Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Haruskah Aku Pergi


__ADS_3

"Kak," Ciya masuk ke kamar. Adikku yang paling sulung itu memelukku erat. "Ciya tahu bagaimana perasaan kakak saat ini, Ciya juga yakin Kakak tidak seperti itu. Kakak bukan perempuan sembarangan. Ciya tahu betul itu. Sebenarnya ibu pun tak bermaksud mengusir kakak, ibu hanya kalut saja. Semua terjadi begitu saja hingga ibu tak bisa berpikir jernih. Padahal ibu sangat menyayangi kakak. Tapi ujian yang membuat kita kembali harus mengalami hal tak enak seperti ini. Apa Ciya bicara sama ibu supaya kakak tetap di sini. Ciya tahu kakak sedang rapuh, tidak boleh kemana-mana. Harus di rumah saja, ya. Ciya juga tidak tega kalau kakak harus kembali ke kosan sendiri malam-malam begini." Ciya ikut menangis.


"Enggak Ya, kakak enggak apa-apa." Kataku. Sambil menyeka sisa air mata. Sekuat mungkin aku berusaha memaksakan senyum, meski pada akhirnya jadi aneh sebab hatiku berkata berbeda. "Ciya, janji sama kakak kamu akan jaga ibu, Elis dan Kiki baik-baik. Kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari kakak. Nanti awal bulan kakak transfer ke kamu saja, ya. Tapi enggak usah bilang ke ibu kalau itu dari kakak. Kamu bisa kan ngarang cerita agar ibu nggak perlu lagi bekerja. Kakak kasihan sama ibu, kesehatan ibu sudah tidak memungkinkan untuk bekerja. Sejak kita kecil ibu sudah berjuang untuk kita, jangan sampai ibu harus bekerja keras lagi ya." Kataku.


"Ya kak, Ciya janji. Ciya akan jaga ibu baik-baik. Ciya juga enggak akan membiarkan ibu bekerja lagi. Kakak juga harus jaga kesehatan, tetap menjaga komunikasi dengan kami ya kak. Kakak ...." air mata kamu kembali tumpah.


Kami berdua berpelukan. Aku bisa merasakan bagaimana beratnya Ciya melepasku. Sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama karena di sinilah sebenarnya tempat ternyamanku saat ini, tapi mau bagaimana lagi.


"Sudah ya. Kakak harus pergi, nanti keburu malam. Kasihan juga ibu, enggak nyaman karena kakak masih di sini." Aku menepuk pelan lengan Ciya, lalu pamit padanya.


Berat, berat sekali langkah ini. Namun sekuat tenaga aku berusaha bersikap kuat. Aku terus berbisik kepada diri sendiri agar tegar. Seolah akan berangkat ke Jakarta seperti biasa di akhir pekan untuk bekerja. Nanti aku pasti akan pulang lagi. Ibu pasti akan menyuruhku kembali.


Entah harus bagaimana. Masih dengan bingung aku meninggalkan rumah, diantar oleh tiga adikku. Sementara ibu, tak lagi tampak sosoknya. Rasanya benar-benar bimbang saat taksi online yang aku pesan datang. Sekuat mungkin aku tak menangis, tapi begitu naik ke atas mobil dan mulai melaju meninggalkan rumah, air mataku langsung tumpah.


"Ya Allah ... Ya Allah ... Ya Allah. Kalau tidak ada Engkau yang menguatkan aku, mungkin saat ini aku sudah hancur sehancur-hancurnya." aku terus mengucap istighfar. Sementara Hp milikku berbunyi. Bergantian pesan dari Ciya, Elis dan Kiki masuk. Mereka menyemangati kepergianku. Tapi pesan itu tak bisa membuatku bangkit. Aku butuh ibu saat ini, aku benar-benar berada di titik terendah.

__ADS_1


💐💐💐


Saat ini, aku benar-benar sendirian. Dalam kondisi terendahku. Aku telah lama kehilangan Abah, lalu kehilangan cinta yang pernah aku kira ada untukku. Sekarang aku kehilangan harta paling berharga dalam hidupku. Yaitu ibu dan adik-adikku. Andai ada cara untuk mengembalikan mereka kembali dalam hidupku, akan ku lakukan.


