
Semua menatap pintu ruang persalinan dengan tegang. Pintu itu digedor-gedor dari luar. Bunyinya yang keras tak dapat lagi disembunyikan dari para pasien yang menjadi gelisah dan khawatir.
Gedoran tak kalah kuat, juga terdengar dari pintu toilet. Dokter Satrio tidak menyerah untuk menggedor pintu dimana dia dikunci.
"Buka saja pintu toilet itu!" perintah Dokter Reina tak sabar.
Seorang perawat dengan cepat menuju toilet. "Tapi, Dok ...." Arjuna sedikit keberatan. Dia tak mau menambah masalah jika ada orang baru lagi yang mungkin tidak akan bersedia bekerja sama untuk melindungi Gayatri.
"Apa yang kalian lakukan!" bentak Dokter Satrio pada perawat. Dia jelas sangat marah karena merasa itu sebuah kesengajaan.
"Biar saya jelaskan!" Dokter Reina mengambil alih persoalan, agar tidak terjadi keributan yang lebih panjang.
"Apa kau yang sengaja mengunciku? Jika ingin bersaing, tidak begini caranya!" kecam dokter itu sewot.
Dokter Reina menggeleng. Dia ingin menjelaskan, tapi DOkter Satrio mengalihkan kemarahannya pada keributan di balik pintu ruangan persalinan.
"Apa yang kalian lakukan! Bikin keributan di rumah sakit! Apa kalian tidak berpendidikan!" teriaknya jengkel, untuk meluapkan amarah.
Akan tetapi, Arjuna sigap berlari, mencegah dokter itu untuk membuka pintu masuk yang terkunci. "Ini tak boleh dibuka sekarang!"
"Siapa kau! Tidak boleh ada pria selain dokter dan perawat yang masuk ke sini!"
Dokter Satrio mulai menyadari kehadiran Arjuna di ruangan itu. Dia menoleh pada Dokter Reina, meminta penjelasan.
"Duduk dulu, Dok. Jangan emosi. Nanti tensi anda naik," ujar perawat menenangkan.
"Saya akan jelaskan, jika Anda sudah tenang. Sementara itu, pintu masuk tak boleh dibuka oleh siapapun!" kata Dokter Reina tegas.
Dengan muka masam, Dokter Satrio mengikuti Dokter Reina menuju ruang operasi. Arjuna mengikuti mereka dari belakang.
"Jadi, seperti itu, kejadiannya, Dok," ujar Dokter Reina setelah menjelaskan panjang lebar masalah yang sedang mereka hadapi.
__ADS_1
"Dan kau percaya begitu saja?" Pertanyaan itu ditujukan pada Dokter Reina tapi matanya menatap tajam pada Arjuna. Seperti sedang menilai, apakah pria di depannya itu benar-benar suami dari pasien yang baru mereka operasi.
"Ahh ...." Ketiga orang itu menoleh terkejut pada Gayatri yang mulai siuman. Dia merintih kesakitan di brankar yang jauh dari nyaman.
"Sayang, kau sudah sadar?" Arjuna terlompat kata begitu saja, Dia sendiri tidak menyadari, kapan dia mulai merasa sayang pada Aya. Tapi sungguh, wajahnya berseri-seri sekarang.
Dengan cepat dia menelepon ayah mertuanya. Dan telepon itu dengan segera tersambung. Arjuna yakin, itu satu-satunya yang dirindukan istrinya.
"Pak, Aya sudah sadar!" kata Arjuna gembira.
"Benarkah? Biar Bapak lihat dia," ujar Pak Sangaji.
"Nduk, apa kamu bisa dengar suara papi?" tanya orang tua itu lembut.
Namun, sesaat kemudian teriakannya menggelegar. "Radit! Panggil mami! Ini mbakmu sudah sadar! Cepat! Dia pasti ingin dengar suara mami!"
"Mbak Aya udah sadar?" terdengar suara menyahuti.
"Kau dengar, Nduk? Sebentar lagi mamimu yang cerewet akan mulai mengomel. Kau sabar ya. Mami hanya rindu dan khawatir padamu!" kata Pak Sangaji.
Arjuna menunjukkan gambar di ponsel pada Aya sambil tersenyum lega. Aya memandangi sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
"Anda lihat, Dok? Mereka lah keluarga pasien ini, bukan yang membawanya ke sini. Kita juga tidak tahu pasti, apakah Nyonya Gayatri benar melakukan percobaan bunuh diri, atau mereka menyiksanya hingga seperti itu." Dokter Reina berbisik pada Dokter Satrio dari dekat pintu ruang operasi.
"Jadi, masalahnya sekarang, kita tak bisa membawa mereka keluar?" tanya DOkter Satrio.
Dokter Reina mengangguk. "Tadi kami mencoba membuka pintu akses yang lama. Tapi sepertinya terkunci. Jadi pintu keluar kita hanya yang disana itu!" jelas Dokter Reina lagi.
"Biar kuhubungi Paman," katanya seraya mengambil ponsel.
Dokter Reina tersenyum. Secercah harapan muncul. Paman Dokter Satrio adalah kepala rumah sakit itu.
__ADS_1
*
*
"Nduk, mami kangen, Segera lah sehat biar kita bisa berkumpul lagi. Kami semua khawatir padamu. Terutama suamimu. Dia menyewa banyak detektif untuk mencarimu, berbulan-bulan." Bu Ajeng menumpahkan perasaannya. Sambil bicara, matanya terus saja basah.
"Arjuna, terima kasih sudah menemukan Aya kembali. Kami sangat menghargai kerja kerasmu!" kata ibu mertuanya dengan suara tercekat tangis.
"Ibu tak perlu mengatakan hal seperti itu. Aya kan istriku. Jadi memang tanggung jawabku untuk mencarinya," balas Arjuna haru. Dikecupnya Aya yang hanya terbengong di sebelah.
"Apakah operasimu itu sangat menyakitkan?" tanya mami. Wanita yang jadi terlihat tua sejak ditinggal Aya, terlihat khawatir, karena respon Aya diluar harapannya. Putri kesayangannya hanya menatap dengan pandangan kosong.
"Kalian siapa?" kalimat yang dilontarkan Aya, benar-benar mengejutkan semua orang. Arjuna bahkan hampir menjatuhkan ponsel yang sedang dipegangnya.
"Aya!" seru Arjuna kaget.
"Nduk! Apakah para penculik itu menyiksamu selama ini?" tanya papi sembari memeluk mami yang sudah menangis kencang.
"Mbak Aya! Masa Mbak lupa sama aku yang sangat tampan ini? Aku Radit, adik kesayangan Mbak!" Radit berpikir cepat, untuk membuat Aya mengenali salah seorang dari mereka.
Aya hanya memandang wajah pria muda di depannya tanpa ekspresi.
Dokter Reina dan Dokter Satrio saling pandang melihat perkembangan yang tak terduga di depan mereka.
Arjuna memeluk Aya, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. "Tak apa jika kau tidak mengingat kami. Asal kami mengingatmu. Maka semua akan baik-baik saja. Kau akan pulih lagi nanti. Aku janji akan cari dokter terbaik untuk merawat traumamu. Maafkan aku yang tak berguna ini."
Arjuna mempererat pelukannya. Dia baru melepaskan saat mendengar istrinya merintih kesakitan. "Maafkan aku," sesalnya sambil menyeka air mata yang bergulir.
"Jadi, apakah penculik itu sudah ditangkap?" tanya papi.
Arjuna menggeleng. "Nanti saya kabari lagi, Pak."
__ADS_1
********