
Tira Pratiwi, itulah aku. Meski Tuhan memberiku rupa yang jelita tapi bukan berarti aku manusia yang hanya mengandalkan wajah saja. Aku juga punya skill, selalu belajar agar bisa berkompetisi dengan lawan-lawanku.
Setelah berhasil menaklukkan proyek pertama bernilai miliaran rupiah, kini proyek kedua, ketiga, keempat hingga proyek kesepuluh kembali berhasil ku rebut. Untuk menyelesaikan semua itu tentunya dibutuhkan banyak tenaga. Pak Saka sudah menambah orang, tentunya dengan rekomendasi dariku. Mereka semua bekerja atas instruksi dariku. Aku sekarang tak lagi menjadi karyawan satu-satunya pak Saka, tapi menjadi wakilnya di perusahaan kami ini.
Keberhasilan yang ku raih tentu saja mengundang decak kagum kompetitor kami. Efeknya, tak sedikit yang mengajakku untuk bergabung dengan perusahaan mereka, tawaran demi tawaran yang tentunya menggiurkan juga diberikan. Mulai dari gaji dua kali lipat lebih besar, fasilitas hingga jabatan manager. Termasuk perusahaan lamaku, ikut memberikan tawaran yang disampaikan langsung oleh wakil direktur.
"Sayang sekali, andai perusahaan bapak mau menjamin perlindungan terhadap karyawan perempuan dari pelecehan yang dilakukan oleh atasannya mungkin dengan senang hati saya akan kembali, tapi karena kalian abai maka saya terpaksa menolak kembali." kataku, pada pak Jimi,wakil direktur.
"Pikirkan lagi Bu Tira, kami memberi tawaran ini karena kami yakin dengan potensi yang anda miliki bisa berkembang di perusahaan kami. Ingat, yang kami tawarkan bukan sekedar menjadi pegawai biasa, tapi menjadi manager. Ya, dengan kata lain anda seimbang dengan pak Robin. Bagaimana, menarik bukan? Kalian bisa berkompetisi dengan baik tanpa adanya tekanan karena posisi kalian sama." kata pak Jimi.
"Tidak, terimakasih pak." kataku. "Kalau bapak memang mau mengajak saya bergabung, saya menginginkan posisi sebagai GM."
"GM? Dengan pengalaman yang belum seberapa ditambah usia anda masih muda. Kalau anda mau bersabar, cepat atau lambat anda juga akan menempati posisi tersebut."
"Tidak. Saya tidak mau. Kalau sekarang saya mendapat posisi itu maka saya siap bergabung, tapi kalau harus menunggu nanti, kenapa juga saya harus bergabung sekarang?" aku melempar senyum. "Maaf pak, tapi sepertinya saya harus pergi karena saya masih punya banyak urusan." kataku, tanpa berpanjang lebar, aku segera meninggalkan pak Jimi yang mengajak ketemuan di cafe dekat kantor kami.
Sebenarnya aku tak punya keinginan untuk bergabung dengan perusahaan lama meski mendapat jabatan sebagai GM. Luka yang ku dapat di sana terlalu besar. Aku ingin lepas dari bayangan itu, makanya menjauh setelah tidak mendapatkan keadilan adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan diri.
Aku sengaja meminta jabatan lebih tinggi untuk membuat dua musuhku ketar-ketir.
"Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik, Ra." kata pak Saka, setelah ku ceritakan semuanya.
"Saya sudah punya pilihan, Pak " jawabku.
"Apa?" ia menatapku harap-harap cemas.
__ADS_1
"Saya akan bertahan di sini saja, kecuali bapak memang tak membutuhkan saya lagi."
"Terimakasih banyak, Tira. Kamu banyak berjasa untuk perusahaan ini." ia menatapku.
***
Kembali perusahaan lama menawarkan agar aku mau bergabung dengan mereka. Tawaran kali ini tidak main-main, jabatan GM akan diberikan padaku. Mendengarnya aku ingin tertawa sebab berhasil mengalahkan dua orang itu.
"Sayang sekali, bapak terlambat sebab saya sudah mendapatkan posisi terbaik di perusahaan sekarang." kataku.
