PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
Bab 43. Pertolongan


__ADS_3

"Kita mau ke mana?" tanya Aya setengah sadar.


"Bukankah kau ingin pulang. Kami akan mengantarmu." Aya merasa itu suara pria.


"Radit akan menjemputku," lirih Aya.


"Suamimu berhalangan. Dia meminta kami mengantarmu pulang."


Mereka melewati dua orang pria yang sedang menyusuri lorong hotel. Dalam keadaan setengah sadarnya, Aya menjangkau tangan salah satu dari pria itu. "Dia sudah sampai," ujarnya.


"Kemana saja kau? Lama sekali. Kepalaku pusing!" keluh Aya sambil melihat ke arahnya.


Pria yang bersama Aya bertanya pada pria itu. "Anda mengenalnya?"


"Ya. Mau kau bawa ke mana Aya?" Pria itu balik bertanya. Ditepisnya tangan pria itu yang memeluk pinggang Aya.


"Oh, maaf pak. Dia terlalu mabuk. Tadi dia menelepon minta jemputan, tapi suaminya bilang tak bisa datang, jadi saya bermaksud mengantarnya pulang!" Pria itu memberi alasan.


"Aku tak ada bilang kalau berhalangan datang! Jangan macam-macam kau!" ujarnya dengan tatapan tajam.


"Maaf, bukannya aku tak mempercayaimu, tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja jika kau tak bisa membuktikannya!" ujar pria itu tajam.


Pria itu tersinggung. Dengan cepat direngkuhnya rahang Aya dan memaksanya melihat ke wajahnya. "Apa kau mengenaliku?" tanyanya tajam.


Gayatri hanya melihat samar bayangan Dewa yang menatapnya marah. "Maafkan aku, Dewa. Aku tak akan pergi tanpa ijin lagi. Bawa aku pulang," ujarnya lirih. Matanya berkaca-kaca. Dengan refleks menjauhkan diri dari pria yang tak dikenalnya itu.


Wajah pria itu berubah memerah menahan marah. Tapi dia dapat menahan diri dan menoleh pada pria itu. "Kau lihat, dia mengenaliku? Pergi kau! Atau aku akan melaporkanmu pada petugas keamanan di sini!" ancamnya.


Pria itu akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan kedua orang di depannya dengan dongkol. Pria itu menarik tangan Aya dengan kasar dan berbisik di dekat telinganya.


"Apa karena ini kau tak ingin menikah denganku? Kau ingin hidup bebas dan tidur dengan sembarangan pria, heh!" katanya marah.


"Aku juga bisa memberimu kesenangan jika itu yag kau cari. Ayo!"


Gadis itu terseok-seok megikuti langkah kaki pri yang berjalan tergesa setengah menyeretnya. Pria itu membuka satu kamar dengan kunci yang dibawanya dan mendorong tubuh Aya masuk.


Gadis itu sudah hampir tak menyadari apapun lagi. Saat tubuhnya menyentuh tempat tidur, dia seperti menemukan tempat yang sangat dirindukannya. Dengan cepat dia memanjat naik dan tidur melingkar, kemudian nafasnya berhembus teratur.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Kau malah tidur di sini! Menyusahkanku saja! Dan kurasa kau juga sudah menyusahkan Dewa selama pernikahan kalian!" Dengan kasar diambilnya selimut dan menutupi Aya yang sudah tak mengetahui apa yang terjadi.


Pria itu menelepon seseorang. "Coba kau selidiki pria yang di lorong tadi. Aku mencurigai dia punya niat jahat pada Aya. Satu lagi. Batalkan gadis itu, wanitaku ada di sini!" perintahnya sebelum telepon itu diletakkan di meja nakas.


"Kau mengganggu kesenanganku!" dengusnya kasar. Maka kau yang harus membayarnya." Pria itu naik ke tempat tidur dan mendekati Aya. mencium aroma parfum lembutnya samar-samar-samar.


"Tak ada kesan dia meminum minuman beralkohol." Diamatinya wajah Aya yang sudah bermimpi entah apa sambil tersenyum.


"Pria itu pasti memberinya obat tidur. Brengsek! Apa yang ingin mereka lakukan?" wajahnya kembali berubah memerah karena marah.


Teleponnya berbunyi. Dengan cepat diraihnya. "Ya?"


"Dari yang saya seidiki, Bu Aya pergi bersama teman kerjanya ke karaoke hotel. Dipesan atas nama Jayadi, untuk acara ulang tahun," lapor pria di seberang.


"Apa nama perusahaannya?"


Pria itu kemudian memberi tahukan nama perusahaan tempat Aya bekerja, lengkap dengan divisi penempatannya.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan pada mereka-mereka yang berani berniat jahat pada wanitaku! Lakukan dengan bersih!" ketusnya.


"Ya!"


Setelah melepaskan pakaian, dia ikut naik ke tempat tidur. Membantu melepaskan blus dan rok ketat yang menutupi tubuh Aya, agar dapat tidur dengan nyaman.


