
Aku mencium aroma yang menggugah selera. Bau mi dan kopi yang begitu kuat. Aku yang belum sempat sarapan langsung membuka mata, di sebelah tampak pak Saka dengan tangan kanannya memegang cup mi instan, Sementara tangan kirinya memegang cup kopi. Kedua-duanya masih mengeluarkan asap yang mengebul. Sesekali ia meniup cup mi dan kopi secata bergantian, membuatku harus menahan air liur karena ngiler. Sayangnya, laki-laki di sampingku ini tidak peka, ia malah asyik memainkan cup di tangannya, menggoyangkan agar aromanya semakin menyeruak.
"Usil sekali!" Aku menggerutu.
"Hah? Kenapa? Mau juga?" Ia menatapku, seolah tak berdosa.
"Kenapa hanya beli satu? Padahal orang di sebelahnya juga belum makan. Dasar pelit." Kataku.
"Kamu nggak bilang. Tadi katanya ingin sendiri, nggak mau diganggu. Padahal mau diajak ke gerbong kantin. Ya sudah, aku pergi sendiri. Katanya kalau makan mi di perjalanan itu rasanya berkali lipat lebih enak dari biasanya."
"Biarin!" Aku pura-pura tak peduli. Lalu mengalihkan pandangan keluar jendela. Tapi aromanya semakin menjadi-jadi. Tanpa sadar, perutku berbunyi krucuk-krucuk. Wajahku langsung memerah, tak berani melihat ke samping karena yakin pasti pak Saka mendengarnya.
"Niihh," cup mi diserahkan padaku. aku menolak, ia tetap memberikannya. Karena posisinya ada di hadapanku, aromanya semakin menjadi-jadi sehingga kali ini aku benar-benar tak bisa menolak.
"Terimakasih." Kataku. Dala. Hitungan detik, mi itu langsung ku santap. Setelah isinya habis, barulah aku sadar kalau pemiliknya juga belum memakannya. Tapi sudah terlanjur ku habiskan. "Bagaimana ini? Lagian bapak sih pakai acara ngasih-ngasih segala. Kan habis jadinya." Aku merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, Ra. Yang penting kamu kenyang dan cacing di perut kamu enggak demo lagi." Ia tertawa kecil.
"Apa sih?" Aku cemberut. "Sudah sana, beli satu lagi. Lagian kalau barengan itu harusnya temannya juga dibelikan, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Itu namanya pelit!" Aku berkilah. "Lagian nggak enak juga kan kalau harus berbagi. Geli kalau makanannya dimakan orang lain juga." Kataku. Ia kembali tersenyum.
Jangan terlalu dekat denganku. Jangan baik juga kepadaku. Saat ini aku tengah gamang, jika kamu masuk, terus mendekatiku dan memberi perhatian maka pertahanan ku bisa luluh. Aku takut jika nanti benar-benar jatuh cinta padamu!
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ke gerbong belakang, kamu mau dibelikan apa lagi?" Perhatian yang diberikan pak Saka membuatku yang terbiasa mengerjakan semuanya sendiri jadi merasa tak enak hati. bahkan aku gak berani berlama-lama berbicara dengannya.
***
Pukul empat sore, kereta api sampai di stasiun Tugu Jogja. Aku dan pak Saka turun. Kami memang tak membawa banyak barang-barang. Aku membawa satu koper dan tas ransel. Sedangkan pak Saka hanya membawa tas ransel.
"Sekarang kita kemana?" tanyanya. Sambil membantu menggeret koperku.
"Entah, aku juga nggak tahu harus mencari kemana karena tak paham Jogja." kataku. Ku perlihatkan selembar kertas bertuliskan nama dan alamat perempuan yang melahirkan aku. Pak Saka hanya mengangguk-angguk.
