
Aku berdiri menghadap gedung lantai sepuluh yang berdiri di antara bangunan pencakar langit di ibu kota. Memang, gedung ini tak semegah gedung-gedung di sekitarnya, tapi lebih dari cukuo untuk pencapaian selama lima tahun ini yang hanya fokus pada pekerjaan.
"Kamu benar-benar luar biasa, Ra. Enggak salah kalau kamu dijuluki macam dalam urusan bisnis." kata Amanda.
"Semua juga berkat kamu yang selalu ada membantuku,Man." Kataku pada Amanda.
Selama lima tahun ini, aku berjuang untuk menjadi yang terdepan. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku tak hanya mengandalkan wajah saja. Tapi aku punya keahlian sebagai seorang ahli IT. Fokusku pada bisnis dan penyedia jasa IT. Tahun pertama aku dan Amanda masih berdampingan, namun tahun kedua, ku beranikan untuk memperbesar usaha kami, merekrut lebih banyak pegawai untuk mendapatkan lebih banyak lagi tender. Siang malam aku berusaha, hanya istirahat beberapa jam dalam sehari. Sekarang semua orang tahu siapa aku,Tira Pratiwi pemilik IT Center Grup. Perlahan namun pasti, aku juga membuat cabang diberbagai bidang. Mulai dari traveling, konsultan, kecantikan hingga kesehatan. Aku benar-benar puas dengan pencapaian yang ku dapatkan.
Sementara Amanda, karena ia mengidap HIV, jadi harus rutin check up untuk kesehatannya. Selama lima tahun ini, sembari membantuku dengan keahliannya sebagai marketing, Amanda juga membuka layanan kesehatan gratis. Kami bekerja sama dalam bidang sosial. Di sana, ia bertemu dengan Hadi, lelaki yang juga mengidap HIV, dan mereka sekarang telah menjadi sepasang kekasih. Dalam waktu dekat, Amanda dan Hadi rencananya akan menikah.
"Jadi bagaimana rencana kamu selanjutnya, Ra?" Tanya Amanda, saat kami makan siang bersama.
"Ya aku akan terus bekerja keras, menghasilkan uang yang banyak agar orang-orang tak lagi melihat aib dimasa laluku, tapi fokus pada prestasiku. Begitu!" kataku, sambil memindahkan hidangan yang kami pesan ke piring.
"Sampai kapan? Tira, kita sudah tidak muda lagi, sebentar lagi kepala tiga. Apa kamu masih tetap ingin send?"
Aku diam.
"Ra, setelah menikah, aku dan Hadi nantinya akan pindah ke Jogja. Kami akan memulai hidup baru dengan bertani dan beternak ikan. Kami akan menghabiskan hari-hari kami dengan Bahagia." kata Amanda. Sebenarnya ia sudah pernah menceritakan rencananya ini padaku beberapa kali, dan mendengarnya aku sedih sebab lima tahun ini hanya Amanda yang jadi temanku sekaligus keluarga. Aku benar-benar menutup diri dari siapapun, termasuk mas Bagus yang masih berusaha selalu ada di sampingku. "Ra, aku nggak mau kamu hidup dalam kesendirian. Aku tahu kamu gak suka kesepian. Karena itu, sebelum aku pergi, aku harap kamu mau membuka hatimu lagi untuk orang baru." sambung Amanda.
Aku diam.. Terakhir jatuh cinta rasanya sakit. Sampai sekarang pun rasanya masih sakit. Dua kali lelaki asing mengucap ijab kabul, namun semua tenyata tak berarti. harus gagal saat aku merasa yakin inilah jalan bahagiaku.
Sekarang, kalau diminta untuk mengulang kembali, rasanya masih takut. Aku takut sekali. Bagaimana kalau ternyata ia tak bisa menerima masa laluku. Keluarganya tak bisa menerima aku? Aku menggeleng, hatiku sudah terlalu sering merasakan sakit, aku nggak mau membiarkannya merasakan sakit lagi.
__ADS_1
"Aku belum siap, Man." kataku. Lalu beranjak pergi.
