
Entah sudah berapa banyak pesan serta panggilan tak terjawab dari Andre yang masuk ke Hpku. Mulai dari menanyakan keberadaan ku, menegaskan bahwa sekarang kami adalah suami istri, mengulang-ulang kata cinta yang membuatku eneg hingga petuah-petuah tentang kewajiban istri pada suaminya. Membaca itu, ingin sekali ku maki dia, tapi aku sadar, memperpanjang komunikasi dengannya hanya akan membuatku stres. Dia sudah membuat masalah besar dalam hidupku, lebih baik tak berkomunikasi lagi, bahkan tak usah saling mengenal.
Menyesal aku pernah menyukainya. Ia yang dahulu hadir dengan sikapnya yang hangat, penuh perhatian dan juga dewasa. Aku yang haus akan sosok seorang ayah akhirnya berhasil di taklukkannya. Padanya ku titipkan banyak harapan. Aku benar-benar jatuh cinta. Namun sekarang perasaan itu hambar, yang ada aku benar-benar membencinya. Sangat membenci seorang Andre Winata.
💐💐💐
Sehabis salat Subuh, pintu kamarku di gedor. Siapa lagi pelakunya kalau bukan mbak Dila. Sepupuku itu mengamuk. Memintaku untuk meminta maaf pada ibunya atau ia akan membuat aku menyesal. Sebuah ancaman yang membuatku jengkel. Ia dan bibi yang mulai duluan tapi malah menyalahkan ku seratus persen.
"Pokoknya kamu harus nemuin ibuku, minta maaf, sujud di kaki ibu atau kamu dalam masalah, Ra. Batas waktunya sampai nanti Maghrib. Ingat ya!" Ancam mbak Dila, lalu ia melengos meninggalkan kamarku.
Aku tersenyum miris melihat mbak Dila pergi. Kamu itu, meski saudara, tapi sejak kecil sebenarnya tak benar-benar akur. Dia menyimpan kecemburuan besar padaku. Sejak kecil, aku selalu jadi kesayangan kakek dan nenek sebab aku adalah cucu yang paling menggemaskan, ditambah ibu anak kesayangan. Apa-apa, kakek dan nenek selalu mendahulukan aku. Yang dibanggakan di hadapan orang lain juga adalah aku. Tapi itu berhenti setelah ibu bercerai dengan Abah. Kakek dan nenek kecewa pada ibu. Ditambah hasutan dari bibi Par yang haus kasih sayang orang tuanya. Akhirnya keluarga kami di kucilkan. Kemiskinan menambah buruk kondisi kami.
Setelah aku bekerja, kakek dah nenek mulai melunak. Bibi Par sebenarnya masih berusaha mempengaruhi orang tuanya, namun kakek dan nenek tetap membuka hati untuk kami. Tapi sekarang, keluarga kami kembali di uji. Aku sangat yakin mereka akan kembali mengucilkan kami.
"Tira ... Tira. Hidupmu sungguh menyedihkan. Baru mau merasa bahagia, tapi sudah begini lagi!" Aku miris para nasibku sendiri.
💐💐💐
[Kakak ngirim pesan apa ke BI Par? Ibu nangis-nangis usai ditelepon bibi. Barusan juga kakek dan nenek datang, habis kita semua dimarahi kak. Mana marah-marahnya nggak tanggung-tanggung lagi. Kayak kita pendosa besar saja.] pesan dari Ciya.
[Ya Allah, terus bagaimana ibu sekarang?] aku mengepalkan tangan kuat-kuat, kesal dengan kebodohan sendiri. Kenapa juga harus bersikap tidak sopan, sebab yang kena efeknya pastilah ibu. Tadi aku benar-benar terbawa emosi, makanya tak bisa menahan diri.
__ADS_1
[Ibu sekarang di kamar, kak. Pintunya di kunci. Tapi tadi kasihan juga sama ibu. Kata bibi nanti mau datang lagi.]
[Mbak Dila minta kakak minta maaf sama ibunya. Katanya, kakk susah menyakiti hati bibi dengan pesan balasan kakak.] tak lupa aku mengirim SS pesanku pada bibi, berikut pesan bibi untukku.
[Hih, gila hormat sekali bibi, lha jelas-jelas bibi yang salah kok. Di grup saja masih terus memojokkan kakak.]
