
Pertengkaran antara kami semakin menjadi. Ada yang menyoraki, meneriakkan dukungan hingga merekam. Tiba-tiba kami berhenti sebab manager cafe berusaha menengahi, tapi karena kami tetap mengabaikan, akhirnya kami berdua di usir dari cafe tersebut. Di parkiran, bukannya damai tapi pertengkaran malah lanjut. Ciya sepertinya belum rela melepaskan aku. Ia terus mengata-ngatai aku. Tak terima diperlakukan seperti itu, akupun membalasnya. Mengatai lebih lagi. Bahkan kini kami lanjut saling cakar dan jambak.
"Tira ... Ciya!" pak Saka sudah berada di antara kami. Entah kapan ia datang, yang jelas kini ia menengahi kami dengan susah payah setelah sempat menjadi korban cakaran juga. "Kalian itu kenapa sih? Adik kakak kok kayak musuh bebuyutan begitu?" tanya pak Saka yang menahan sakit akibat kena cakaran tangan Ciya
"Aku bukan adiknya dia." Kata Ciya sambil menunjuk wajahku.
"Nggak sopan!" aku meradang, hendak menepis tangannya tapi ia keburu mengelak duluan.
"Aku bicara sebenarnya, aku bukan adik kamu!" sentak Ciya. "Perempuan nakal ini bukan anak ibu, dia hanya perempuan nggak jelas yang diasuh sejak bayi oleh ibuku. Entah siapa ibunya, tapi kalau melihat kelakuannya yang nggak jelas itu bisa dipastikan ia bukan anak dari perempuan baik-baik!"
"Ciya!" aku meradang, menjambak kepalanya hingga ia menjerit kesakitan. Pak Saka membiarkan saja kami bertengkar. "Cabut kembali omongan kamu itu. Kamu boleh marah dan membenci aku, tapi kamu nggak bisa bicara seperti itu. Sama saja kamu menghina ibu kita. Ibu perempuan yang mulia, enggak pantas disebut seperti itu!" Kataku.
"Ibuku ya ibuku, kalau ibumu entah siapa. Jadi aku enggak perlu menarik ucapanku!" kata Ciya.
Aku diam, melepaskan tangan dari kepalanya. Apa ini benar? Atau hanya luapan emosinya saja. Tapi mana mungkin? Aku ini anak sulungnya ibu. Aku bahkan pernah melihat foto ibu sedang mengandung aku. Ini pasti salah, Ciya pasti mengada-ngada. Ia begitu marah padaku hingga keceplosan bilang begitu.
"Aku nggak bohong, kalau kamu nggak percaya, tanya sendiri pada ibuku. Atau kalau kamu tetap tak percaya pada kami, tanya pada Abah, orang yang sudah membawa kamu ke rumah. Tanya sekalian, siapa perempuan yang sudah melahirkan kamu supaya jelas nasab kamu itu bagaimana!" kata Ciya lagi.
Aku tersenyum, senyum yang entah harus diartikan seperti apa. Tak tahu kenapa, tanpa bertanya pada Abah maupun ibu, aku jadi memikirkan perkataan Ciya barusan. Benarkah aku bukan anak kandung ibu?
"Kenapa, kamu enggak berani nanya sama ibu? Kamu takut tahu kenyataan bahwa kamu bukan anak kandung ibu? Asal kamu tahu, kita itu bukan saudara, Abah membawa kamu ke rumah saat ibu baru keguguran anak pertamanya. Karena kasihan akhirnya ibu menyusui dan menjaga kamu. Ibu benar-benar berusaha menjadi ibu yang baik untuk kamu.
__ADS_1
Puas mengeluarkan bisanya, Ciya pergi meninggalkan kami, tak lupa ia menantang ku agar bicara pada ibu.
"Bapak dengar kan apa yang Ciya katakan barusan. Saya bukan anak kandung ibu. Lalu siapa saya sebenarnya?" Tanyaku pada pak Saka dengan mata berkaca-kaca. "Apa saya anak diluar nikah, atau anak yang tidak diharapkan kehadirannya!" Aku bicara dengan suara terbata-bata namun penuh penekanan. Rasanya hidupku nano-nano, belum selesai satu ujian sudah datang ujian baru lagi yang tak kalah besarnya.
