Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Fakta Sebenarnya


__ADS_3

Tergopoh-gopoh aku menuju ke ruang depan. Di sana masih ramai orang, hanya tamu yang pulang. Tinggal keluarga dan juga rombongan perempuan yang mengaku istri bang Andre. Ia juga masih histeris di sana. Mereka berdebat panjang. Antara ibu, bang Andre dan pihak istrinya bang Andre.


"Nah itu Tira sudah sadar. Sini nak, sini." Salah seorang saudara ibu memanggilku. Aku mendekat. Tentunya dengan berbagai rasa tak nyaman, apalagi saat mataku tak sengaja bertemu dengan mata ibu. Bisa ku pastikan ibu sangat kecewa sekali dengan semua ini. Ternyata semua feeling-nya tentang bang Andre benar, namun bodohnya aku tak mencari tahu sebelumnya.


"Tira, katakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Ibu menanyaiku dengan tidak sabaran. Aku memahami sebab ibu pernah berada di posisi perempuan itu, tapi aku juga tak ingin berada di posisi seperti ini.


"Bu ... nanti akan Tira jelaskan, sekarang biar dua dulu yang menjelaskan semua karena Tira juga enggak paham apa yang sebenarnya terjadi." Aku menunjuk bang Andre.


"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang. Biarkan saja nak Andre pergi dulu untuk menyelesaikan semua, nanti baru balik ke sini " seperti dugaanku, Abah benar-benar menyepelekan masalah ini meski putrinya yang menjadi korban. Aku semakin yakin kalau aku tak berharga untuk Abah. Ia ada di sini juga karena ada yang diinginkannya. Sikapnya itu benar-benar membuatku kesal.


"Abah maaf, tolong diam dulu. Biarkan dia menjelaskan semuanya!" Pintaku dengan tegas sambil menatap tajam pada bang Andre. Rasanya tak Sudi dipermainkan seperti ini meski ia sudah melakukannya.


"Ra, seperti yang aku katakan padamu kalau aku sangat mencintaimu dan kamu adalah satu-satunya yang bertahta di hatiku!" Tegas bang Andre.


"Astagfirullah Pa!" perempuan itu menangis.


"Tapi kamu sudah membohongi aku!" Kataku tegas. "Tega ya kamu. Sudah ku ceritakan semua duka yang ku alami sejak kecil dan berharap tak lagi mengalami hal yang sama tapi kamu justru menjerumuskan aku ke dalam jurang yang lebih dalam. Sungguh terlalu kamu!" aku tak melepaskan tatapan darinya. *Sekarang jawab jujur, apa benar kamu sudah menikah dengan mbak ini?"

__ADS_1


"Ya Ra." Ia menjawab pendek.


"Astagfirullah. Aaaaaaa!" Aku berteriak histeris, tak peduli tetangga kiri kanan mengintip diam-diam. Hidupku sudah berantakan, aku sudah hancur. Apalagi yang harus aku jaga. Menjadi perempuan kedua dengan menghancurkan rumah tangga orang lain. Sungguh tercelanya aku. Padahal dulu aku pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan pemimpin dalam rumah tangga orang tuaku..rasanya hidup benar-benar ganang dan sekarang akulah pelakunya.


"Ra, tenanglah dulu, aku bisa jelaskan." Bang Andre mencoba menenangkan aku.


"Apa? Kalau kamu tidak mencintainya, hanya mencintai aku? Ahhhh pembohong!" aku.semakin memanas. "Jawab aku, sudah berapa lama kalian menikah? Apakah kalian sudah punya anak?"


"Mereka sudah menikah hampir sepuluh tahun dan mereka sudah punya dua putri." jawab saudara tuanya perempuan itu.


