Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Kakak Ipar Pak Saka


__ADS_3

Dua hari setelah pulang dari rumah sakit, aku memutuskan untuk masuk kerja. Selain tak enak sama pak Saka yang sudah membayarkan biaya berobat juga sudah mengeluarkan uang banyak selama aku pemulihan, ku fikir harus cepat membalas kebaikannya dengan kembali bekerja. Lagipula kamu masih punya banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Pak Saka tak punya karyawan lain, ia hanya bisa mengandalkan aku.


Sampai di kantor, rupanya pak Saka sedang keluar. Aku langsung masuk karena punya kunci serep. Mencoba memeriksa berkas yang menumpuk. Kini perhatianku tertuju pada tulisan kecil yang biasanya ia buat. Pada status tender proyek yang pernah kami bicarakan ia menyilangnya. Sepertinya pak Saka gagal mendapatkan tender tersebut, padahal itu adalah dambaannya.


"Nominalnya sepuluh milliar, Ra. Kalau kita menang, kita bisa menambah karyawan. Satu atau dua sebagai admin, supaya kamu enggak rangkap job!" Kata pak Saka kala itu dengan mata berbinar-binar. Namun sayangnya kami harus menyerah karena kondisiku yang harus masuk rumah sakit ditambah ia pun menemani dua puluh empat jam.


Krek. Pintu dibuka. Aku pikir itu pak Saka, ternyata tidak. Itu adalah seorang perempuan yang usianya kemungkinan di atasku. Perempuan mengenakan blus dan rok pendek berwarna putih tulang, dengan tas dan sepatu berwarna senada. Ia mengenakan riasan yang tipis namun tetap memancarkan kecantikan.


"Permisi," katanya.


"Eh iya." Aku langsung menyambut, mengulurkan tangan.


"Kamu ... Pasti Tira, ya?"" ia rupanya tahu namaku


"Iya. Ibu siapa ya?"


"Saya Andin, kakak ipar Saka."


"Oh, maaf Bu. Maaf kalau saya tidak sopan. Mari masuk." aku mengajaknya duduk di sofa. Sebenarnya agak canggung sebab ini pertama kalinya bertemu dengan keluarga pak Saka, apalagi ia tak pernah membahas keluarganya sedikitpun jadi aku tak bisa meraba bagaimana karakter mereka dan harus dihadapi dengan cara apa. "Saya akan menghubungi pak Saka. Ibu mau minum apa?" Aku menawarkan minuman untuk sekedar beramah-tamah.


"Tidak perlu repot-repot, Tira. Saya ke sini sebenarnya bukan untuk bertemu Saka. Tapi bertemu kamu."


"Saya?"


"Iya. Jangan bingung atau berpikir apa-apa dulu ya. Saya cuma penasaran dengan orang kepercayaan Saka. Sepertinya kamu punya keahlian yang luar biasa hingga terpilih atau lebih tepatnya sangat diharapkan Saka."


"Terimakasih, Bu."

__ADS_1


"Tapi Tira ... saya penasaran, ini benar-benar profesional kan. Kamu tahu siapa Saka sebenarnya?"


Aku menggeleng. Yang aku tahu ia hanya anak muda yang punya semangat tinggi untuk memulai usahanya. Ia begitu ngotot ingin memajukan perusahaannya yang lebih tepatnya disebut CV saking pertumbuhannya masih sangat kecil.


"Sejak kecil, Saka tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Ibunya sudah lama meninggal. Ia hanya dua bersaudara. Suami saya dan Saka. Ia adalah putra dari bapak Prasetyo pemilik Duta Grup. Kamu tahu?"


Aku terkejut dengan keterangan Bu Andin. Pak Saka anak dari pemilik Duta Grup? Kalau itu benar, kenapa ia malah berada di sini, perusahaan yang hanya berkantor di ruko kecil dua lantai. Satu lantai di jadikan tempat tinggalnya, satunya lagi jadi kantor. Benar-benar jauh dari kata layak jika dibandingkan perusahaan ayahnya. Tapi kenapa?


"Saka sudah dijodohkan." tambah Bu Andin. "Tapi dia menolak."


"Begitu ya Bu?" aku hanya mengangguk.


