Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Trauma


__ADS_3

Cahaya matahari masuk lewat jendela kamar apartemen Amanda. Aku mengucek mata, bangkit perlahan sebab kepala ini rasanya sangat sakit. Kalau tak ingat belum salat Subuh mungkin aku memilih tetap berbaring sebab rasanya untuk bangun begitu berat. Begitu banyak beban hidup, aku yang hanya manusia biasanya ini rasanya tak sanggup untuk menjalankan semuanya sendiri.


"Kamu sudah bangun, Ra?" tanya Amanda. Ia baru pulang dari luar, membawa satu kantong kresek yang entah apa isinya. Tapi dari aromanya sepertinya itu makanan.


"Aku izin salat dulu." kataku pada Amanda.


Ia diam saja, membiarkan aku berwudhu lalu menunaikan salat Subuh. Semalam, entah sudah berapa jam aku tidur. Rasanya karena banyak masalah, badanku begitu letih. Sulit untuk bangun hingga melewatkan waktu-waktu salat, makanya sekarang aku menggantinya.


Usai salat, aku bergabung dengan Amanda. Ia sudah menghidangkan dua bungkus nasi uduk dengan telur balado. Mencium aromanya membuatku langsung kelaparan. Setelah dipersilahkan maka aku langsung menyantap, sementara ia masih membuat dua gelas teh hangat.


"Kamu salat, tapi kenapa ujian hidupmu berat sekali ya Ra? Enggak kalah berat dari ujian hidupku. Tapi kalau aku kan bisa maklum, Tuhan memberi aku masalah karena aku memang tak pernah salat." kata Amanda.


"Salat itu kewajiban setiap muslim yang sudah baligh dan berakal, Man. Kamu salat, tidak akan menjamin kamu tidak akan mendapatkan ujian. Justru ujian itu adalah bentuk Allah mengingat kita. Tak akan luput dari ujian seseorang yang mengaku beriman. Kalau tidak dapat ujiian, hidup mulus-mulus saja padahal selalu melakukan dosa, namanya istinjra. Harus hati-hati. Kalau kamu, itu berarti Allah masih sayang kamu, Man. Allah ingin kamu kembali pada-Nya." Kataku, sambil mengunyah nasi uduk.


"Masa, Ra? Aku kan penzina, juga ...."


"Juga apa? Merasa dosanya banyak? Mau sebanyak apapun, kalau kamu benar-benar bertaubat sama Allah dan menyesalinya, maka Allah akan mengampuni. Yang penting taubatnya sungguh-sungguh, Man."


"Begitu ya Ra?"


"Yap. Coba saja Man. Mungkin ini cara Allah agar kamu kembali jadi Amanda yang dahulu, yang waktu kecilnya rajin salat dan mengaji ke surau. Iya, kan?"


.

__ADS_1


"Ra ... ada hal yang belum kamu ketahui."


"Apa?"


"Aku terinfeksi."


"HIV? Innalilahi."


"Ya Ra. Aku positif. Aku enggak tahu kalau Hito dan kedua bang--- itu suka jajan diluar juga. Aku benar-benar menyesal, Ra. Hidupku sudah hancur."


"Belum Kan, Tuhan masih ingin kamu kembali."


"Dengan dosa yang teramat banyak ini?"


Aku memeluk Amanda, mencoba memberikan semangat untuknya menjadi lebih baik lagi. Saat ini, dengan sakit yang ia derita, mungkin rasanya tak ada masa depan lagi, tapi Allah itu Maha baik, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Saat merenungi itu, aku jadi teringat masalah hidupku sendiri. Sebesar apapun masalahnya, harusnya aku hadapi, bukannya dihindari.


Usai sarapan, aku mencoba menghubungi nomor mas Saka untuk mengetahui keberadaannya, tapi nomornya tidak aktif. Entah kemana ia. Ku putuskan untuk menunggu setelah mengirimkan pesan permohonan maaf dan meminta untuk dihubungi kembali.