"Tapi kan," pak Jimi tampak bingung.
"Maaf ya pak, saya tak bisa bergabung dengan tim bapak." kataku, lalu berlalu meninggalkannya.
***
"Kamu benar-benar mempermainkan mereka," ucap pak Saka lagi. "Hati-hati Tira, kalau kamu kelewatan nanti malah menimbulkan sakit hati mereka."
"Tapi mereka juga keterlaluan." aku berkilah. "Apa yang saya alami hanya dianggap angin lalu saja. Sekarang, setelah menerima pil pahit atas semuanya baru mereka akan mengajak saya kembali. Tak semudah itu. Siapa juga yang ingin kembali ke tempat yang penuh kenangan buruk itu."
Jika aku dianggap berlebihan atas permainan ini, aku terima. Aku memang ingin mempermainkan mereka. Demi dua orang itu direktur telah mengabaikan aku yang dianggap hanya mengandalkan wajah saja. Sekarang lihatlah, mereka sendiri yang menjilat ludahnya kembali.
"Lalu sekarang apa kamu sudah puas?" tanya pak Saka lagi
"Sudah. Saya tak akan menghiraukan mereka lagi. Sekarang saya akan fokus dengan pekerjaan." kataku
__ADS_1
"Tira, saya mengerti perasaan kamu, tapi menyimpan dendam hanya akan membuat kamu hancur sendiri."
"Ya pak."
Seperti yang dikatakan pak Saka, sekarang aku fokus dengan pekerjaan. Bagaimana caranya membesarkan perusahaan ini, tentunya dengan terus mengasah kemampuanku juga.
***
Perusahaan S Grup terus melaju, sekarang telah memiliki banyak klien. Tentunya karena kerja keras aku dan pak Saka. Kami juga sudah pindah ke kantor yang lebih besar lagi karena jumlah karyawan yang semakin banyak.
Sementara itu kasus hukumku dengan Andre Winata telah disidangkan. Kami dipertemukan kembali di ruang sidang, ia telah dipecat dari pekerjaannya, juga mendapat hukuman atas pasal penipuan terhadapku. Istrinya yang juga ikut dalam persidangan mencoba menghubungi aku, meminta jalan damai agar suaminya tak jadi dipecat.
"Sejak awal siapa yang tak mau berdamai. Saya sudah tawarkan pada mbak agar membicarakan semuanya baik-baik, tapi mbak abaikan saya malah terus memilih menyerang saya lewat media, sekarang semua sudah terjadi, mbak meminta untuk berdamai. Kalau mbak memang ingin damai, apa mbak bisa membersihkan nama baik saya lagi? Apa mbak bisa mengganti rugi atas perundungan yang saya terima akibat ulah mbak!" kataku.
"Maafkan saya mbak Tira. Saya terbawa emosi. Saya benar-benar hilang kesabaran saat tahu suami saya menikah lagi." katanya
"Kalau saya tahu ia suami orang, saya tak akan mau menjalin hubungan dengannya. Sekarang semuanya telah terjadi, maafkan saya mbak, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi "
"Tolonglah mbak Tira, Deni masa depan anak-anak saya."
Sebenarnya berat mengabulkan permohonan mbak Lina, tapi melihatnya memohon sambil membawa anak-anaknya membuatku luluh. Aku menyetujui namun dengan beberapa persyaratan. Meski perlakuan mbak Lina cukup keterlaluan, namun, sebagai anak yang ibunya pernah diposisi mbak Lina membuatku bisa memaklumi.
Anak-anak Andre Winata tak bersalah, mereka berhak mendapatkan kehidupan yang baik tanpa merasakan efek dari perbuatan ayah mereka.
"Besok kita bertemu lagi." kataku, setelah mengajukan persyaratan untuk berdamai. Tentunya salah satunya adalah Andre Winata tak boleh menemuiku lagi, apapun yang terjadi. Secara langsung maupun tidak langsung. Ia harus menghilang untuk selamanya. Mbak Lina setuju, mereka janji setelah masalah ini selesai maka keluarga mbak Lina akan pindah ke luar kota.
__ADS_1