"Mungkin karena dia menyukai gadis lain," ia melirikku. Entah apa maksudnya, tapi membuatku risih. "Apapun itu keputusan Saka, sebagai kakak iparnya, saya berharap Saka bahagia. Karena itu saya akan mendukungnya."


Pembicaraan kami terhenti ketika pak Saka pulang. Tentu saja keberadaan kami berdua membuatnya kaget.


"Kenapa kakak nggak bilang-bilang mau ke sini. Kamu juga, masuk nggak ngabarin." Pak Saka menghadap kami berdua.


"Apa sih kak." Pak Saka salah tingkah. "Eh ngomong-ngomong bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku tahu kedai enak di dekat sini. Kakak ikut ya." Ajak Saka.


Ku pikir yang diajak hanya Bu Andin, tapi ternyata aku juga. Kami bertiga menuju kedai mie yang dimaksud pak Saka. Persis seperti kata pak Saka. Mie disini sangatlah enak, kenyal dan tidak lengket. Berbeda dengan rasa mie kebanyakan.


***


Vina, ia berdiri dengan mata berapi-api, siap membakarku hidup -hidup. Perempuan itu menyimpan kemarahan yang sangat besar untukku.


"Gara-gara kamu hidup kakakku hancur. Keponakanku sakit. Kakak iparku kamu penjarakan. Kamu benar-benar perempuan licik. Dan sekarang kamu menggoda Saka. kamu rupanya tak bosan ya, terus mencari mangsa yang lebih banyak uangnya!" tuduh Vina.

__ADS_1


Aku menggeleng. tubuhku langsung bergetar saat orang-orang di kedai mie melihatku. Benar-benar apes, kenapa juga aku harus bertemu dengannya.


"Vin kamu bicara apa sih?" pak Saka maju.


"Saka, dengar baik-baik. Perempuan ini tak sebaik yang kamu kira. tolong jangan sampai kamu terjerumus kemudian jadi korbannya. Ia sangat pandai memainkan perannya seolah tak bersalah padahal ialah ularnya. Kamu dengar kan Saka?" Vina terus meracau, tapi dicuekin oleh Sakq. Ia malah mengusir teman kampusnya itu. Tapi karena Vina tak mau pergi, akhirnya Saka malah menarik tanganku dan mengajak pergi sehingga membuat Vina makin panas.


Aku, pak Saka dan Bu Andin masuk ke mobil. Tampak betul Saka masih marah, aku benar-benar merasa bersalah sudah mengacaukan makan siangnya dengan kakak iparnya.


"Maafkan saya,aaf," untuk kesekian kalinya aku meminta maaf.


"Tak perlu begitu, bukan kamu yang salah!" Saka menegaskan.


Ia memacu mobil cukup kencang. berhenti di depan rumah mewah untuk mengantarkan kakak iparnya setelah itu pergi denganku.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Saka masih tak berhenti melajukan mobilnya.


"Pak, maaf, apa bisa turunkan saya di sini." Pintaku, setelah dibuat pusing dengan mobil yang tak kunjung berhenti.


"Oh, maaf. Aku antar ke apartemen saja ya." Ia mulai mengurangi kecepatan mobilnya.


Sampai di depan apartemen, Pak Saka berhenti. Ia ikut turun, mengantarkan aku sampai depan pintu kamar.


"Kalau ada apa-apa, tolong hubungi saya." katanya. "Oh iya, satu lagi. besok kalau mau berangkat kerja, saya yang jemput. kamu wa saya saja!"


"Tapi," aku tak enak, mana ada atasan yang menjemput bawahannya.


"Ini perintah. Kamu adalah bawahan saya, jadi harus nurut. Paham!"

__ADS_1


"Ya pak." aku masuk, setelah pintu dikunci, aku menyandarkan tubuh di pintu. Tanpa ku sadari, pak Saka masih berdiri di depan pintu kamar apartemen.


Kami, hanya terpisah oleh jarak pintu. Dengan hati yang sama-sama resah. Kenapa jalan hidup harus begini melelahkan. Kenapa sulit sekali mendapatkan bahagia? Kenapa harus begitu?


__ADS_2