Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Bicara Pada Ibu


__ADS_3

"Kamu berhutang penjelasan semua ini pada ibu, Ra!" Kata ibu, setelah semuanya benar-benar pergi dari rumah kami, hanya tersisa aku, ibu dan adik-adikku. Ibu berangsur pergi meninggalkan kami, menuju kamarnya. Aku yang sudah lelah fisik dan hati ikut pergi ke kamarku.


Ya Tuhan, episode apalagi ini? Kenapa aku harus melewati fase-fase tidak mengenakkan dalam hidupku? Kenapa hingga sekarang aku tak kunjung mendapatkan bahagiaku? Aku menangis dalam diam, seperti dulu. Rasanya dunia ini benar-benar keras kepadaku, aku seperti tak berhak merasakan bahagia, meski itu semu.


Entah sudah jam berapa ini. Aku memherjap-ngerjapkan mata, berusaha membuat nyaman netra yang sudah bengkak karena menangis sejak tadi pagi. Dari balik tirai jendela kamar, bisa ku lihat matahari telah tenggelam, berganti menjadi warna jingga. Mungkin sekarang sekitar pukul enam atau tujuh malam.


"Ya Rabb," aku menutup wajah dengan kedua tangan. Mencoba menenangkan hati yang masih gelisah. Namun tetap saja hati ini tak tenang. Padahal sudah tidur hampir setengah hari. Kini tanganku meraih Hp di atas tempat tidur. Cukup banyak pesan masuk. Yang paling banyak adalah pesan dan panggilan tak terjawab dari bang Andre. Laki-laki itu benar-benar tidak tahu malu, ia masih berani menghubungi aku setelah apa yang dilakukannya. Padahal aku sudah mengatakan tak ingin mengenalnya lagi untuk selamanya.


Pesan-pesan lain dari teman-teman kantor yang mengucapkan selamat atas pernikahanku. Hatiku langsung miris membacanya. Rasanya ingin lari saja dari semua ini, pergi ke suatu tempat dimana orang-orang nya tidak ku kenal dan mengenalku. "Aghhhh!" Aku berteriak frustasi.


Sebelum menutup Hp, pandanganku tertuju pada sebuah pesan yang membuat keningku berkerut. Dari nomor yang tidak ku simpan. Ada dua pesan baru darinya, sebelumnya sudah ada beberapa pesan yang ia kirim. Pak Saka, direktur entah perusahaan apa yang kemarin-kemarin sempat menawarkan pekerjaan untukku. Saat seperti ini ia malah kembali menawarkan pekerjaan dengan pesan yang membuatku tersenyum miris.


Aku ingat kata-kata ibu, menunggu penjelasan dariku. Saat ini aku yakin ibu sedang menungguku. Supaya tenang, aku memutuskan salat terlebih dahulu, setelah itu keluar dari kamar.


Suasana rumah masih sepi. Entah kemana ibu dan tiga adikku. Perlahan-lahan aku mengintip ke dapur dan ruang tamu. Mereka juga tak ada di sana. Ku putuskan ke kamar ibu. Dan ternyata benar, ibu ada disana. Tengah duduk merenung.


"Bu," panggilku.

__ADS_1


"Kalau sudah bisa menjelaskan, baru ngomong. Kalau belum, lebih baik kamu ke kamar saja." Kata ibu.


"Tira siap menceritakan semuanya." aku masuk ke kamar ibu, duduk di lantai, sementara ibu di atas tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah. "Maafkan Tira, Bu." Kataku, sambil meraih kaki ibu, menciumnya, tak terasa air mataku pun ikut mengalir. "Tira nggak tahu kalau dia sudah punya istri. Tira kenal dia dari teman kampus Tira. Tiga bulan saling mengenal rasanya nggak ada yang aneh selain ia yang tak kunjung memperkenalkan Tira dengan orang tuanya. Tapi Tira fikir itu normal sebab ia beralasan orang tuanya di Singapura. Ayahnya sakit lemah jantung, jadi harus stay di Singapura untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Tira sudah meminta dikenalkan lewat telepon, tapi bodohnya Tira, ia bisa mengelabui dengan berbagai alibi sehingga lagi-lagi Tira gagal untuk mengetahui Keluarganya"


"Itu semua tidak bisa dijadikan alasan, Tira!"


