
Aku dan mas Bagus, ditemani oleh pengacara mulai menjalankan proses hukum. Pertama, menyelesaikan kasus hukum dengan orang yang menulis kisahku dengan kesimpulannya sendiri. Kedua, dengan netizen yang sudah mengancam dan memakiku. Ketiga dengan Andre Winata. Aku menuntut pemulihan nama baik, menuntut ia agar diberhentikan dari pekerjaannya karena sudah memalsukan identitas, juga membatalkan pernikahan kami.
Keempat, mbak Lina. Aku mengirim somasi agar ia segera melakukan klarifikasi atas pernyataan di podcast -podcast bahkan televisi nasional. Apa yang ia sudah lakukan benar -benar merugikan aku.
"Kamu siap dengan pertarungan ini, Ra?" tanya mas Bagus.
"Siap nggak siap," kataku. Masih ragu sebab secara mental saja aku masih ketakutan bertemu orang lain..Tapi ini demi masa depanku juga. Mau sampai kapan bersembunyi terus.
Selain dengan mbak Lina, pak Saka juga sudah memperingatkan Vina untuk menjaga sikap denganku atau ia pun akan ikut dilaporkan.
"Semuanya sudah beres." kata Bu Widi.
"Belum Bu, masih ada yang harus mendapatkan ganjaran atas perbuatannya." kataku.
"Siapa, Ra?" tanya mas Bagus.
***
Sudah ku bilang kalau aku belum baik-baik saja. Saat ini, setelah mengumpulkan keberanian akhirnya aku bisa datang juga ke kantor ini, ditemani mas Bagus, Bu Widi dan timnya. Tapi tetap saja, badanku panas dingin, tangan gemetar.
"Kamu nggak apa-apa kan Ra?" Tanya mas Bagus.
Aku hanya melempar senyum yang terasa kaku. Rasanya belum siap bertemu dua orang bandot tua itu, tapi aku juga tak rela jika mereka bebas begitu saja, apalagi kata Amanda, banyak karyawan muda yang jadi korban mereka berdua.
***
Tak mudah untuk menembus bisa ketemu dengan direksi, namun karena kerja keras dan relasi Bu Widi akhirnya kami bisa bertemu pak Peter, selaku direktur perusahaan lama tempat aku bekerja. Kami membuat pengaduan atas kejadian yang aku alami. Tentunya dengan berbagai bukti agar nantinya tidak balik menyerangku.
Pihak perusahaan, dengan didampingi HRD mendatangkan pak Hito dan pak Robin. kami dikonfrontir, setelah itu perusahaan yang akan mengambil keputusan atas nasib mereka berdua.
"Baik, terimakasih untuk laporan dari saudari Tira. Tapi setelah kami telusuri, kami tidak bisa memproses GM dan manajer kami karena tidak ada korban. Kami menganggap ini hanyalah masalah pribadi yang tak bisa dicampuri oleh perusahaan." kata pak Peter.
__ADS_1
"Ta ... tapi pak, kejadiannya di perusahaan ini, di ruangan pak Robin, bagaimana mungkin perusahaan bisa tutup mata atas kejadian ini. Sama saja cuci tangan!" Aku meradang.
"Tidak ada korban di sini, Bu Tira. Toh kejadiannya belum terjadi, kan? Dari rekaman suara itu hanya terjadi tawar menawar." kata pak Peter
"Jadi harus ada korban dulu baru perusahaan mau turun tangan? lucu sekali, kenapa begitu kejam..Saya kira perusahaan ini punya hati makanya saya berani menggantungkan mimpi saya di sini, tapi ternyata tidak punya hati. Sekarang saya bersyukur bisa keluar dari sini!" Kataku dengan suara gemetar. "Saya akan buktikan kalau mereka bersalah!" kataku.
"Silakan Bu Tira, tapi pastikan dengan tidak membawa nama perusahaan sehingga nama baiknya bisa jatuh." tegas pak Peter lagi.
***
"Mas dengar, kan, mereka benar-benar tidak punya hati!" aku ingin menangis usai keluar dari perusahaan. Untungnya Bu Widi menenangkan.