***
Pagi ini, entah ini bucket bunga yang keberapa dari mas Bagus. yang jelas selama lima tahun ini ia sering melakukannya. Kadang tiap hari berturut-turut dalam beberapa Minggu, lalu hilang hingga aku yang sudah terbiasa pun mencari-cari. Kemudian ia muncul lagi membuatku berdebar, tapi perasaan itu cepat aku bunuh sebelum aku kembali jatuh cinta untuk ketiga kalinya. Aku takut sakit hati lagi. Ditinggal setelah halal itu benar-benar menyakitkan.
"Hai Ra." tiba-tiba ia muncul.
"Hi mas." kataku. "Mau berangkat kerja ya?" tanyaku, sebab ia hadir sudah mengenakan seragam kantornya..Seragam yang sangat familiar sebagai abdi negara.
"Mmm, aku sengaja mampir untuk mengabari kamu."
"Apa?"
"Mungkin ini bucket bunga terakhir."
"Mama mau menjodohkan aku."
"Hah, masih zaman ya?"
"Mmm, mungkin karena Mama pikir aku memang tak becus mencari pasangan. Lima tahun aku mengejar-ngejar kamu tak juga membuahkan hasil." ia tertawa kecil. "Setelah menikah, aku ingin pindah ke pulau lain."
"Oh, kemana?"
__ADS_1
"Mungkin Sumatra, Kalimantan, Sulawesi atau bahkan Papua. Kemana saja, yang penting jauh dari kamu." katanya.
"Kenapa?"
"Kalau aku sudah menikah, aku ingin setia Ra, aku tak ingin mendua. Aku ingin menjaga perasaan istriku juga " katanya lagi.
Apa yang diucapkan mas Bagus itu membuatku terkesan. Bukankah semua perempuan yang sudah menikah ingin begitu. Agar pasangannya setia.
"Sudah ketemu gadisnya?" tanyaku.
"Mama yang menentukan. Aku ikut saja."
"Oh, congrat ya Mas. Semoga bahagia." kataku.
Ia mengangguk. Lalu berlalu meninggalkan aku sendiri.
Mas Bagus, lelaki itu sudah ku kenal sejak kecil, begitu juga dengan orang tuanya. Tante Sonia ibunya juga sangat baik padaku. Tapi masuk ke dalam circle keluarganya sama saja kembali dalam lingkup keluarga lama. Aku akan kembali lagi pada ibu, ketiga saudaraku, ayah, istri barunya, nenek, mbak Dila, bude. Aku menggeleng kuat. Apa yang terjadi di masa lalu sudah cukup membuatku trauma. Aku tak yakin bisa kembali kuat muka dan hati jika bertemu lagi.
"Kamu yakin akan membiarkan orang sebaik mas Bagus pergi?" tiba-tiba Amanda sudah ada di sampingku. Rupanya ia mendengarkan dari dalam, begitu mas Bagus pergi baru ia muncul. "Dia paling tulus, Ra. Kamu enggak akan pernah bertemu orang seperti itu lagi " kata Amanda.
"Kok begitu, sih?" aku beralih pada bunga yang ia kirim. Mawar putih yang cantik dan juga harum.
"Bertahun-tahun ia setia padamu, Ra. Dalam kondisi apapun. ia benar-benar menanti kamu. Bisa jadi ia jodoh kamu. Kalaupun bukan untuk kamu, tapi bantu dia untuk mendapatkan jodohnya dan merasakan bahagia dengan menerima lamarannya. Jangan diundur-undur Ra, kamu tahu kan, kalau ia sudah dijodohkan dengan orang lain, itu berarti sudah tak ada celah untuk kamu masuk. Penyesalan biasanya datang belakangan. Aku cuma mau mengingatkan agar kamu nggak merasakan itu!" kata Amanda menegaskan.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Tapi apa? Kamu takut menghadapi keluargamu nanti? Kan ada dua, kalian bisa bersama-sama menghadapinya. Namanya hidup, pasti ada saja ujiannya,Ra. Jadi hadapi, jangan dihindari. Lima tahun kamu menghindari mereka semua. Keluarga kamu, mas Saka. Sekarang waktunya kamu muncul!" tantang Amanda.