PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
Bab 47. Pernikahan Aya.


__ADS_3

Akhirnya Eyang tersenyum lega. "Aku bisa tenang sekarang," ujarnya dengan senyum puas.


Papi bersalaman dengan Arjuna dengan ekspresi gembira tak terkira, Kelegaan juga tak ditutupi mami. Semua bersyukur Aya akhirnya kembali menikah. Kekhawatiran mereka pun berkurang.


"Aku percayakan putriku padamu. Jaga dia dengan baik dan bersabarlah," pesan papi.


Masih dengan mata yang tak kunjung kering, mami memeluk Aya. "Mulai sekarang, dia suamimu. Hormati dan patuhi dia.


Aya hanya diam membeku. Dia merasa hatinya sedingin es. Dia tak dapat merasakan kebahagiaan acara pernikahan itu. Semua ini dilakukannya hanya agar keluarganya tidak lagi khawatir.


"Besok saya akan meminta pengacara untuk mengurus administrasi pernikahan ini," janji Arjuna.


"Bagus! Lebih baik diurus secepatnya." Papi mengangguk setuju.


Karena pernikahan itu dilaksanakan mendadak, Eyang tidak sempat menyiapkan sajian khusus. Jadi mereka hanya menikmati hidangan sederhana apa adanya saja.


Meskipun begitu, rasa lega di hati membuat selera makan meningkat. Terutama karena acara pernikahan Aya baru selesai pukul sembilan malam. Semua orang sudah kelaparan.


"Kami akan kembali lebih dulu dan beristirahat," pamit Arjuna.


"Aku tidak punya baju. Jadi biar aku bersiap-siap dulu. Kau bisa menjemputku besok sepulang kerja." Gayatri menolak ajakan Arjuna dengan halus.


"Istriku tercinta sudah menyiapkannya." Radit muncul dengan sebuah koper di tangan.


"Ini pakaian Mbak Aya," ujar istri Radit dengan senyum lebar.


Aya mendelik jengkel, karena merasa dikhianati oleh suami istri itu.

__ADS_1


Arjuna mengambil alih koper yang dibawa Radit. "Mari kita pulang. Kau pasti lelah dan belum istirahat dengan baik sejak tadi malam."


Wajah Aya memerah mendengar Arjuna kembali menyinggung kejadian malam sebelumnya. Dia ingin melabrak pria sombong itu, tapi gelengan halus kepala mami, menahannya.


Akhirnya Aya hanya bisa mengangguk dan menuruti kata-kata pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.


Dipeluknya mami. "Aya pergi dulu, Mi. Jika ada apa-apa, jangan ragu untuk menelepon. Aya akan segera datang kalau Mami butuh teman."


Mami tersenyum lebar mendengarnya. "Jangan khawatir, Mami tidak akan menganggumu selama seminggu ke depan. Bersenang-senanglah ...."


Aya cemberut mendengarnya. Kemudian dia beralih memeluk papi tanpa mengucapkan satu patah katapun.


"Maafkan sikap papi tadi. Kadang rasa sakit membuat kita bisa memahami sesuatu dengan lebih baik," ujar pria paruh baya itu. Aya hanya mengangguk mengerti.


"Aya pamit, Eyang. Maaf jika selalu merepotkan," ujarnya pada Eyang.


Dipeluknya Radit dan istrinya. "Terima kasih sudah menjadi adik yang baik dan selalu mendukungku," bisiknya haru.


"Itulah gunanya saudara," balas Radit yang langsung diangguki istrinya dengan kompak.


"Ayo!"


Arjuna menyeret koper Aya ke luar rumah Eyang. Memasukkannya ke bagasi mobil dan membuka satu pintu untuk Aya.


Gadis itu masuk tanpa banyak drama. Dia duduk bersandar dengan tenang. Bahkan tak memberikan reaksi apapun saat Arjuna masuk dan duduk di sebelahnya.


Lambaian tangan Aya mulai tak terlihat, dibawa mobil menerobos gelapnya malam.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Arjuna sangat irit bicara. Dia tak mengatakan apapun, jika tidak ditanya.


"Sejak kapan kau menjadi pendiam? Aku merasa seperti sedang duduk di atas balok es!" ejek Aya.


Arjuna bergeming. Dia hanya menatap lurus jalanan. Rumah Arjuna memang terasa sangat jauh dari kediaman Gayatri. Karena pria itu lebih suka menempati rumah besar dengan halaman, dari pada tinggal di apartemen.


Sampai di depan rumah Arjuna sekitar pukul sebelas malam. Aya benar-benar sudah mengantuk. Dia ingin bisa segera tidur dan beristirahat.


Pelayan yang sama dengan yang waktu itu dia lihat saat datang bersama Dewa.


"Ini Nyonya Rumah kita sekarang. Bawakan kopernya ke atas dan tempatkan di kamar samping kamarku."


Pelayan pria itu segera membungkukkan sedikit kepalanya, tanda mengormati Aya. Kemudian dibawanya Aya ke kamar yang sebelumnya disebutkan oleh Arjuna.


"Saya Rahmat, Nyonya. Kamar ini berhubungan langsung dengan kamar Tuan Arjuna. Jadi anda akan aman di sini."


Sepasang suami istri itu lalu ditinggalkan berdua di kamar itu.


"Kau bisa tidur di sini. Jika merasa takut, aku ada di kamar sebelah," ujar Arjuna.


Pria itu berjalan meninggalkan Aya yang sedikit tak tahu harus berbuat apa lagi. Tak lama kemudian, Arjuna masuk lagi lewat pintu penghubung.


"Tolong ... Jangan lakukan hal seperti itu!" tegur Gayatri sambil memalingkan muka, saat melihat Arjuna melintas hanya dengan handuk melilit pinggul.


"Tak sopan!" gerutunya kesal.


"Aku hanya mau mengambil baju tidurku di sini." Arjuna menjawab tak peduli. Dia lalu kembali lagi ke kamarnya.

__ADS_1


*******


__ADS_2