
Usai melapor di kantor polisi yang ternyata sangat memakan waktu, Arjuna berinisiatif mengantar Aya pulang.
"Aku akan menikahimu hari ini juga!"
Aya menoleh cepat dengan mata melotot ke arah pria narsis di sebelahnya.
"Kau kira menikah itu seperti pergi ke restoran? Bisa mendadak?" sergah gadis itu tak senang.
"Aku sedang baik hati. Bagaimana kalau kau hamil, lalu aku sudah berubah pikiran?" tanyanya santai.
"Jika itu yang terjadi, maka aku akan minta papi mencarikan suami bayaran. Itu lebih baik ketimbang menikah dengan buaya buntung seperti kamu!" balas Aya emosi.
Tak menyangka mendapat penolakan dari Aya, wajah Arjuna memerah menahan marah.
"Segitu bencinya kau padaku? Sampai jika hamil anakku kau tetap tak ingin menikah denganku?" Arjuna tak percaya.
"Ya! Segitu bencinya aku pada pria mesum yang hobby kelayapan di hotel!" balas Aya muak.
"Hei! Bukankah kau yang kelayapan di hotel dengan sembarangan pria!" balas Arjuna telak.
"Jika aku tak di sana, mungkin semua teman priamu akan bergiliran mencicipimu malam itu!" ujarnya sadis.
Mendengar penuturan Arjuna, punggung Aya bergidik ngeri. Dia tak pernah membayangkan akan sesial itu. "A-apa-kah K-kau per-nah be-gi-tu?" gagap Aya dengan tatapan ngeri.
Arjuna menggeleng dengan mata tetap fokus pada jalan. "Aku tak sebejat itu. Semua wanita itu sukarela menjatuhkan diri dalam pelukanku!" ujarnya percaya diri.
"Dasar mesum!" umpat Aya. Dia membuang pandangan ke luar jendela mobil. Sore itu jalanan sangat ramai. Kemudian bunyi memalukan terdengar dari perutnya.
"Gengsi membuatmu menahankan rasa lapar!" ejek Arjuna dengan wajah sinis. Namun kemudian mobil berbelok ke arah depan sebuah restoran yang ada di pinggir jalan.
Aya ingin protes, tapi nyanyian dari cacing-cacing di perutnya, memaksanya diam.
Arjuna menghentikan mobil dan tanpa mengatakan apapun, keluar dari mobil meninggalkan Gayatri yang sedang perang batin antara rasa gengsi dengan rasa lapar.
Tepat, sebelum Arjuna mengunci pintu mobil dengan remote, Aya membukanya. Kemudian keluar dengan tenang dan mempertahankan harga dirinya yang tersisa.
Seulas senyum tipis sempat muncul di wajah Arjuna. Tapi hanya sekejap. Setelah itu pandangannya kembali cuek dan dingin. Dia mengabaikan Aya yang berusaha melangkah dengan anggun di depannya.
__ADS_1
"Aku tak terlalu menyukai kepalsuan. Dan kau sangat palsu!" ketus pria itu saat berjalan melewati Gayatri.
"Aku tidak palsu. Aku sangat asli!" bantah Aya sambil menekan-nekan pipinya, mengira Arjuna menuduhnya berwajah palsu akibat operasi plastik.
Namun pria itu tak menggubris pembelaan diri Gayatri. Dia terus berjalan mengikuti pelayan yang membawa keduanya menuju meja seperti yang diinginkan Arjuna.
Aya segera memeriksa menu saat kertas itu disodorkan padanya. Setelah pelayan pergi untuk mempersiapkan pesanan, suasana canggung kembali muncul di antara kedua orang berlainan jenis itu. Akhirnya Aya membuang pandangan ke arah taman asri di sisi jendela.
Arjuna juga tak berminat untuk memulai pembicaraan. Dia sibuk memeriksa ponselnya. Kemudian menelepon Luna. Memberi tahu sekretaris itu bahwa dia terhalang datang ke kantor hingga sore hari.
"Kau sudah memonopoliku satu malam penuh. Sekarang juga mulai menguasai siang hariku!" dengus Arjuna dengan wajah bersungut jelek.
"Apakah para wanita yang menggilaimu itu tahu bahwa kau sebenarnya jelek?" tanya Aya mengganti topik pembicaraan.
