
"Pada kembaranmu saja, Kau begitu perhitungan!" ketus Aya sebal.
"Kau wanita, tak tahu apa-apa. Jadi lebih baik tutup mulutmu!" teriak Arjuna kasar. Tangannya sudah terangkat ke atas. Aya mundur dengan takut.
Arjuna menggeram marah. "Hah!" Dikibaskannya tangan yang hampir melayang ke arah Gayatri. Lalu berjalan dengan langkah panjang-panjang ke luar kamar.
Tubuh Gayatri gemetar hebat. Dia belum pernah melihat mami dipukul oleh papi. Apalagi dirinya yang selalu dimanja sejak kecil. Dibentak orang tua saja tak pernah, konon lagi 'kena tangan'.
"Orang yang kasar!" gumamnya kemudian. "Bagaimana bisa para wanita itu tergila-gila padanya?"
Keesokan pagi, saat Aya sedang mengelap tubuh Dewa, perlahan mata pria itu terbuka. DIa mengerjap beberapa kali. Aya terlonjak kegirangan. "Kau sudah sadar? Syukurlah, akhirnya kau sadar juga."
Dengan cepat Aya menekan bel untuk memanggil perawat jaga.
"Aku sedang mengelap tubuhmu. Kau bisa katakan jika tanganku terlalu keras atau menyakitimu," ujar Aya.
Perawat masuk ruangan. dan segera disambut dengan suara Aya yang gembira. "Dewa sudah sadar," katanya.
Perawat itu mengulas senyuman, lalu memeriksa semua yang ingin diperiksanya. Aya membiarkan mereka melakukan tugas, meskipun kegiatannya mengelap Dewa belum lagi selesai.
"Saya akan kabarkan pada dokter. Sejauh ini, tanda vitalnya bagus. Ibu bisa lanjutkan mengelap pasien. Lalu beri makan. Nanti saat dokter visit, pasien sudah siap."
Aya mengangguk mengiyakan instruksi yang dikatakan perawat.
"Ada apa?" tanya Arjuna yang muncul entah dari mana.
"Pasien sudah sadar," sahut perawat itu cepat sebelum keluar kamar.
"Hah? Benarkah?" Arjuna bergegas mendekat ke tempat tidur Dewa.
"Apa kau tidur nyenyak? Sebaiknya kau segera turun dari sana dan urus perusahaan itu. Kau tahu aku tak terlalu suka berada di kantor dan bertemu orang-orang culas dan saling menerkam!" celoteh Arjuna.
Senyuman tipis terlihat samar di wajah Dewa. Dia merespon semua yang dikatakan oleh saudara kembarnya itu. Namun itu tak lama. Kemudian wajahnya meringis, seakan sedang mengalami rasa sakit yang amat sangat.
"Kepalamu dioperasi. Apakah sangat sakit?" tanya Aya penuh perhatian.
"Mintakan obat penghilang nyeri pada perawat tadi!" perintah Arjuna.
"Ya!" Aya segera pergi. Da juga merasa kasihan melihat Dewa kesakitan seperti itu. Seakan dirinya ikut merasakan sakit yang sama.
__ADS_1
"Ja-ngan ka-sar pada-nya!" tegur Dewa terbata-bata.
"Huh! Kalau bukan istrimu, sudah kupukul tadi. Dia sangat suka membantah kata-kataku!" adu Arjuna.
Dewa tak menggubris kata-katanya. tapi matanya menatap lurus mata kembarannya itu. "A-ku a-da per-min-taan. Bisa-kah kau pe-nuhi?"
"Katakan dulu, baru aku bisa jawab!" sahut Arjuna cuek.
"Ini per-minta-an ter-akhir-ku ...." Suaranya lirih dan wajahnya kembali mengernyit menahan rasa sakit.
"Terakhir apa maksudmu!" sentak Arjuna tak senang.
"Ber-janji-lah pa-da-ku. Wak-tuku tak ba-nyak! Ahh ... sa-kit se-kali."
"Hah. Aku tak suka ini. Kau seperti ingin menjebakku!" sungut Arjuna dengan wajah tak senang yang nyata.
Dewa tak menanggapi. Dia sedang menggeram menahan rasa sakit yang dialaminya.
"Mana istrimu itu! Disuruh minta obat pereda sakit kok tidak juga kembali!" Dasar---"
Tangan Dewa yang lemah, menyentuh tangan Arjuna yang ada di dekatnya. Sentuhan itu, membuat Arjuna lupa dengan kejengkelannya pada Gayatri.
