
Setelah yakin pak Saka pergi, aku kembali keluar karena di lobi sudah menunggu mas Bagus. Ia berhutang penjelasan tentang kegagalan pernikahannya dengan Ciya. Sebenarnya aku tak ingin peduli, namun ia terus memaksa menjelaskan. Akhirnya kesempatan itu ku berikan juga.
"Katakan secepatnya sebab saya tak ingin ada masalah baru." kataku.
"Ra, aku memang sengaja menerima lamaran Ciya, bahkan aku yang menginginkan pernikahan secepatnya sebab aku sangat penasaran dengan rencana jahat keluarga besar kamu. Maksudku, keluarga besar ibu tirimu. Mereka seolah ingin menyingkirkan kamu, sengaja mencari keuntungan dari peristiwa kegagalan pernikahan kamu sebelumnya. Aku ingin mereka, terutama ibu tiri dan adik-adikmu rasakan bagaimana sakitnya gagal menikah, lalu harus dikucilkan juga. Sangat tidak nyaman. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, mereka bukan menyadari malah semakin menyalahkan kamu." kata mas Bagus.
"Sebenarnya tak perlu membawa-bawa saya " kataku. "Lagipula saya tak membutuhkan pembalasan, biarkan saja Tuhan yang membalas jika mereka memang punya niat buruk. Lagipula sekarang apa bedanya mas dengan mereka? Mas juga sudah melakukan kesalahan besar, membuat hati seorang perempuan patah. Gagal menikah itu sangat menyakitkan." kataku
"Ya, aku mengerti Ra. Aku hanya ingin membuat mereka menyadari kesalahannya saja."
Apa yang dilakukan mas Bagus jelas salah meski ia beralaskan melakukan semua itu untuk membayarkan sakit hatiku. Tapi aku tak menginginkan semua itu karena sampai detik ini aku masih berharap agar hubungan kami baik-baik saja sebab bagaimanapun ibu sudah membesarkan aku dan adik-adikku sudah menjadi saudara yang terbaik untuk ku sebelum mereka mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa kami tak sedarah.
"Ra, maafkan aku ya. Kalau kamu mau memberiku kesempatan, aku akan berusaha menjelaskan semuanya pada Ciya agar ia tak menyalahkan kamu lagi. " janji mas Bagus.
Mas Bagus melakukan semua itu sebab ia masih berharap padaku, cinta membuatnya ingin selalu melindungi aku. Tapi pilihannya tetap salah bagiku. Lagipula aku tak bisa memberinya harapan sebab saat ini hati ini sudah menjadi milik pak Saka. Aku sudah mengikat janji akan menikah dengannya.
"Maafkan saya, mas. Saya tak bisa memberikan harapan apapun pada mas sebab saya sudah menjalin hubungan dengan orang lain." kataku.
"Ini untuk ketiga kalinya aku gagal." kata mas Bagus. "Tapi tak mengapa, Ra. Meski tak bisa memiliki kamu tapi aku akan tetap melindungi kamu, hingga kapanpun." janji mas Bagus.
__ADS_1
Cinta itu kadang memang serumit itu, saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin namun ternyata tak berjodoh.
***
Menuju persiapan pernikahan, aku dan pak Saka sama-sama sepakat untuk menyiapkan semuanya. Menuju pernikahan biasanya ada saja ujian seperti yang kami alami dimana aku menginginkan tanpa pesta, cukup akad dan syukuran kecil-kecilan, tapi pak Saka sebaliknya sebab ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa jadi lebih baik meski tanpa ayahnya. Perdebatan antara kami sempat terjadi hingga pada akhirnya kami sama-sama kelepasan emosi.
"Saya tidak mau bapak terus-menerus merasa dibayangi oleh ayah bapak karena sebenarnya semuanya tak seburuk yang bapak bayangkan. Bapak hanya terlalu terbawa perasaan saja." kataku.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Oh, saya mengerti. Kamu sudah termakan kata-kata kakak iparku kan Ra. Kamu nggak ngerti, apa yang dikatakan mbak Andin tidak semuanya benar karena mbak Andin punya misi besar untuk mendamaikan aku dan papa!" kata pak Saka
"Bukannya itu bagus? Harusnya bapak senang dong ada pihak keluarga yang berinisiatif begitu. Bapak harus berpikiran lapang, jangan hanya mengutamakan ego saja."