"Jadi menurutmu Dewa tampan dan aku jelek? Kurasa, bahkan dokter spesialis mata terbaik pun, tak akan dapat memperbaiki kerusakan matamu!" Arjuna tertawa mengejek.
Wajah Aya kembali memerah menahan dongkol. "Perbedaan kita seperti bumi dan langit. Tak mungkin menyatukannya dalam pernikahan. Jadi lupakan saja obsesimu itu!" katanya pedas, membalas ejekan pria itu.
"Kenapa kau tak mau menikah denganku?" Kali ini sikap Arjuna serius. Tak ada senyum mengejek di wajahnya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke dekat meja. Menandakan dia ingin jawaban jujur gadis itu.
"Aku tidak pernah mesum!" Arjuna menolak gelar yang ditempelkan Aya padanya.
"Gadis-gadis itu yang megejarku seperti laron merubung sinar lampu!" katanya percaya diri.
"Narsis! Tak tahu malu!" timpal Aya muak. Arjuna tak membalas ucapan Aya karena pelayan datang menghidangkan makanan yang mereka pesan.
"Mungkin makanan dapat merubah sikap kasarmu jadi lebih lembut nanti!" celetuk Arjuna cuek.
Aya melotot gemas padanya. Tapi sangat tidak sopan jika dia bertengkar di depan pelayan yang sedang menyajikan makanan.
Dalam diam, keduanya menikmati makan siang mereka yang tertunda begitu lama. Sampai kemudian, suapan Aya terhenti. Matanya membesar melihat ke layar tivi. Berita sore itu adalah berita penangkapan orang-orang yang tadi pagi dilaporkannya ke polisi.
Aruna ikut berpaling melihat ke arah tivi yang berada di belakangnya. "Kuharap wajah kita tidak mereka tampilkan!" desisnya tak senang.
Tanpa sadar Aya mengangguk setuju dengan kata-kata Arjuna. Akan sungguh memalukan jika wajahnya terpampang dan dikenali para tetangganya yang tak ubahnya perangkat cctv canggih.
"Polisi bergerak cepat," gumam Aya.
__ADS_1
"Tentu saja!" Arjuna tersenyum bangga, seakan ingin mengatakan bahwa hal itu karena dirinya.
Aya malingkan muka, agar tak perlu melihat ekspresi sombong di wajah yang menyebalkan itu. "Aku akan pulang lebih dulu, kalau kau masih menikmati acara tivi itu."
Ucapan Aya membuat Arjuna segera memanggil pelayan resto untuk menghitung makan mereka berdua.
Aya bergerak dengan cepat meninggalkan Arjuna. Diengaja melakukannya, karena dia tahu pria itu akan sedikit tertahan dengan urusan pelayan dan pembayaran.
Dia masih berdiri di pinggir jalan saat mobil Arjuna melintas dengan angkuh di depannya. Pria itu tak menghentikan mobil agar Aya dapat naik. Dia menatap lurus jalanan yang mulai macet. Kemudian berlalu dari sana tanpa menyapa Aya lagi.
Tinggal Aya yang membuang muka dan mencari-cari taksi agar bisa segera pulang.
*
*
Keletihan membuatnya tak memperhatikan sebuah mobil yang diparkir di luar pagar rumahnya.
Dia berjalan pelan dan baru saja melewati ruang jaga security di dekat pintu pagar, saat mendengar jeritan mami dari dalam rumah.
"Mami!" teriaknya panik. Seperti ada tambahan tenaga baru, gadis itu melompat gesit seperti kijang yang lari dari bidikan pemburu.
Gayatri menerobos masuk ke ruang tamu dan melihat mami yang terkulai dalam pelukan papi. "Mami kenapa?" tanyanya panik.
Tak diduga, papi terkejut melihat kemunculan Aya yang seperti hantu. Lalu tangannya yang sebelah lagi, merengkuh Aya juga dalam pelukannya.
"Nduk ...." ujar papi lemah tak berdaya.
Meskipun bingung dengan yang terjadi, Aya cepat tanggap. Kemarin mami dan papi bahkan menginap di rumah Eyang.
"Sabar, Pi. Nanti juga kemarahan Eyang akan reda. Pasti akan ke sini lagi," katanya mencoba menghibur.
"Eyang?" Papi melihat anak gadisnya itu dengan kebingungan.
"Kau tak apa-apa, Nduk?" tanya papi lagi.
******
__ADS_1