"Jangan diambil hati dulu Ra, bisa saja adik kamu bicara begitu karena kalian bertengkar tadi." kata pak Saka.
"Enggak pak, Ciya bukan tipe orang yang gampang berbohong demi mengenyangkan egonya saja. Apa yang dikatakannya bisa jadi benar." aku benar-benar frustasi jika yang dikatakannya benar, entah bagaimana aku harus menghadapi semua ini nantinya.
"Ra,"
"Pak, maafkan saya, tapi sepertinya hari ini saya belum bisa kembali ke kantor karena ...." aku tak mampu melanjutkan pembicaraan, malah menangis. Sekuat mungkin menahan air mata ini namun akhirnya tumpah juga. Aku sampai menutup wajah dengan kedua tangan agar tak ada yang bisa melihatku menangis.
"Menangislah Tira, lakukan apapun yang membuat hati kamu tenang." Bisik pak Saka.
"Saya antar pulang ya Ra. kamu Istirahat saja dulu." katanya.
Kami kembali ke kantor hanya untuk mengambil tas dan laptopku, setelah itu kami menuju apartemen. Sepanjang jalan aku tak bisa menahan diriku sendiri untuk tak menangis.
"Berhenti!" pintaku. "Pak, biar saya turun di sini." kataku lagi.
"Kenapa Ra? Saya antar kamu pulang saja ya." Ajaknya.
__ADS_1
"Saya tidak mau pulang, pak. Saya butuh kejelasan atas semua ini. Saya harus pergi mencari Abah saya untuk mengetahui semuanya."
"Kalau begitu saya antar kamu ke rumah Abah kamu, ya? Saya khawatir terjadi sesuatu pada kamu sebab kelihatannya kamu sangat kacau sekali."
"Ya pak." aku tak menolak tawaran pak Saka sebab sadar diri saat ini diri sendiri sedang kacau. Bisa -bisa aku melakukan hal yang salah. Makanya aku menurut padanya, membiarkan ia yang mengatur pertemuanku dengan Abah.
***
Di depan rumah abahku, akhirnya kami sampai juga di sini. Aku tak ingin bertele-tele, makanya langsung ke topik utama, mempertanyakan tentang kebenaran omongan Ciya. Tapi sayangnya, bukannya mendapat jawaban, ayah malah balik marah kepadaku sebab sudah mencari tahu semuanya.
"Tolong jawab jujur, Yah." pintaku, sambil terus menatap ayah, membiarkan ia merasakan rasa bersalah agar ia bisa berbuat sesuatu. Tapi sayangnya Abah tak menanggapi, ia malah membalikkan pembicaraan pada Andre Winata, mempertanyakan kabar laki-laki jahat itu tanpa memikirkan perasaanku.
Kesal. Aku benar-benar marah. Ketika ku desak Abah ia malah santai-santai saja.
"Apa perlunya kamu tahu itu semua? Toh kamu tak akan menjadi orang hebat setelah memaksa ayahmu untuk bicara seperti itu!" kata Abah dengan entengnya.
"Bah, tolong jangan mengelak lagi, siapa sebenarnya ibuku?" nada bicaraku sudah tinggi, sepertinya aku sudah panas dan tak ingin semuanya usai sebelum ayah memberitahu kebenarannya.
"Kamu itu ya, jangan memaksa aku. Aku hanya akan bicara kalau aku mau kalau tidak ya sudah!" Abah marah, ia segera masuk ke dalam rumahnya tanpa mengabaikan aku yang terus membujuk agar ia mau menjelaskan apa yang menjadi rahasia untukku saat ini.
"Bapak lihat kan, pak, bahkan sudah serumit ini pun masih saja aku mendapat ujian dan yang lebih parahnya lagi, orang-orang yang harusnya membantu aku malah ikut terlibat!" a
__ADS_1
kataku, lagi-lagi aku menangis di hadapan pak Saka, emosiku benar-benar sedang tidak stabil. Ujian yang ku lalui benar-benar di luar batas manusia biasa.