Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Apakah Aku Harus Menyerah?


__ADS_3

Aku sekarang duduk berhadap-hadapan dengan Amanda. Ya, aku sengaja menghubunginya setelah banyak pesan yang sempat ia kirimkan. Aku akhirnya menemuinya sebab sekarang merasa senasib dengannya. Sama-sama menjadi wanita kedua. Sekarang Amanda juga telah membebaskan dirinya dari pak Hito karena musibah yang menimpanya.


"Aku positif HIV, Ra." katanya, membuatku yang mendengar jadi lemas. "Mereka bertiga juga positif. Tapi saat tahu kenyataan itu mereka malah menyalahkan aku, padahal di antara mereka bertiga lah yang sering jajan di luar. Aku tak pernah dengan siapapun selain mereka. Sebenarnya aku hanya mencintai pak Hito, tapi ia memanfaatkan cintaku untuk mau melayani teman-temannya juga. Sungguh menyedihkan sekali nasibku ini." ia menunduk lesu. "Sekarang aku tinggal menunggu dijemput malaikat maut, lalu masuk neraka." katanya lagi. Masih dengan nada pesimis.


"Kamu enggak boleh menyerah begitu, Man. Aku pernah mendengar tentang penemuan obat HIV, asalkan kamu rutin meminumnya maka kamu pasti bisa sembuh." aku mencoba memberikan semangat meski belum yakin juga, yang penting kan ada usaha dan aku sangat mendukung.


Bagaimanapun dua kali aku pernah diselamatkan olehnya.


"Lalu kamu sendiri bagaimana, Ra?" tanya Amanda.


"Aku nggak tahu, Man. Apakah akan tetap lanjut menikah atau menepi dahulu " aku memaksakan senyum. Jujur masih terpukul dengan pesan dari ayahnya pak Saka. Aku sadar itu adalah resiko yang harus ku pikul hingga kapanpun. Kesalahanku menjalin hubungan dengan suami orang meski aku tak tahu bahwa ia sudah punya istri.


"Begitu sedihnya jadi perempuan ya, Ra. Kalau tidak bisa menjaga diri baik-baik. Sedikit saja ada aib maka akan terus diungkit hingga liang lahat. Benar-benar tak ada kesempatan untuk memperbaiki diri, semua bak hakim yang tak punya dosa." ujar Amanda.


"Ya, sepertinya begitu." aku tersenyum miris.


***


Hari ini akhirnya aku dan pak Saka bartemu setelah tiga hari ia ku hindari. Sebenarnya pak Saka sangat kesal sebab pernikahan kami hanya menghitung hari dan dengan entengnya aku menghilang.


"Saya enggak tahu apakah masih bisa lanjut atau tidak." kataku, memaksakan diri untuk jujur sebab lelah terus menghindar. Bagaimanapun ia adalah atasanku, selagi aku masih bekerja di kantornya maka akan sulit bagiku untuk menghilang.


"Maksudnya? Oh, aku mengerti, kamu begini karena kata-kata papa, kan? Kamu ingin mundur padahal aku masih dan akan terus memperjuangkan kamu. Tira, asal kamu tahu, aku enggak peduli dengan cap apapun yang melekat dalam diri kamu, yang kamu harus tahu bahwa aku mencintai kamu dan ku harap kamu pun begitu. Kita sama-sama pernah melewati hari yang tak sempurna, ku harap setelah kita bersama maka bisa membuat hari-hari kita kedepannya sempurna. Sekarang, jangan berpikir apapun, cukup jawab pertanyaanku, apakah kamu mencintai aku?" pak Saka menatapku. Tatapannya begitu tajam sehingga aku tak bisa mengelak.

__ADS_1


"Ya, saya mencintai bapak!" kataku, meski dengan suara pelan namun penuh keyakinan sebab begitulah yang aku rasakan.


"Jika tak ada masalah seperti yang diungkapkan papa, apakah kamu yakin bahagia bersamaku?" ia kembali bertanya.


