Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Ibu ....


__ADS_3

Dadaku teramat sesak mendengar semua cerita Mbah tadi. Tapi tak ada air mata yang keluar sebab terasa sekali sakitnya.


Cantik itu benar-benar menyiksa. Saat banyak perempuan ingin memiliki paras rupawan, aku menginginkan sebaliknya karena penderitaan yang tak juga berakhir. Aku kasihan pada perempuan yang telah melahirkanku tersebut. Ia harus menderita karena kecantikannya. Padahal ia tak ingin jadi perempuan kedua, tapi takdir mengatakan lain. Kepolosannya dimanfaatkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab.


Kini, aku dan pak Saka dibawa menuju rumah ibu. Rumah yang lebih layak disebut gubuk itu telah hancur sebagian dinding dan atapnya karena termakan usia. Di sebuah ruangan yang tersingkap ada bekas pasungan. Di sana ibuku di pasung.


Ibu dianggap gila hanya karena pernyataan yang dibuat atas kesepakatan para wanita muda di kampung itu. Padahal kemungkinan ibu depresi karena tertekan akibat kehilangan aku dan dikucilkan oleh para wanita muda di kampung ini.


"Jahat, benar-benar jahat!" kataku, sambil berteriak-teriak sekuat mungkin. Aku tak peduli jika orang-orang kampung yang kebetulan ada di sana atau bahkan sedang lalu-lalang melihat ke arahku. Perasaanku benar-benar hancur.


Saat kami diajak ke makam ibu, di atas pusaranya aku menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa ... Kenapa terlambat kita bertemu. Aku ingin memelukmu ... Ibu. Engkau harusnya kuat, bu. Lihatlah aku, lihat aku. Aku juga bernasib sama seperti engkau. Sekarang aku harus bagaimana? apakah aku juga harus menjadi manusia tak berdaya seperti engkau. Menerima takdir, menangis dan tak melawan jika disakiti? Ibu ... harusnya kita melawan mereka. Harusnya mereka juga merasakan penderitaan yang sama dengan penderitaan yang kita alami!" kataku.


Andai tak ada pak Saka. Aku mungkin tak akan mau beranjak dari makam ibu. Aku ingin berakhir di sini juga. Agar kelak semua orang tahu, dua orang, ibu dan anak, diperlakukan tidak adil dan harus berakhir tiada karena kejahatan mereka.


"Ra ... sudah siang, kita harus pergi dari sini." kata pak Saka.


Aku masih diam, membelai lembut pusara ibu.


"Ra ... menangisi yang telah pergi tak akan mengubah apapun. Doakan ibumu."


"Haruskan aku membalas dendam?"


"Tira,"


"Aku benci. Aku marah. Aku sakit hati. Aku sedih. Mereka sangat kejam!"


"Sudahlah, ayo kita pergi." pak Saka menarik tanganku, ia membuatku harus bangkit, lalu memaksaku meninggalkan makam ibu.


"Aku membenci mereka semua, pak. Termasuk ibunya Ciya." kataku.


"Kamu bicara apa. Kalau kamu membenci tak akan mengubah semuanya. Yang ada kamu yang akan hancur karena kebencian yang kamu tanam."


"Ahhh, aku tak butuh nasihat siapapun. Aku benci semuanya!" emosiku sudah tak tertahankan. Aku pergi meninggalkan pak Saka. Berjalan kemanapun tanpa tahu tujuannya. Namun saat aku benar-benar lelah, akhirnya aku hanya bisa menghempaskan tubuh ke jalanan yang ditumbuhi rumput.


"Kalau kamu mau menangis, menangislah. Kalau kamu mau teriak, teriaklah. Tapi yang jelas, jangan pernah hancurkan diri sendiri. Kamu sendiri yang akan rugi, Ra. Kamu masih bisa melanjutkan hidupmu dengan baik, saya yakin kalau kamu mengikuti apa yang aku katakan maka ibumu akan bangga. Tapi kalau kamu melakukan hal sebaliknya, ia pun pasti sedih." kata pak Saka.

__ADS_1


Aku diam.


"Tira ... kamu sedang berada dalam fase terendah di hidup kamu. Wajah kalau kamu merasa sedih, kesal bahkan teramat marah sebab mereka sudah keterlaluan. Tapi kalau kamu tak mau bangkit, mereka akan senang sebab itulah yang mereka inginkan!" kata pak Saka lagi.