"Ya Allah ... tega kamu Andre Winata. Kenapa harus aku, kenapa? Kalau kamu tak tahu bagaimana hancurnya hidupku karena orang kedua, aku masih tahan tapi kamu tahu segalanya." aku memekik. Tak bisa ku bayangkan bagaimana kondisi anak-anaknya saat ini, aku yakin pasti tidak baik-baik saja. Bayangan masa kecil kembali muncul di benakku, saat aku, ibu dan adik-adikku memohon agar Abah kembali. Sungguh hancur hati ini


"Bah, tolong Tira sekali saja. Jangan bawa emas itu, kembalikan padanya." Kataku.


"Lho kenapa begitu, dia kan sudah janji akan memberikannya pada Abah kalau Abah menikahkan kalian. Jangan ingkar janji dong!" Tegas Abah, sementara Tante Utami mengapit erat mahar tadi.


"Budi, kamu itu ayah kandungnya Tira. Saat ini putrimu sedang ada masalah. Berempatilah kepadanya. Jangan terlalu tamak jadi orang, punya lah malu!" ibu buka suara, membuat Abah tak bisa berkata-kata lagi, dan wajahnya berubah merah padam.

__ADS_1


Abah mengambil paksa mahar itu dari Tante Utami, lalu memberikannya dengan cara melempar pada ibu. Kemudian tiga orang itu pergi tanpa permisi. Kami bahkan masih mendengar umpatan mereka.


"Mbak maafkan saya, tapi saya benar-benar tidak tahu kalau dia sudah menikah dan bahkan sudah punya dua orang anak. Saya benar-benar memohon maaf. Semoga mbak mau berlapang dada memaafkan khilaf saya. Untuk pernikahan ini, mbak jangan khawatir, mulai sekarang ini sudah berakhir." Aku melempar dengan kasar cincin itu pada bang Andre. Luka yang tadinya telah kering kini kembali ditorehkan lagi, bahkan jauh lebih sakit dibandingkan dahulu.


"Ra ... jangan begitu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Pintanya.


"Baik-baik? Mana bisa, kamu sudah menipuku. Kamu sudah menghancurkan hidupku. Masa depanku hancur sekarang, belum lagi mentalku." kataku.


"Ya tapi ...." bang Andre masih berusaha menahan. Ia yang semula lunak berubah keras karena aku mencampakkannya. "Lina Aprilia, kamu benar-benar perempuan yang tidak tahu diri. Sudah ku katakan kalau aku tidak mencintai kamu. Aku sangat mual dan bosan dengan kamu tapi kenapa kamu tidak mau mengerti juga, hah? Aku swdabg berusaha mengurus surat cerai Kuta, kenapa kamu malah mengacaukan hidupku. Apa belum cukup selama ini kamu membuatku menderita, hah?" ia menarik paksa istrinya. "Sekarang pergilah, jangan pernah datang ke sini lagi. Aku menalak kamu!"


"Pa ... papa jangan bicara begitu, maafin aku pa." Tangis mbak Lina kembali pecah mendengar ucapan suaminya. Tentu saja pemandangan itu menyayat hatiku.


"Diamlah dan segera pergi dari sini!" kata bang Andre lagi.


"Kamu juga pergi dari sini!" Aku ikut membentaknya.


"Ra ... kita sudah menikah, jangan bicara begitu denganku." bang Andre berusaha membujuk.

__ADS_1


"Tidak, aku tak terima dengan pernikahan ini. Aku tak Sudi menjadi penghancur rumah tangga orang lain. Pergilah. Kalau kamu masih punya hati jangan pernah datang ke sini lagi atau menemuiku. Sebaiknya kamu bertobat, sadarlah, kamu sudah melukai hati istri dan anak-anaknu. Aku pernah berada di posisi mereka dan aku tahu bagaimana rasa sakitnya. Jadi pergilah!" Kataku, sambil berpaling.


Belum sempat aku melangkah, bang Andre menahan lenganku. Ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Tapi keputusanku sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat. Aku tak menginginkan semua ini. Dari mana berada di posisi ini lebih baik sendiri selamanya.


__ADS_2