dokter itu mengangguk setuju. Arjuna benar-benar melepaskan cekalan tangannya. "Maaf jika menyakiti Anda," ujar Arjuna sopan.
"Tunggu hingga polisi datang, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Saya tidak akan membawanya pergi, sampai polisi datang. Begitu juga penculik di luar sana. Mereka tidak boleh masuk dan mengambil Aya sebelum polisi datang dan meringkus para bajingan licik itu!" geram Arjuna.
"Tapi ... tapi, ada dokter lain yang sudah keluar lebih dulu. Dokter Satrio mungkin sudah mengabarkan selesainya operasi ini pada keluarga pasien di luar," jawab dokter wanita itu.
"Apa!" Arjuna terkejut.
"Sial!" dengan cepat dia membuka pintu ruangan operasi dan mencari-cari Dicky. Dilihatnya pria itu masih asik melihat sekeliling sambil pura-pura mengepel lantai.
"Dicky!" panggilnya dengan suara sedikit keras. Dan itu berhasil.
Dicky yang terkejut melihat Arjuna muncul dari ruang operasi, datang mendekat.
"Apa Anda sudah menemukan istri Anda, Bos?" tanya Dicky begitu masuk ruangan.
__ADS_1
Dicky dan dokter wanita itu sama-sama terkejut saat bertemu.
********