[Ya sudah, nanti kakak ke sana. Nanti kakak minta maaf saja.]
[Enggak usah kak. Untuk apa? Dari dulu bibi memang nggak bisa menghormati keluarga kita. Maunya dihormati, tapi nggak pernah bersikap sebaliknya. Paling nggak menghargai sedikit saja. Nggak mau kalah juga. Enggak tahu bagaimana cerita kebenarannya terus-menerus memojokkan orang lain. Sudah, kakak cuekin saja. Di sini biar kami yang jaga ibu.]
[Jangan begitu, kakak enggak tega sama ibu.]
[Ibu nggak akan kenapa-napa. Cepat atau lambat ibu akan paham kenapa kakak melakukan semua itu. Kami yakin kakak enggak salah. Kami tahu karakter kakak. Ibu begitu karena kaget saja, ditambah terus menerus mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari keluarga kita ]
💐💐💐
"Tira, ada tamu." suara penjaga kos membuatku yang sedang bengong langsung tersadar. Buru-buru ku sambar kerudung, mengira ada tamu yang penting datang mencari. Tapi langkahku surut saat melihat Andre. Lelaki itu benar-benar tidak tahu malu, ia masih berani menemuiku setelah apa yang dilakukan terhadapku.
"Masih berani menemuiku? Benar-benar tidak punya malu!" Aku langsung meradang.
"Tira ... Aku benar-benar mencintai kamu. Ayo kita perbaiki semuanya dan ulang lagi dari awal. Aku sedang proses perceraian dengannya, jadi tolong sabar dan beri aku kesempatan." katanya, sambil berusaha meraih tanganku, tapi dengan sigap aku mengelak.
__ADS_1
"Dengan Andre Winata, saya sudah katakan tidak ingin mengenal anda lagi. Jadi sekarang pergilah dari hidup saya.. mengerti!" kataku tegas.
"Aku nggak akan pergi kalau kamu masih begini. Lagipula kamu sudah sah menjadi istriku, Ra."
"Aku akan mengurus surat cerainya!"
"Ra!"
"Pergi!"
"Kamu yang bilang mencintai aku, tapi kenapa sekarang kamu berubah. Aku berbohong bukan ingin sengaja Tira. Aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu. Percayalah. Kamu enggak tahu bagaimana berada di posisi aku. Perempuan itu bukan istri yang baik, makanya aku nggak sanggup bertahan dengannya. Aku ingin lepas, dan inilah jalanku Tira. Hanya kamu yang aku cintai."
Aku ingin tertawa, melepaskan beban ku. Sebenarnya kekesalanku padanya sudah sangat menumpuk. Ingin sekali ku ajak ia ke atas ring tinju untuk memukul wajahnya. Mengingat aku pernah meraih sabuk hitam di bela diri, tak akan sulit mengalahkan satu laki-laki sepertinya. Barangkali dengan begitu emosiku bisa tersalurkan. Tapi aku tak ingin mengotori tanganku, apalagi buang-buang waktu dengannya.
Andre mengemis-ngemis, tapi aku tak peduli. Mau seburuk apapun istrinya, ia tak boleh menduakan dengan cara curang seperti ini. Ia juga tak boleh menjebak ku dalam rumitnya masalah rumah tangga mereka meski ia mengaku mencintai aku.
"Pergilah sebelum kesabaranku habis!" Kataku.
"Tira," ia masih berusaha untuk meluluhkan hatiku. "Aku lebih baik mati daripada kehilangan kamu. Kalau aku jahat, sejak awal dekat aku sudah melakukan hal yang buruk, tapi tidak ku lakukan karena aku ingin kita menikah Tira."
"Ya sudah, mati saja." kataku.
__ADS_1
"Ra ... kamu serius?" ia terkejut dengan jawabanku, mungkin karena aku tak peduli, akhirnya Andre benar-benar pergi ke tengah jalan. Aku hanya melihat sekilas dari ujung mata, lalu berlalu masuk ke kosan. Aku tak peduli lagi padanya, bahkan meski ia mati pagi ini di depan kosanku. Lelaki seperti itu tak pantas untuk diperhatikan. Pengecut yang bersembunyi di balik kata cinta untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.