"Begini lebih baik. Tidur itu harus nyaman, agar kau bisa tidur nyenyak!" desisnya sambil tersenyum.


*


*


Hari sudah terang saat Aya terbangun. Kehangatan yang dirasakannya membuatnya malas membuka mata. Matanya kembali memejam sesaat. Tapi ketika pikirannya sudah dapat mencerna keadaan, dia segera terkejut dan kembali membuka mata lebar-lebar. Aya dapat merasakan embusan napas hangat di tengkuknya. Dan pelukan erat lengan kekar di pinggangnya yang ramping.


Di lihatnya ruangan krem dengan gordyn coklat tebal yang masih tertutup rapat. Lampu kamar yang redup di dinding telah menjelaskan dengan cepat tempat keberadaannya saat ini.


Aya bangkit dengan cepat dan melepaskan diri dari rengkuhan pria di belakang punggungnya.


"Aahh!" pekiknya saat melihat tubuh polosnya sendiri.

__ADS_1


Pria itu bangun mendengar keributan pagi hari. "Ada apa lagi? Malam tadi kau sudah ribut tentang cicak. Aku masih ngantuk! Ayo tidur lagi!" Pria itu menarik kembali tubuh Aya dalam pelukannya dan memeluknya lebih erat.


"Dasar laki-laki mesum!" Aya memukul tangan pria itu dengan keras dan membuatnya mengaduh. Sekarang dia sudah benar-benar membuka mata dan melihat kepolosan gadis di depannya. Dengan senyum penuh arti, dia menyandarkan kepalanya di tangan, tanpa beranjak sedikitpun dari tempat tidur.


"Terima kasih untuk layanan manismu tadi malam. Tak kusangka kau menyerahkan diri dengan suka rela!"


"Apa?" Wajah Aya memucat.


"Kau ... bagaimana bisa kau---"


"Ooo ... jadi kau memang ingin tidur dengan pria lain yang memberimu obat tadi malam?" Pria itu kini duduk dengan tegak.


"adinya aku akan langsung mengantarmu ke rumah dan meminta papimu segera menikahkan kita atas kegilaanmu tadi malam. Aku orang yang sangat bertanggung jawab. Tapi, karena kau ternyata memang ingin bisa merasakan banyak pria sesukamu, maka rencana itu kubatalkan!"


"Pria? Pria apa?" Aya kebingungan Menihat pria itu mengarah ke kamar mandi, Aya segera menahannya.


"Arjuna, pria apa? Pria mana maksudmu? Aku tidak serendah itu! Dan malam gila apa yang kau katakan? Tolong jelaskan padaku!"


Sambil membelakangi Aya, Arjuna tersenyum penuh kemenangan. "Sorry, aku tak tahu kalau dia adalah priamu. Kukira dia berniat jahat dengan memberimu obat. Jadi kuminta orangku untuk membereskannya. Juga teman-teman kerja di kantormu!" kata Arjuna cuek.


Masih di atas tempat tidur, kini Aya dapat mencerna apa yang sudah terjadi tadi malam. Dia sudah mengingat bahwa mereka pergi ke karaoke untuk ulang tahun Jayadi. Tapi setelah makan, Aya merasa sangat mengantuk dan kepalanya berat. Dia menelepon Radit minta dijemput.


Lalu bagaimana dia bisa berakhir tidur bersama Arjuna? Malam gila apa yang dimaksud Arjuna? Pria sinis dan kasar itu berterima kasih sambil tersenyum tadi. Aya bergidik ngeri.


"Apakah ... apakah kami---" Dengan segera dia menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang berantakan. Seprei yang kusut dan bajunya yang terhampar ke mana-mana.


Gayatri menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan. "Tidak ... sesuatu yang kujaga begitu lama, hilang begitu saja, tanpa aku mengingat apa yang terjadi," isaknya. air matanya jatuh berderai.


"Mereka ... mereka yang tiba-tiba berpura-pura baik dan mendadak menjadi teman, ternyata justru menjerumuskanku!" geramnya.


Aya berusaha mengingat ingatan samar yang berkelebat dalam pikirannya. Dia memang merasa ada yang tak beres, itu sebabnya dia meminta Radit menjemput. Tapi seorang pria teman mereka datang dan membawanya pergi. Kemudian dia melihat Dewa.


"Dewa?" Sekarang Aya mengerti tentang malam gila yang dimaksud Arjuna. Mungkin saja rasa bersalahnya pada Dewa, membuatnya mengira Arjuna adalah Dewa dan menyerahkan diri begitu saja.


Aya kembali menangis dan menyesali kecerobohannya. "Beraninya mereka memberiku obat!" geramnya marah. Dengan cepat dipungutinya pakaian yang terserak dan segera mengenakan, sebelum Arjuna keluar dari kamar mandi.


"Aku harus segra menghubungi rumah. Radit pasti kecarian tadi malam!" cemasnya.

__ADS_1


********


__ADS_2