"Apa? Ti---"
Kata-kata Arjuna terhenti saat melihat mata Dewa yang bersungguh-sungguh diantara rasa sakitnya.
"Cepat suster!" terdengar suara Gayatri saat pintu kamar terbuka. langkahnya terburu-buru meuju tempat tidur Dewa.
"Mana obatnya?" tanya Arjuna dengan mata melotot.
"Sama perawat. Kan harus obat yang disuntik. Dewa belum bisa menelan obat biasa!" Aya berargumen.
Tak lama perawat muncul dengan sebuah alat suntik di tangan. Dengan cekatan menyutikkan obet pereda nyeri ke jalur infus yang ada di tangan Dewa.
"Sabar ya pak, sebentar lagi obatnya baru bereaksi," ujar perawat pada Dewa yang sedang meringis dan terbaring dengan gelisah.
Perawat memeriksa alat dan mencatat perubahan yang ada. Kemudian keluar ruangan kembali.
Aya mengelus-elus lengan Dewa, berharap sentuhannya dapat menenangkan atau sekedar meredakan rasa nyeri yang sedang dirasakan suaminya.
__ADS_1
"Dewa punya pesan terkhir! Kau harus dengarkan, agar tak ada tuduhan aku mengada-ada!" kata Arjuna.
"Apa?" Aya tak terlalu menangkap kata-kata yang diucapkan Arjuna tadi.
"Apa kau tuli!" bentak Arjuna kasar.
"Aahhh ...."
Rintihan Dewa menghentikan keduanya yang sudah siap untuk bertengkar.
"Di mana yang sakit?" tanya Aya penuh perhatian. Kau harus cepat sembuh. Aku sudah sakit kepala melihat tingkahnya yang bossy!" adu Aya.
"Huh!' Arjuna menggertakkan gerahamnya menahan emosi. Jika bukan karena Dewa yang sedang kesakitan, maka dia tak akan peduli. Mungkin tangannya akan melayang untuk mendidik wanita muda bermulut pedas itu!
"Kalau kau bangun, aku janji akan menjadi istri yang penurut. Tolong maaafkan kesalahanku padamu. Maafkan, jika sering menyusahkanmu," bisiknya lirih didekat telinga Dewa, agar tak didengar orang lain.
"A-ku pu-nya per-minta-an terak-hir. Ku-ha-rap kau bi-sa meme-nuhi-nya." Dewa bicara dengan suara terbata-bata.
"Oke!" Gayatri menjawab cepat dan bersemangat. "Asal kau sembuh, kau boleh minta aku melakukan apapun!" matanya berbinar, menunjukkan kesungguhan janji dari hatinya.
Namun Dewa menggeleng. "Ji-ka a-ku tak ber-ta-han, me-ni-kah-lah de-ngan Ar-ju-na!" Dengan susah payah, akhirnya kata-kata itu terucapkan juga. Dewa merasa letih sesudahnya. MAtanya yang tengah memandang Gayatri, meredup sayu.
Gayatri masih terbengong mendengar permintaan Dewa. "Permintaan macam apa itu!" tanyanya ketus. Kau menyerahkan istrimu pada saudara kembarmu yang kasar seperti orang yang tak berpendidikan!" Gayatri bicara kasar dan dengan suara keras.
Arjuna sudah menggeram dan wajahnya memerah. Dia sudah menahan amarah sejak dari tadi.
"Ma-af-kan a-ku---"
Mata Dewa yang tadinya redup, kini benar-benar telah kehilangan sinarnya. Tak lama, layar pada mesin berbunyi nyaring. Arjuna dengan cepat meraih bel dan menekan tombolnya.
"Dewa! Dewa! Jangan pergi! Aku bersumpah akan menghancurkan mereka kalau kau meninggalkanku!" teriak Arjuna marah.
Kata-kata itu menyadarkan Gayatri dengan apa yang sedang berlangsung. Dia kembali menyadari keadaan dan melihat tubuh Dewa yang tadi bergetar beberapa kali, kini telah diam tak bergerak.
"Dewa! Dewa!" teriaknya histeris.
Dua perawat datang dengan berlari. "Tolong minggir dulu!" teriak mereka meminta Aya dan Arjuna menjauh dari tempat tidur. Keduanya bekerja keras, mencoba untuk meraih kembali nyawa Dewa yang telah melayang pergi.
Aya jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Sementara Arjuna meninju tembok dengan marah.
__ADS_1
******