💐💐💐


Pukul sembilan malam, taksi online yang ku tumpangi berhenti di depan kosan. Usai membayar ongkos, aku turun dengan lunglai. Tak ada semangat sama sekali. Kembali ke sini sebenarnya juga beban untukku, tapi aku tak punya pilihan lain di malam ini selain pulang ke sini.


Tujuanku bukanlah kamarku, melainkan kamar Giya. Ia adalah orang yang ku anggap ikut bertanggung jawab atas semua ini. Dengan amarah menggebu aku mendatanginya.


"Apa sih Ra? Memang masalah? Kamu juga enggak menanyakan hal tersebut kan?" Giya balik bertanya, ia membela diri.


"Apa? Jadi kamu tahu dia sudah punya istri dan anak?"


"Ya."

__ADS_1


"Astagfirullah, Giya. Kamu tahu, aku baru saja menjadi penghancur rumah tangga orang lain!" Aku sampai membelalakkan mata. "Tega ya kamu Giy, kenapa harus menyembunyikan semuanya dariku? Kenapa engga bilang dari awal?"


"Yaelah Ra, apa salahnya sih? Toh bang Andre tanggung jawab sama kamu. Dia menikahi kamu, kan? Dia memilih kamu, kan? Bukan perempuan itu, kan?"


"Dasar kamu tidak punya hati. Kamu kita aku ini perempuan sembarangan seperti kamu yang suka mengganggu suami orang? Aku percaya sama kamu tapi ini yang kamu lakukan padaku. Tega kamu!" Aku meraung-raung, marah besar sebab merasa dipermainkan olehnya.


Sikapku itu membuat kosan heboh. Penghuni yang lain ikut keluar, termasuk mbak Dila. Ia langsung menarikku kembali ke kamar, tak memberi ruang orang lain untuk menjadikanku sebagai tontonan. Sementara Giya, ia sempat memakiku yang ditarik paksa oleh mbak Dila.


"Halah, jangan sok kamu Ra. Kamu juga menikmati semua itu, kan? Kamu juga senang dapat laki-laki kaya. Makanya main pintar supaya tidak ketahuan. Sekarang kalau sudah begini malah nyalahin orang lain. Dasar murahan!" maki Giya yang kesal sebab sempat aku Jambak.


"Seenaknya kamu ngomong. Aku punya harga diri, aku bukan perempuan seperti itu. Kalau kamu seperti itu jangan samakan orang lain dengan kamu. Aku menjaga diriku dengan baik karena aku bukan perempuan sembarangan!" Aku masih berusaha melepaskan diri dari mbak Dila sambil terus meracau. Rasanya sakit sekali hati ini saat disamakan dengan dirinya yang menjual dirinya dengan bebas.


"Halah, sok suci kamu. Sekarang sudah ketahuan saja baru begitu. Kemarin-kemarin enak saja menikmati semuanya. Kamu bisa hidup enak kan juga dari dia, masa sekarang malah maki-maki. Harusnya kamu makasi sama aku, Ra. Aku sudah memperkenalkan kamu dengan orang kaya yang loyal sama kamu. Mana dia juga mau nikahin kamu. Tapi ya jangan berharap banyak dong, sudah syukur dijadikan simpanan. Malah melunjak minta lebih. Sadar kamu."


"Seenaknya kamu Giy! Aku nggak seperti itu. Aku bahkan nggak pernah menerima apapun darinya. Asal kamu tahu, semua ini aku dapatkan dari hasilku bekerja keras. Jaga mulut kamu ya!"

__ADS_1


"Sudah sudah dong Tira. Kamu mau bikin kehebohan seperti apa lagi, hah? Kamu mau semua orang tahu lalu menjadikan kamu sebagai bahan ghibah. Sadar dong. Sudah, sekarang masuk. Jangan lawan dia lagi. Nggak usah diladeni. Masuk!" mbak Dila menarikku sekuat tenaga, ia memaksaku masuk ke kamar. Badannya yang dua kali lebih besar dariku membuatku tak bisa melawannya. Sambil terhuyung huyung aku masuk ke dalam kamar.


__ADS_2