
"Jangan takut sayangku, aku tak akan mengasari kamu. Karena janjiku akan membahagiakan kamu. setelah ini kamu akan bahagia dan kembali mencintai aku." ia kembali berbisik. Aku benar-benar jijik diperlakukan seperti ini!
Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri, mulai dari melepaskan bekapannya hingga menendangnya ke belakang, tapi tidak mudah karena aku sedang lemah usai beberapa hari tidak bisa makan. Yang ada tenagaku makin melemah. Mungkin lebih baik mati saja dari pada jadi pemuas nafsu laki-laki tak berperasaan sepertinya.
Ia menyeretku ke kasur, tapi sekuat mungkin aku bertahan, entah dengan cara apapun. Aku tak rela disentuh olehnya. Bahkan, Ketika ia berusaha melepas kerudungku, aku terus mempertahankan hingga kami saling cakar dan cekik.
Tok tok tok. Pintu kamar di ketuk. Aku yang sudah kehilangan harapan langsung bersemangat lagi. Aku akan selamat, lelaki brengsek ini akan mendapatkan balasan. Entah kekuatan darimana, aku berhasil melepaskan bekapannya dengan gigitan, disaat bersamaan ia lengah karena suara seseorang di luar pintu.
Tapi Andre Winata kembali siaga. Ia berusaha membekapku lagi setelah sempat berteriak, tapi karena aku terus melawan akhirnya ia mencekik ku erat-erat.
"Seseorang di luar sana ... siapapun kamu, tolong masuklah. Segera atau aku akan mati!" aku hanya bisa memohon di dalam hati karena suaraku tercekat oleh cekikikannya yang semakin kuat. Aku tak bisa bernafas, bahkan mataku sampai melotot menahan sakit yang luar biasa.
"Tira ... Apa itu kamu? Kamu tidak apa-apa?" Cekrek! Hanya dalam hitungan detik pak Saka masuk ke dalam kamar apartemen miliknya yang dipinjamkan padaku. Ia sempat terperangah sebentar lalu saat melihatku yang masih dicekik Andre, pak Saka segera menerjang. Menendang pinggang kanan Andre Winata yang juga kaget dengan kehadiran pak Saka yang tiba-tiba, hingga ia jatuh terpental ke sisi kiri.
Huk huk huk. Aku terbatuk, mencari udara segar untuk mengisi paru-paru yang sempat kehabisan nafas meski sesaat tapi cukup menyiksa.
"Tira, kamu nggak apa-apa?" tanya pak Saka. Ia tampak khawatir, tapi bingung harus menolong dengan cara apa?
Bruk. Kini giliran pak Saka yang terpental ke lantai sebab Andre Winata menerjangnya. Tak hanya itu, ia juga menendangnya dan memukulnya bertubi-tubi hingga pak Saka tak punya kesempatan untuk bangkit. Melihat itu, membuatku kembali gemetaran, berpikir cepat agar bisa menolong pak Saka, tapi entah bagaimana, sementara aku saja sudah kehabisan tenaga, melawan rasa-rasanya hanya akan buang-buang tenaga saja.
__ADS_1
Dengan tangan gemetaran aku merayap menuju telepon, menghubungi security di bawah, berharap mereka segera datang, tapi sebelum selesai bicara, Andre Winata sudah menjambak kerudungku hingga aku tertarik beberapa meter dari pesawat telepon.
"Aghhh, sakit!" Aku berteriak dengan sisa tenaga. Kemudian terhuyung karena ditampar bolak-balik oleh Andre.
"Jadi kamu lebih memilih laki-laki ini, hah?" Andre melotot padaku, ia memegang pipiku dengan keras. "Jala--!"
Buk. Giliran Pak Saka yang menendang Andre. Tapi karena tenaganya tak terlalu kuat pengaruh pukulan dari Andre sehingga tak terlalu berefek. Ia masih mencengkeram pipiku dengan keras hingga aku merasa sangatlah kesakitan.