"Ego? Kamu nuduh aku lagi?" pak Saka kesal. "Asal kamu tahu, kalau aku mengikuti maunya papa, aku nggak akan bisa menikahi kamu karena ia ingin aku menikah dengan anak tirinya. Tentu saja aku tak mau. Aku hanya mencintai kamu, Tira. Jadi biarkan aku egois seperti apa yang kamu katakan!"
"Oh ya?" tanpa sadar kata tantangan itu malah keluar, pak Saka langsung menatap kesal .
"Ya!" katanya. "Kamu nggak percaya? nih," pak Saka menyodorkan Hpnya. Di hadapanku terpampang pesan-pesan dari ayahnya yang berisi perdebatan dengan pak Saka dimana ayahnya mempermasalahkan imej tentangku yang pernah bermasalah sebagai wanita kedua.
[Pokoknya papa enggak setuju, Saka. Bagaimanapun kamu harus menikah dengan perempuan baik-baik. Jangan dengan yang bermasalah, mana masalahnya menjadi perempuan kedua. Kamu kira papa enggak malu? Keluarga kita itu bermartabat, papa tidak suka kamu asal-asalan memilih. Kalau kamu tidak mau menerima pilihan papa tidak masalah, tapi carilah yang lebih baik. Mengerti!]
__ADS_1
Aku hanya bisa menelan ludah menbaca pesan demi pesan. Terasa betul penolakan itu. Kini aku jadi minder sendiri sebab ternyata tak mendapat tempat di keluarga itu.
"Jadi begitu ya," kataku, sambil memainkan ujung kerudung.
"Ra, aku nggak bermaksud membuat kamu sedih, aku hanya nggak mau kamu terlalu berpatokan dengan kata-kata mbak Andin sebab ia sedang berupaya mendamaikan aku dan Papa. Lagipula apapun keputusan papa tak akan mengubah perasaanku kepadamu. Aku tetap mencintai kamu, Ra, dan ingin menikah dengan kamu."
"Ya pak, saya mengerti. Tapi bolehkah sekarang saya pergi dulu?" tanyaku. Sambil bangkit dari duduk lalu berlalu meninggalkan dirinya.
"Ra ... Tira!" pak Saka mengejar. "Maaf Tira."
"Enggak apa-apa, pak. Saya kira segala kesedihan saya sudah berakhir ternyata belum, saya masih harus berjuang ternyata." kataku. Lalu berjalan cepat meninggalkan dirinya.
Aku harus segera menjauh sebelum air mata ini tumpah. Aku tak ingin ia melihatku menangis sebab kata pak Saka ia paling sedih jika aku bersedih.
Dengan taksi aku pulang ke rumah, sepanjang jalan, aku berusaha sekuat mungkin untuk mengalihkan pikiranku agar tak menangis namun akhirnya air mata itu berjatuhan juga.
Sedih sekali. Ternyata perjalanan ini tak semulus itu. Ternyata memang sulit menerima masa lalu orang lain meski sebenarnya ia tak berniat seperti itu. Bahkan ketika tahu aku langsung menjauh, tapi penghakiman orang tetap saja aku telah menjadi wanita kedua.
Inilah pentingnya untuk mengenali seseorang yang ingin dekat dengan kita agar terhindar dari hal-hal seperti ini.
__ADS_1
"Mbak enggak apay?" tanya bapak supir taksi
"Ya, saya enggak apa-apa, pak " aku menghapus sisa air mata, melempar pandangan keluar jendela, berusaha tegar meski hati ini benar-benar hancur. Sampai di apartemen, begitu pintu kamar terkunci, aku langsung duduk di bawah sisi tempat tidur lalu menangis sejadi-jadinya. Rasanya sakit sekali, namun begitulah hidup. Harus benar-benar hati-hati.