Dua jam sudah berlalu, mas Saka belum juga membalas. Nomornya juga belum aktif. Karena khawatir, makanya aku memutuskan mencarinya ke kantor, ruko, apartemen bahkan ke rumah baru kami, tapi mas Saka tidak ada. Aku benar-benar khawatir.


"Kira-kira mas Saka kemana ya?" Aku terus bertanya-tanya. Tak tahu lagi harus mencarinya kemana.


Dua hari berturut-turut aku mencari, tetapi lelaki itu tetap tidak ada. Perasaanku makin tak karuan. Aku bimbang, tak punya teman untuk berdiskusi. Di sini hanya ada Amanda. Meski ia menyediakan telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku, tapi aku memutuskan tidak curhat terlalu banyak padanya. Aku tak ingin menambah beban pikiran Amanda yang saat ini juga punya masalah yang tak kalah peliknya.

__ADS_1


Hari ketiga, aku sudah tak sabar lagi. Akhirnya aku nekat menunggunya di kantor. Dan benar dugaanku, ia muncul di sana. Awal melihatku ia marah, bahkan mengusirku. Tapi aku bertahan. Mungkin karena tak mau mengundang perhatian karyawannya, makanya ia mengajakku pergi naik mobil. Setelah agak jauh, ia memberhentikan mobilnya, lalu menyuruhku keluar.


"Aku tahu ini enggak dewasa, tapi tolong, ayo kita bicara." Kataku. Mulai lelah dengan sikap mas Saka yang baru ku sadari agak egois.


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya.


"Mas ... aku istrimu. Apa begini cara memperlakukan istri?"


"Kamu yang pergi duluan.".


"Ya aku salah. Aku minta maaf. Aku bahkan sudah menghubungi kamu sejak tiga hari lalu. Aku mencari kamu kemana-mana tapi tidak ketemu. Sekarang baru ketemu setelah aku menunggu seharian di kantor. Apa yang mengganjal pikiran kamu, ayo kita bicarakan."


"Aku tidak mau bicara!"


"Baiklah kalau begitu, kenapa tidak selesaikan saja semua ini. Lepaskan aku." Kataku, dengan mata berkaca-kaca. Aku benar-benar sudah bingung meminta maaf padanya. Tetapi tidak digubris. Rasanya sudah sangat lelah jiwa dan raga. Kalau ia memang sudah gak mau bersama denganku, tak mengapa. Tapi aku membutuhkan talak darinya agar aku tak perlu dibebani dan berdosa lagi.


"Oh, jadi kamu anggap pernikahan ini hanya main-main saja? Setelah akad lalu kamu ingin lepas dariku. Sama seperti dengan mantanmu itu? Sakit kamu Ra!" tuduh mas Saka.


"Mas nggak berhak mengatakan begitu. Mas nggak tahu bagaimana gelisahnya aku menghadapi hari-hari ini ketika kamu menghindari aku. Aku tak pernah mau menyamakan kamu dengan siapapun apalagi laki-laki yang membuatku trauma. Ia menghancurkan hidupku dan sekarang mas malah menuduh aku seperti itu? Sungguh aku tak pernah bermaksud begitu." kataku dengan suara bergetar menahan sesak. Sakit sekali dituduh seperti itu.


"Asal kamu tahu, aku sudah mencari tahu semuanya tentang mantan kamu. Ia dan istrinya sudah bercerai. Ia masih terobsesi sama dan mungkin sedang memikirkan cara untuk kembali pada kamu. Entah apa yang sudah kamu berikan padanya."


"Mas, sudah, cukup!" aku meradang. "Kalau kamu tidak bisa menerima masa lalu aku ya tidak masalah. Aku memang punya pengalaman buruk yang kamu sendiri sudah tahu semuanya. Tapi aku tak sejauh itu. Bahkan aku sama sekali tak melakukan hal yang kalian tuduhkan. Aku tak perlu membuktikan apapun karena bagiku seseorang yang mencintai aku harusnya juga percaya padaku. Tapi kalau kamu tak bisa mempercayai aku dan terus menduga -duga, aku menyerah mas. Maafkan aku. Terserah kamu mau menalak aku atau tidak tapi aku sudah menyerah." Kataku, lalu turun dari mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2