Tak perlu berpikir keras aku langsung menganggukkan kepala. Hanya satu yang membuatku bimbang, yaitu ketika mereka keberatan dengan status lamaku yang sempat diperbincangkan khalayak, selebihnya tak ada masalah. Namun hal itu cukup memberatkan untukku.


"Baiklah, kalau begitu ikutlah denganku." pak Saka mengajakku pergi, sebelumnya ia menghubungi entah siapa, mereka bicara dengan sangat serius. Aku tak bisa mendengarkan jelas sebab sudah terlanjur masuk ke dalam mobil sementara pak Saka ada di luar mobil.


Setelah selesai menelepon, ia segera membawaku pergi menuju arah puncak. Aku terus bertanya-tanya tapi gak kunjung mendapatkan jawaban.


Mobil pak Saka berhenti di depan sebuah restoran, ia mengajakku turun, kami makan siang di sana. Seberapa sering aku bertanya tetap saja ia diam.


"Kita mau kemana, sih? Kalau bapak enggak mau jawab juga, saya enggak mau ikut!" kataku.


"Siapa bilang tanggung. Kalau bapak enggak mau nganter pulang saya bisa pulang sendiri!" aku mengancam pulang naik taksi, pak Saka tidak melarang, tapi sudah menunggu sampai setengah jam tak ada taksi yang lewat. Aku juga berusaha memesan taksi online tapi semua menolak karena diluar jangkauan.


"Bagaimana?" pak Saka tersenyum penuh kemenangan.


"Sekarang saya tahu kalau bapak tak peduli!"


"Siapa bilang?"


"Bapak nggak keberatan kalau saya pulang naik taksi itu tandanya tak peduli. Apes saja saya nggak dapat tumpangan."

__ADS_1


"Tira, aku sangat peduli sama kamu. Aku membiarkan kamu karena tahu di sini gak ada taksi yang lewat. Lagian, kalaupun ada taksi pasti tak akan aku biarkan kamu naik, apapun caranya akan aku cegah!" katanya. "Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak pak Saka.


Kami kembali melanjutkan perjalanan. Setengah jam kemudian sampai di depan sebuah vila. Pak Saka mengajakku turun. Awalnya aku tak mau karena bingung ditambah takut juga.


"Ayo Tira!" ajak pak Saka lagi.


"Mau apa ke sini? Bapak nggak berpikir macam-macam, kan?" tanyaku. Ia hanya tertawa tergelak..Namun aku tetap bertahan menolak ajakannya hingga dua mobil datang bersamaan. Dari salah satu mobil turun ayah. "Ada apa ini?" aku makin bingung.


"Turun saja dulu, nanti akan aku beritahu." kata pak Saka.


Ternyata pak Saka merencanakan perbuatan. Ia meminta ayah untuk datang sebagai wali dan juga kan Ustad yang menikahkan kami juga dua orang saksi.


"Menikah? Tapi, kan ...." aku masih ragu.


"Tira, niat baik jangan diundur-undur. Aku tahu, kalau kita gak menikah sekarang, kamu pasti akan menghilang lagi. Menghindari aku dan bisa jadi saat pernikahan tidak datang. Aku enggak mau menanggung kekecewaan sebesar itu sendiri makanya saat menemukan kamu kembali maka aku minta agar kita menikah saja." kata pak Saka.


Di sini aku benar-benar tak bisa mengelak lagi. Akhirnya aku mengiyakan ajakan pak Saka untuk menikah. Seperti yang ia katakan tak ada alasan untuk menolak. Sebab dukungan ayah pun telah ia dapatkan.


"Jadi, ayo menjadi istriku Tira." kata pak Saka.


Dengan persiapan sesederhana mungkin, akhirnya, di villa puncak Bogor milik almarhum pak Saka, kami mengucapkan janji suci.


Ijab kabul telah diucapkan, pak Saka memberikan mahar uang sebesar tiga juga rupiah sesuai dengan jumlah yang ada di dompetnya. Kami sah menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Aku tak bisa menyembunyikan hari sebab akhirnya sah menjadi istri setelah melewati perjuangan panjang yang teramat melelahkan. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa lelaki yang awalnya mengajakku bergabung di perusahaannya ternyata akan menjadi suamiku.


__ADS_2