Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Hadiah Mahal Dari Bang Andre


__ADS_3

"Kamu yakin Ra, mau menikah dengannya?" tanya Ibu, setelah semuanya pulang, hanya tinggal aku, ibu dan adik-adik.


"Bang Andre, Bu." aku mengingatkan ibu namanya.


"Ya. Itu. Yakin?"


"Memang kenapa, Bu? Bukannya ini yang mengatakan agar tak berlama-lama menjalin hubungan, kalau sudah yakin segera menikah."


"Iya, tapi ...."


"Kenapa Bu?"


"Ibu kok ngerasa nggak yakin ya, Ra."


"Alasannya?"


"Usia kalian lumayan, beda delapan sampai sembilan tahunan kan? Lalu keluarganya, kamu sudah kenal semua? Setidaknya sudah pernah telponan? Atau kehidupan dia bagaimana, Ra? Selain dia kerja di Migas, tentang teman-temannya, atau pergaulannya, kamu tahu semua? Duh, andai kalian punya ayah yang peduli atau punya saudara laki-laki, mungkin ibu akan suruh mereka untuk memata-matai dia dulu agak beberapa waktu agar yakin kalau pilihan kamu benar."


"Bu, InshaAllah bang Andre orang yang baik. Tira percaya sama dia."


"Kamu itu sedang jatuh cinta, Ra. Jadi yang kamu lihat tentangnya ya bagus semuanya. Kamu nggak akan melihat cacatnya. Maksud ibu itu agar kamu enggak salah pilih. Menikah itu ibadah terlama, Ra. Jangan sampai deh kamu seperti ini. Amit-amit Ra. Apalagi kalau kamu sudah punya anak. Ibu akan sangat sedih Ra kalau kisah ibu terulang ke anak-anak ibu."


"InshaAllah enggak akan terjadi Bu. Tira sudah ceritakan semua padanya dan dia janji nggak akan mengecewakan Tira."


Ya semoga begitu ya Ra."


Malam itu, aku tidur dengan berbagai rasa. Usai berbincang dengan ibu membuatku bertanya-tanya tentang orang tua bang Andre. Kenapa aku enggak mencoba minta dikenalkan lewat telepon saja dulu. Sekarang kan semuanya sudah canggih, lewat wa sudah bisa komunikasi, berkenalan dengan orang yang berada jauh dari Kuta. Setidaknya, kami sudah saling kenal meski secara virtual.


💐💐💐

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi, aku dan Kiki, adik bungsuku sudah ada di Margo City, salah satu mall terbesar di Depok. Ia menemaniku berbelanja seserahan untuk pernikahan bersama bang Andre. Ibu yang meminta sebab ibu tak mau kalau aku pergi berduaan saja. Saat kami baru datang, bang Andre sudah ada di sana menunggu. Rupanya ia datang lebih pagi sebab takut terlambat. Jalanan Jakarta menuju Depok memang biasanya macet.


Dua jam kami bertiga berkeliling membeli barang-barang kebutuhan pernikahan. Bang Andre membelikan banyak barang-barang mewah untukku, padahal aku sudah menolaknya. Bahkan untuk cincin pernikahan pun ia membelikan berlian paling mahal di tokonya.


"Ini terlalu berlebih-lebihan bang. Abang sudah membelikan barang bermerek sangat banyak. Ada tas, sepatu, baju, perhiasan, jam tangan, hp hingga makeup yang aku sendiri tak pernah pakai. Masa masih nambah cincin kawin semahal ini. Nanti uang Abang habis lho." kataku.


"Enggak Kok Ra. Abang sudah nabung sejak lama untuk pernikahan ini, jadi segini masih belum ada apa-apanya. Nanti kamu akan lihat apa yang akan Abang berikan untuk ibu dan Abah." Katanya.


" Duh nggak usah bang. Aku nggak enak."


"Nggak apa-apa Ra. Ngasih untuk mertua nggak akan bikin rugi. Seperti yang dikatakan Abah kamu, mereka sudah melahirkan, membesarkan, mendidik dan memberikan yang terbaik untuk kamu. Masa waktu aku mau menikahi kamu nggak ngasih apa-apa. Nggak tahu balas Budi banget aku. Sudah diserahkan putri terbaik mereka malah dibalas asal-asalan."