"Kalau dilihat bukti kita memang kurang kuat mbak, kecuali ada bukti lainnya," kata Bu Widi.
aku berpikir keras, bukti apa lagi yang bisa menjerat mereka. Aku tak bisa merelakan mereka bebas begitu saja. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal.
"Ahhh aku tahu, Amanda!" Aku menyesal kenapa baru ingat ia sekarang. Ia pernah mengatakan padaku punya bukti rekaman video kejahatan pak Hito dan pak Robin.
Setelah diskusi, kami berencana untuk menghubungi Amanda. Ia akan menemuiku nanti setelah pulang kerja. Tapi hanya kami berdua sebab ia tak mau berurusan dengan pengacara apalagi kepolisian.
***
"Ada apa Ra, ada urusan apa sehingga tak bisa dibicarakan lewat telepon?" tanya Amanda. Ia memang sempat keberatan saat ku ajak bertemu diluar sebab ia takut ketahuan pak Hito.
"Aku butuh bantuan kamu, Man." kataku.
"Apa?"
"Man, kamu pasti tadi melihat kalau aku ketemu direktur. Aku sudah mengadukan Robin dan Hito. Tapi aduanku tidak diterima sebab pak Peter menganggap buktinya kurang. Padahal jelas-jelas saat itu mereka mau melecehkan aku. Aku gak bisa membiarkan mereka lepas begitu saja, makanya aku butuh bantuan kamu, Man."
"Bantuan apa?"
__ADS_1
"Aku ingin kamu memberikan bukti rekaman yang kamu bicarakan dahulu."
"Rekaman apa?"
"Kejahatan Hito dan Robin."
"Aku nggak tahu, Ra."
"Man, rekaman yang kamu bilang waktu itu."
"Enggak ada Tira!"
"Kamu jangan membela mereka Man, dulu kamu yang bilang. aku nggak mungkin lupa "
"Aku nggak tahu dan nggak mau bahas ini lagi. Kalau sudah selesai aku harus pulang!" Amanda hendak bangkit, tapi ku tahan.
"Kenapa sih Man harus belaian orang seperti mereka? kenapa kamu harus susah-susah melindungi mereka. Mereka itu jahat Amanda. Kamu juga korbannya, makanya harus speak up!"
"Aku bukan korban siapa-siapa!"
"Amanda, sampai kapan kamu akan terus menjalankan kehidupan seperti itu? Sampai kapan Amanda? kamu itu hanya diperalat sebagai pemuas mereka saja. Jangan mau. Sadarlah. Kamu harus mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi!"
"Aku nggak apa-apa, Tira. Aku menikmati sebagai wanita kedua. Aku bisa punya segalanya yang aku mau."
"Tapi kamu tidak diakui. Kamu disembunyikan, dalam balutan dosa dan kelak kalau mereka bosan maka kamu akan dicampakkan diganti dengan yang lebih muda. Ngerti!"
"Itu urusanku Tira!"
"Kasihan sekali kamu, Man. Punya pendidikan dan pekerjaan yang baik tapi cuma jadi simpanan. Kamu sama seperti perempuan lain, Man. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Kamu berhak diakui di hadapan publik, kamu berhak memiliki kehidupan pasanganmu seutuhnya, menjadi satu-satunya atau jika ingin dimadu maka jadilah madu terhormat, bukan wanita penggoda yang menghancurkan rumah tangga orang lain. Ngerti kamu Man!"
"Sudah cukup Ra, aku tak ingin bicara dengan kamu lagi. Anggap kita enggak saling kenal!"
__ADS_1
"Tapi Kan, sampai kapanpun kamu itu temanku. saudaraku. aku sangat yakin kamu perempuan baik. Kamu enggak boleh begitu Amanda. Ayo keluar dari sana dan mulai kehidupan baru."
"Omong kosong!" Amanda bangkit, tapi sebelumnya ku kirim ke Hpnya alamatku agar suatu waktu, kapanpun ia mau ia bisa menemuiku. Tapi Amanda malah memblokir nomor Hpku. "Aku tak perduli Tira!" ia melengos pergi.