Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Penghakiman Mbak Dila dan Keluarga Besar 2


__ADS_3

Aku benar-benar sudah lelah hati dan fisik, menangis dan terus memikirkan nasibku. Rasanya belum pernah selelah ini sebelumnya. Namun entah mengapa Maya ini juga tak kunjung bisa terpejam. Mungkin karena otak terus saja berpikir.


Selain itu, sejak tadi tanganku aktif membuka pesan-pesan yang masuk di grup keluarga hingga tak lama aku dikeluarkan oleh admin keluarga setelah mbak Dila melaporkan kejadian tadi, tentunya dengan bumbu yang ia ungkapkan tadi. Bahwa aku membuat onar di kosan, mengamuk dan menyerang siapapun sebab persekongkolan ku dengan Giya terbongkar. Makian dan tentunya penghakiman sepihak lancar di ketik oleh saudara-saudaraku. Hanya ibu dan tiga adikku yang tak berkomentar sedikitpun. Entah bagaimana tanggapan mereka tentang itu semua, setelah diusir oleh ibu, entah kenapa aku jadi merasa kehilangan kepercayaan diri, aku merasa sangat yakin tak akan ada yang membelaku, semua akan menelan mentah-mentah semua berita buruk tentangku, bahkan kapan perlu ditambah-tambah.


[Begitulah buruknya ibukota kalau tidak pintar-pintar menjaga diri. Itulah kenapa saat melepaskan Dila untuk bekerja di Jakarta, kami selalu tak bosan menasihatinya. Tapi karena dasarnya Dila itu baik dan niatnya tulus mau nyari rezeki makanya selalu dijaga Allah.] begitu pesan dari Bibi, ibunya mbak Dila.


Benar-benar menguji kesabaran. Sebenarnya aku paham kenapa keluarga mbak Dila bersikap begitu, sangat bernafsu untuk menjatuhkan aku di grup. Ibu pernah mewanti-wanti saat aku akan tinggal di Jakarta dan kebetulan akan satu kos dengan mbak Dila.

__ADS_1


Sekitar empat bulan lalu, menjelang wisuda, seseorang yang masih terhitung saudara jauh Keluarga kami mengajukan lamaran pada kakek untuk putra mereka. Putranya, selain berasal dari keluarga terpandang, juga punya wajah rupawan dan sudah S2, ditambah punya pekerjaan bagus juga di pemerintahan. Namanya mas Bagus, sekarang tinggal di Bogor.


Orang tua mbak Dila yang tahu lamaran itu langsung meminta agar putri mereka yang diajukan, kebetulan mbak Dila sudah dua tahun lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Depok. Kakek memenuhi permintaan itu, namun mas Bagus menolaknya dan meminta bahwa lamaran itu ditujukan padaku sebab ternyata ia sudah mencari tahu segala hal tentangku. Termasuk mengetahui kalau beberapa pekan lagi aku wisuda, makanya ia meminta orang tuanya mengajukan lamaran padaku. Kakek dan nenek sebenarnya setuju-setuju saja, tapi karena keluarga mbak Dila meradang, merasa disepelekan, apalagi anaknya benar-benar suka sama mas Bagus, akhirnya dengan berat hati Kakek dan nenek menolak untuk menghindari pertengkaran dalam keluarga. Tapi yang namanya bibi Par dan keluarganya itu paling tidak suka dikalahkan orang lain, makanya sejak itu secara halus kadang juga terang-terangan memusuhi keluargaku, terutama aku. Di grup keluarga selalu saja ada bahan untuk menjadikan aku bahan gunjingan.


Lulus kuliah dan diterima bekerja di perusahaan terbaik di Jakarta, tak berapa lama mbak Dila juga ikutan pindah. Ia meminta langsung pada ibu agar kami tinggal di satu kosan dengan alasan supaya bisa saling jaga. Dua bulan mbak Dila nganggur hingga akhirnya ia diterima di salah satu perusahaan kecil, jauh dibandingkan dengan kantor lamanya. Tapi mbak Dila tetap bertahan. Awalnya ibu menasihati agar aku jaga jarak saja sbeba ibu tahu, mbak Dila masih menganggap aku sbegaia saingannya. Tapi lama-lama ibu malah menjadikan mbak Dila sebagai mata-matanya. Semua karena usaha mbak Dila menghasut ibu dengan berbagai cerita tentangku selama di ibu kota.


"Ya gitu bi, sebenarnya Tira itu bisa lho enggak usah ngekos, toh banyak yang ngelakoni Jakarta Depok, tapi dia tetap kekeh ngekos karena dia pengen bebas. Namanya punya paras cantik, pengen ganjen kemana-mana, tapi selalu dikurung, jadinya enggak betah." Begitu kata mbak Dila kala itu, hingga sukses membuat ibu memaksaku untuk pulang pergi saja tanpa harus ngekos. Bahkan ibu sampai memaksakan agar aku berhenti kerja saja agar tidak membuat resah. Tentu saja aku menolak, selain butuh pekerjaan untuk membiayai perekonomian keluarga kami, aku juga tak seperti yang dituduhkan mbak Dila. Selama ini aku selalu pulang pergi dari kosan ke kantor, sesekali keluar hanya untuk belanja bulanan.

__ADS_1


Membaca ini, darahku langsung naik ke ubun-ubun. Aku sudah tak tahan untuk tidak membalasnya. Tapi baru mengetik, nomorku sudah di keluarkan dari grup. Aku hanya bisa memaki layar Hp untuk menumpahkan kekesalanku.


"Memang benar-benar keterlaluan anak dan ibu ini!" aku membatin.


[Bibi ada masalah apa sama Tira? Bibi tahu tidak, ketikan bibi di grup keluarga itu sudah sangat keterlaluan. Ibu itu adiknya bibi, kok tega menyakiti saudara sendiri? Apa karena selama ini bibi kalah saing sama ibu? Tira tahu semuanya bi, tapi jangan begitu. Kekalahan bibi di masa lalu dengan ibu dan kekalahan mbak Dila dengan Tira nggak lantas menjadikan bibi bahagia dan puas memaki kami sekeluarga. Sadar Bi, yang namanya hidup pasti ada ujiannya. Hari ini kami yang diuji, besok bisa jadi keluarga bibi.] aku terpaksa mengetik pesan secara pribadi ke nomor bibi Par, berharap ia tak lagi menyakiti ibu.


[Heh anak kecil, berani sekali tidak sopan kepada saya? Pakai nyumpahin keluarga saya lagi. Kamu itu sudah bersalah, tidak punya etika lagi. Benar-benar menyedihkan. Ingat ya Tira, jangan sembarang bicara dengan saya. Membaca pesan dari kamu saya sakit hati dan sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan kamu meski kamu sujud di kakiku. Paham kamu!] balas bibi Par.

__ADS_1


[Aku nggak akan minta maaf sama bibi. Toh bibi yang mulai duluan.]


[Eh anak ini, benar-benar tidak tahu diri ya!] Usai mengirimkan pesan, bibi Par juga menelepon. Aku sangat yakin bibi saat ini tengah emosi. Aku tak peduli. [Angkat telepon saya, Tira!] pesannya lagi. Tapi ku abaikan. Aku tak ingin mendengarkan muntahan emosi orang lain lagi, saat ini beban ku sudah sangat banyak.


__ADS_2