Mendapatkan perlakuan seperti ini harusnya aku bahagia, namun rasanya sangat ganjal sekali. Seperti yang dikatakan ibu, kadang segala yang berlebihan itu tidaklah baik.


"Bang, sebenarnya ada dua hal yang ingin aku sampaikan." kataku.


"Itu ... ibu tetap ingin agar kita menikah secara negara juga. Bagaimana?"


"Lho, kan sudah aku katakan kalau aku masih kontrak enam bulan ini, sayang. Setelah itu kalau kita menikah secara negara tidak jadi masalah. Karirku nanti juga akan jadi masa depan kita, sayang. Kamu bisa kan bujuk ibu untuk bersabar nunggu enam bulan ini? Bagaimana sayang?"


"Bukannya enggak mau, bang. Tapi aku juga enggak tega untuk menolak permintaan ibu. Kata ibu demi ketenangan hatinya."


"Mmmm, sayang, aku kan siap memberikan banyak untuk pernikahan ini, masa ibu tetap enggak percaya sama aku? Apalagi yang mengganjal? Kalau aku paksakan dan kantor tahu bisa-bisa malah jadi masalah. Kalau pernikahannya diundur, Abah kamu kan sudah setuju. Nanti apa tidak jadi masalah?"


"Bang, ibu punya kenalan masih saudara yang kerja di KUA, dia bisa bantu kita ngurus semuanya. Agar kita menikah secara hukum dan aman di kantor Abang. Abang hanya tinggal siapin KTP dan surat pengantar. Bagaimana bang?"


Bang Andre sempat menawar, tapi aku tetap pada pendirian. Bagaimanapun juga apa yang dikatakan ibu ada benarnya juga. Kadang orang yang sudah menikah secara siri merasa sudah nyaman sebab sudah halal jadi lupa untuk mendaftar ke negara, bahayanya nanti kalau cepat diberi keturunan, anaknya jadi tidak tercatat secara negara.


"Ya sudah, nanti surat-suratnya Abang usahain nyusul ya. Semoga saja bisa diurus semuanya tanpa menimbulkan masalah." kata bang Andre.

__ADS_1


"Satu lagi bang, kalau nikahnya pekan depan, orang tua Abang datang, kan?" Tanyaku.


"Hah, mmmm, kayaknya kecil kemungkinannya sayang. Tapi Abang usahain paksakan papa dan mama untuk datang. Hanya saja Abang takut kondisi papa ...."


"Kalau bermasalah enggak usah saja bang. Kasihan papanya Abang.'


"Tapi tetap Abang usahain Ra. Abang nggak mau ngecewain kamu dan keluargamu."


"Bang, bagaimana kalau kami kenalan secara virtual dulu."


"Maksudnya?"


"Abang bisa telpon papa dan mama Abang, terus kami dikenalkan."


"Oh gitu ya?" Bang Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya bang."


"Ya sudah."


"Sekarang bang?"


"Hah, sekarang? Tapi kan ini ...."


"Kita bisa masuk Resto itu bang." Aku menunjuk salah satu resto yang cukup tertutup dan ada ruang privasinya. Kalau sekedar ngobrol via wa rasanya cukup nyamanlah. "Bagaimana bang?"


"Jangan sekarang ya sayang. Bagaimana kalau besok? Soalnya Abang nggak enak kalau tiba-tiba nelfon, khawatir papa sama Mama belum siap. Mereka kan sedang di rumah sakit. Bagaimana kondisi papa sekarang Abang belum update karena mau fokus ngurus pernikahan kita. Ya. Enggak apa-apa kan? Atau kalau kamu mau ngomong sekarang Abang telfonin ya. Semoga saja kondisi papa lagi stabil supaya kalian bisa ngobrol. Sebenarnya mama sama papa juga pengen banget segera ketemu sama kamu tapi kondisinya belum memungkinkan."


"Oh ya, enggak apa-apa bang. Nanti saja kalau semuanya sudah membaik. Aku juga nggak mau orang tua Abang jadi enggak nyaman." Meski agak kecewa tapi aku memaklumi. Aku juga tidak mau perkenalan pertama kami menimbulkan kesan tidak baik dari calon mertuaku. Bagaimanapun nanti setelah kami menikah, hubunganku dan orang tua bang Andre akan panjang dan harapanku kami akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2