Entah kenapa, aku menurut pada pak Saka, mengikuti petunjuknya..Aku kembali bangkit, mengikutinya kembali ke hotel. Meski sampai di sana aku langsung masuk kamar, memilih tidur untuk menenangkan diri sendiri.


***


Suasana hati ini masih sangat berantakan ketika Ciya menelepon berkali-kali. Awalnya panggilan itu ku abaikan, tapi karena ia tak berhenti juga, akhirnya ku putuskan untuk mengangkat.


[Halo,] kataku.


[Akhirnya kamu ngangkat telepon aku juga, kak. Puas kamu sekarang sudah menghancurkan hidupku?] ucap Ciya di ujung sana.


[Kamu bicara apa? Aku nggak ngerti. Apalagi salahku? Kenapa harus memaki seperti itu? Walau kita bukan lahir dari ibu yang sama, tapi kita tumbuh besar bersama, jadi jangan keterlaluan seperti itu. Bagaimanapun juga aku kakakmu. Kita punya ayah yang sama!]


[Kamu sudah tahu itu tapi kenapa kamu menyakiti aku?]


[Aku tak menyakiti siapapun. Kalian yang menyakiti aku.]


[Jangan banyak bicara. Kamu yang membuat pernikahan aku dan mas Bagus Batal. Iya, kan?]


[Mas Bagus membatalkan pernikahan sesaat sebelum akad.]


[Oh, aku turut sedih.] Klik. Telepon aku matikan. Hatiku kembali berdebar tak karuan. Apa lagi ini?


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Aku hanya bisa mengucap istighfar berulang kali, mencerna cerita yang sesungguhnya dari pesan masuk yang dikirim hampir semua saudaraku.


Mulai dari Ciya, mbak Dila dan keluarganya, bahkan juga anak tiri ayah.


Mereka semua kompak memakiku, menyalahkan aku. Hanya karena saat menjelang akad mas Bagus membatalkan pernikahan dengan alasan ia tak mencintai Ciya melainkan aku.


Sial.


Aku menggerutu. Kesal dengannya. Kalau ia memang mencintai aku lalu kenapa malah menerima lamaran Ciya bahkan bersedia menikah dengan Ciya.


[Aku tak menyangka mas jahat, kenapa membawaku dalam masalah? Kalau tak mencintai Ciya, atau ingin mempermainkan hatinya, jangan bawa-bawa aku!] aku mengirim pesan pada mas Bagus.

__ADS_1


[Aku bisa jelaskan semuanya. Bisa kita ketemu?] balasnya.


[Aku nggak butuh penjelasan. Kalau mau menjelaskan, jelaskan pada Ciya dan keluarganya. Jangan aku. Sudah ku katakan kalau aku hanya anak angkat, tak berarti keluarga itu, apa yang mas lakukan menambah buruk posisiku.]


[Ra, kita bicara ya.]


[Aku sedang di Jogja. Mencari ibuku.]


Mas Bagus meminta kesempatan padaku untuk menjelaskan kenapa semuanya terjadi. Ia tak bermaksud menyakiti aku. Ia hanya ingin memberi mereka pelajaran sebab sudah bersikap tidak adil padaku. Tapi ia pun melakukan hal yang sama, bahkan menurutku lebih parah.


Kesal. Aku menyambar kerudung, lalu keluar dari kamar. Bersamaan, pak Saka juga keluar. Kami saling diam sesaat, lalu aku melanjutkan jalan di lorong hotel, ia mengikuti di belakang.


"Kenapa masalah di hidupku tak berhenti-henti," kataku.


"Karena Tuhan ingin kamu naik kelas." jawabnya.


"Kenapa harus aku terus?"


"Terserah Tuhan. Kamu makhluknya, terserah Dia mau menakdirkan seperti apa."


"Kamu siapa?"


Ia tersenyum.


"Kenapa kamu selalu membuat hatiku tenang?"


"Ini juga bagian dari takdir Tuhan."


"Pak,"


"Ya?"


"Apakah tawaran itu masih berlaku?"


"Apa?'


"Menjadi istri bapak."

__ADS_1


Ia tersenyum. "Kapan kita ke KUA?"


"Secepatnya!" kataku


__ADS_2