"Sebaiknya kita cari besok saja. Sekarang lebih baik ke hotel karena ini sudah sore. Takutnya kita kemalaman. Kalau nyari alamat nggak hafal daerah dan nggak punya kendaraan cukup sulit. Tapi kalau kamu mau bersabar, besok kita cari. Malam ini akan ku usahakan mencari kendaraan." kata pak Saka. Ia mengaku cukup sering ke Jogja, apalagi saat masih kuliah untuk sekedar liburan. Jadi Jogja tak terlalu asing bagi pak Saka.
Aku masuk ke kamar 404. Sementara pak Saka si kamar 406. Kami bersebelahan. Begitu masuk ke kamar, aku langsung meletakkan tas dan koper, lalu menuju jendela besar yang menghadap ke stasiun.
"Aku gak tahu apakah akan menemukannya. Lalu kalau ketemu harus melakukan apa. Aku benar-benar tak punya tujuan hidup. Sangat menyedihkan." aku tersenyum miris. Pandanganku jauh ke depan, entah seperti apa ia, tapi yang jelas aku sangat ingin melihatnya. Meski hanya sekali.
***
[Besok kak Ciya menikah, kak.] pesan dari Kiki. Aku tersenyum. Tapi tanpa sadar air mataku mengalir. Tak menyangka, adik tertuaku akan menikah juga. Sebenarnya aku sangat bahagia, namun menjadi sedih sebab ibu ataupun Ciya sendiri tak mengabari.
[Alhamdulillah. Kakak ikut bahagia.] aku membalasnya.
__ADS_1
[Kakak nggak datang?]
[Enggak dulu ya, Ki. Maafkan kakak. Kakak sekarang ada di luar kota.]
Hp ku matikan. Aku berbaring di atas tempat tidur. Mengingat kembali kenangan ketika kami masih kecil. Tak pernah terpikirkan olehku kalau aku bukan anak kandung ibu. Aku mengira, sama seperti Ciya, Elis dan Kiki. Meski wajah kami sangatlah berbeda. Namun tetap ada sedikit guratan kemiripan karena ayah kami sama.
Ibu juga tak membedakan kami. Hanya lebih membebani tanggung jawab kepadaku. Aku memaklumi sebab aku anak sulung. Makanya cukup kaget waktu Ciya mengatakan kalau aku bukan anak kandung ibu, rasanya jadi gamang.
Tok tok tok. Suara pintu kamar di ketuk. Saat ku buka, ternyata pak Saka. Ia mengajakku keluar untuk makan malam. Sebenarnya aku sedang malas keluar, tadi awalnya mau memesan makanan dari kamar saja, tapi tak enak juga menolak ajakannya sebab ia sudah banyak membantuku.
Keberadaan pak Saka di sini sebenarnya sangat ku syukuri. Secara tidak langsung, ia bisa jadi temanku. Aku tak bisa membayangkan, sendiri di tempat asing. Entah harus mengapa dan kemana. Tapi dengan adanya pak Saka, aku tak terlalu kebingungan. aku berhutang budi padanya.
"Bagaimana, suka nggak sama lele bakarnya? Di sini enak lho." kata pak Saka.
"Lumayan." kataku, sambil menikmati pecel lele yang entah kenapa sekarang rasanya jadi lebih lezat berkali lipat. Mungkin karena aku tak makan sejak siang. Pak Saka sudah mengajak makan di gerbong cafe saat di kereta api, tapi aku menolak. Ingin menikmati perjalanan yang membuatku berdebar -debar.
Usai makan malam, kami tak langsung kembali ke hotel. Pak Saka mengajakku jalan-jalan mengitari Malioboro. Ia membelikan makanan kecil khas Jogja. Aku yang sebenarnya sudah kenyang, tak bisa menolak karena aroma makanan yang dijajakan di pinggir jalan menggugah selera. Akibatnya kami terpaksa pulang naik becak karena kekenyangan tak kuat untuk jalan kaki.
"Ingat, jangan langsung tidur Tira, nanti jadi ulat Segede bantal lho." kata pak Saka sambil tertawa, sebelum masuk ke kamarnya.
Aku hanya diam mematung. Tak paham dengan lelucon yang ia lempar.
__ADS_1