Dua orang laki-laki itu baku hantam, aku berada di tengah-tengah mereka. Sesekali Andre menjadikanku sebagai tameng sehingga pak Saka tak bisa membalas pukulan-pukulan darinya. Puncaknya, Andre Winata melemparku ke kaca rias dengan sangat keras hingga kepalaku menghantam kaca, setelah ia berhasil melumpuhkan Pak Saka. Aku merasakan sangat perih sekali. Ketika ia mendekat, mengambil kepalaku dan ingin mengusapkan wajahku ke pecahan kaca, tiba-tiba terdengar suara orang-orang di depan pintu. Mereka langsung masuk, mengamankan Andre meski ada perlawanan.
Ya Tuhan, apakah aku selamat? dalam keadaan tak berdaya, aku masih bisa bersyukur karena akhirnya aku terbebas.
"Kamu enggak apa-apa, kan Ra?" Pak Saka memandangku dengan iba, ia berusaha mendekat. "Ayo kita ke rumah sakit." susah payah ia membopongku, dibantu oleh petugas apartemen, kami menuju rumah sakit.
Aku kehabisan banyak darah. Tulang-tulang di beberapa bagian patah. Yang paling sakit di bagian kaki kanan yang kalau digerakkan rasanya luar biasa sakitnya. Memasuki ruang rumah sakit, aku masih tetap berusaha kuat untuk terus sadar. Saat ini aku sendiri, dan entah sampai kapan aku akan sendiri, aku harus bertahan sekuat mungkin memperjuangkan keadilan untukku dari laki-laki jahat itu.
Trauma rasanya. Sangat takut jika kejadian itu terulang kali. Masih dalam kondisi lemah, ketika tak sadarkan diri, beberapa kali aku mengigau, dipukuli oleh Andre Winata. Sakitnya pun terasa nyata.
"Aku ingin hidup tenang, aku ingin kembali seperti dulu. Aku lelah dengan semua ini." Dalam kondisi tak sadar aku berteriak dalam mimpi. "Aku bukan orang jahat, aku tak berniat jadi wanita kedua. Tolong jangan menghukum sekeras ini!" Pintaku, memohon dengan sangat.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
"Kak, kakak ... Kakak!" Seseorang mengguncang tubuhku cukup kuat. Itu suara Ciya. Ia memanggilku, rupanya ia ada di sisiku. Pak Saka yang memberitahunya tentang kondisiku.
Sakit. Rasanya ngilu dan perih. Aku harus berjuang untuk bisa membuka mata. Orang yang pertama ku lihat adalah pak Saka, ia ada di ujung ranjang, menatapku dengan tatapan khawatir. Lalu di sisi kananku ada Ciya. di belakangnya ada mas Bagus.
"Kakak sudah bangun?" Ciya melihat ke arahku.
"Mmmm," aku tak bisa terlalu banyak bicara karena banyak luka memar di area leher.
"Kak," Ciya menangis, ia memelukku dengan hati-hati sebab takut melukaiku. "Laki-laki itu jahat sekali, dia tega membuat kakak seperti ini!" Kata Ciya.
"Ibu," aku memanggil ibu, saat ini aku berada dalam kondisi paling terpuruk, ingin sekali mendapatkan kenyamanan dengan berada di sisi orang yang sudah melahirkan aku.
"Ibu di rumah, kak. Ciya sudah menceritakan kondisi kakak, tapi ibu belum mau ikut." kata Ciya dengan hati-hati.
Aku diam, tapi hatiku menangis. Dalam kondisi sudah separah ini, kenapa ibu belum mau memaafkan aku. Apakah dosaku teramat besar sehingga tak bisa diampuni? Aku juga tak ingin menjadi seperti ini.
"Jangan banyak bicara dulu, Ra. Kamu harus istirahat yang cukup supaya cepat pulih. Nanti kalau sudah sehat kita ketemu Tante Retno. Ibumu pasti juga sangat merindukanmu." Mas Bagus mencoba menguatkan, tapi aku tak yakin dengan semua itu. Ibu tak akan pernah memaafkan aku.
__ADS_1
Meski sakit, aku hanya bisa menurut, memejamkan mata dengan air mata berurai.