"Tira tahu ibu kecewa sama Tira. Tapi sungguh Bu, Tira juga tidak ingin mengalami semua itu. Tira sudah sangat hancur saat tadi ada perempuan mengaku isterinya."


"Tira ... kamu itu sudah besar, sudah sarjana. Masa untuk tahu laki-laki itu sudah beristri atau belum enggak bisa. Kamu nggak sebodoh itu. Kamu itu selalu jadi juara di sekolah sejak sekolah dasar sampai kuliah. Bahkan kamu bisa masuk perusahaan benefit karena otak kamu yang cemerlang. Masa kamu enggak punya feeling sih."


"Halah, alasan kamu saja. Ibu benar-benar sedih, Ra. Kamu enggak tahu bagaimana rasanya suami direbut perempuan lain. Sakit, Ra. Sakit. Apalagi kalau kita sudah punya anak. Kok ya kamu tega melakukan itu semua. Ibu enggak bisa terima, Ra. Apapun alasannya kamu!"


"Maafin Tira, Bu."


"Maaf saja enggak bisa mengubah semuanya. Ibu enggak mau gara-gara ulah kamu itu adik-adikmu juga kena imbasnya."


"Maksudnya ibu bagaimana?"

__ADS_1


"Ra, kita ngomong buka-bukaan saja. Kamu tega kalau nanti adikmu menjalin hubungan dengan laki-laki lain lalu keluarga mereka menolak karena kamu? Apalagi ditambah kalian yang punya ayah keganjenan serta tidak bertanggung jawab seperti Abah kamu. Enggak, kan? Kalau begitu lebih baik kita jaga jarak saja dahulu sampai semuanya membaik."


"Maksudnya ibu bagaimana?"


"Ra, pergilah dulu. Kamu kan sudah punya pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi. Hiduplah sendiri dulu. Jangan pulang sampai ibu mengizinkan, tidak perlu juga mengirimi kami uang. Ibu masih bisa menafkahi adik-adik kamu. Lagi pula sebentar lagi Ciya lulus kuliah, dia juga ditaksir anak Pak kyai. Beri dia kesempatan meraih bahagia."


Ibu mengusirku. Kata-kata ibu sukses membuatku tak punya semangat hidup. Aku hancur sehancur-hancurnya. Sekuat mungkin ku tahan diri ini agar tak menangis, namun gak bisa. Air mata itu luruh juga. Bahkan sangat deras.


Aku masih bisa kuat jika disakiti Abah ataupun orang-orang di luar sana. Namun ketika kata-kata itu keluar dari mulut ibu, rasanya hidupku berakhir. Aku hancur sehancur-hancurnya.


"Baiklah, Tira pergi." Kataku. Singkat. Meski sebenarnya ada banyak kata-kata yang ingin ku ucapkan. Aku pun tak ingin begini, gagal menikah, bahkan masih di awal. Tapi siapa yang bisa mengatur takdir Tuhan.


Tubuhku rasanya sangat lemas, air mata tak kunjung reda saat aku meninggalkan kamar ibu, mengebas semua pakaian di lemari kecilku. Rasanya tak punya tenaga, aku benar-benar hancur.


Berat rasanya meninggalkan kamar ini, rasanya aku masih ingin berlama-lama di sini sebab saat seperti ini aku butuh kenyamanan untuk menguatkan hatiku. Tapi tempat ini sudah tidak menginginkan aku lagi. Kamar kecil ini, meski sangat sederhana namun menyimpan banyak kenangan.


Di sini, dari dulu aku tidur sendiri sebab ukurannya sangat kecil, semnetara adik-adikku tidur di kamar sebelah bertiga dengan ukuran kamar mereka yang lebih luas. Di kamar ini aku bisa puas menangis bila ada air mata. Sebab sebagai anak sulung, aku dituntut untuk kuat sejak dini. Tak boleh ada air mata kesedihan sebab akulah yang menjadi tempat mereka bersandar. Itulah kenapa aku selalu terlihat kuat sebab semuanya sudah ku tumpahkan di kamar ini. Dan sekarang aku harus meninggalkan tempat ini

__ADS_1


__ADS_2