Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Pengantin Baru


__ADS_3

"Kita sudah sah menjadi suami istri. Kita adalah pasangan!" Pak Saka yang kemudian meminta dipanggil mas, berbisik di telingaku sehingga membuat lamunan ini buyar. Ia memandangku dengan penuh cinta sehingga aku pun terbawa suasana yang terasa makin haru, sementara ayah dan juga penghulu juga saksi telah pulang. "Aku janji akan membahagiakan kamu, sayang!" kata mas Saka lagi.


"Ya, kita sama-sama saling membahagiakan." jawabku.


"Kamu mau bulan madu kemana?"


Pertanyaan mas Saka membuat pipiku memerah. Kami yang belum terlalu intens saling kenal sebenarnya membutuhkan intensitas kebersamaan yang lebih banyak untuk tahu satu sama lain, tapi saat ini masih banyak urusan di kantor yang harus kami selesaikan, apalagi mas Saka belum mempunyai orang kepercayaan, jadi harus kami berdua yang turun tangan langsung.


"Kita fokus ke kerjaan saja dulu, mas. Nanti pasti ada waktunya untuk pergi berdua " kataku.


"Oh begitu ya, baiklah." jawab mas Saka. Sedang berbincang, tiba-tiba Hp miliknya berbunyi. Telepon dari kakak iparnya yang mempertanyakan kebenaran kabar tentang pernikahan kami. Mas Saka tampak menanggapi mbak Andin agak kesal, tapi perbincangan itu tak berlangsung lama karena telepon langsung ditutup.


"Kenapa? Kok marah?" tanyaku.


"Enggak apa-apa, kesal saja, ternyata satpam di vila ini benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia. Langsung saja melaporkan semuanya pada papa. Tapi papa nggak gentle, bukannya bertanya langsung malah menggunakan mbak Andin. Terus ...."


"Terus mas malah kesal sama mbak Andin karena mau menolong Papa ngomong sama Mas?" aku menebak, sambil tersenyum.


Mas Saka tambah cemberut. "Kenapa kamu bisa menebaknya?"


"Karena setiap ada masalah berkaitan dengan keluarga mas, selalu mbak Andin yang maju dan mas selalu kesal. Iya, kan?" aku tersenyum.


"Huffff, tapi aku nggak salah, kan? Coba kamu di posisi aku, pasti juga nggak senang, kan Ra? Dibuat seperti itu. Aku itu anak Papa, tapi kok gengsinya besar sekali untuk bicara dengan anaknya sendiri."


"Sama seperti mas, apa salahnya coba bicara duluan. Pernikahan itu hal yang sakral, seharusnya kedua belah pihak keluarga kita sama-sama tahu, kecuali memang mas sudah tidak diinginkan seperti aku." kataku, dengan suara terakhir pelan.


"Ra, maaf ya." Mas Saka menggenggam erat tanganku. "Aku janji, akan menghadirkan keluarga yang hangat untuk kamu!" katanya. "Kamu enggak akan kecewa lagi ke depannya. Kita akan punya anak-anak yang banyak dan menggemaskan. Supaya kamu bahagia dan nggak merasa terbuang lagi." ia mengusap pelan air mata di pipiku yang sempat menetes.


***


Aku dan mas Saka kembali ke Jakarta. Mas Saka yang semula ingin menghabiskan malam di villa puncak milik keluarganya mengubah rencana sebab merasa dimata-matai oleh penjaga villa yang tentunya pilihan ayahnya.


Saat mobil melewati pos penjaga, mas Saka menyempatkan diri untuk berhenti, ia menyindir habis penjaga tersebut. Aku yang melihat ulahnya hanya bisa geleng-geleng kepala sebab sikapnya seperti anak-anak. Tapi ia tak peduli, yang penting kekesalannya sudah tersalurkan.

__ADS_1


Di perjalanan kami sama-sama saling menggenggam tangan dengan erat. Seolah ingin mengatakan tak ingin berpisah lagi untuk selamanya. Sebenarnya aku ingin membuat pengumuman tentang pernikahan kami yang meski dadakan ini namun membuatku lega, tapi tak jadi saat meyakini tak akan ada yang peduli padaku. Aku hanya sendiri, hanya ada mas Saka yang peduli padaku bahkan Ayah pun mengabaikan aku, hanya menginginkan uang dari suamiku.


Mobil yang dikemudikan mas Saka melaju memasuki kawasan salah satu hotel berbintang lima di pusat kota Jakarta. Ia memang sudah memesan kamar untuk kami malam ini, hanya saja begitu masuk ke hotelnya aku dibuat kaget dengan kamar yang paling besar.


Nasibku benar-benar berubah. Dari perempuan yang hendak dijadikan wanita kedua, kini mendapatkan suami seperti mas Saka. Senyum ini terkembang. Namun hilang ketika tangannya menyentuh tanganku.


"Sayang, boleh aku mengecup keningmu?" tanyanya.


"Hah?" aku langsung mundur beberapa langkah.


"Kenapa?"


"Enggak, enggak apa-apa. Aku mau mandi dulu." Kataku. Lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Sayangnya tak ada pakaian ganti sehingga aku terpaksa memakai pakaian yang sama dengan sebelumnya.


"Kamu sudah mandi?" ia menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Hah, eh, sudah. Tapi enggak ada pakaian ganti. Bagaimana kalau aku pulang dulu,"


"Ngambil pakaian ganti."


"Beli di mall depan saja. Bagaimana?"


Merasa dapat angin segar untuk berjarak dengan mas Saka, aku menyetujui usulannya. Kami berdua keluar dari kamar hotel menuju mall dengan skywalk karena memang mall dan hotel masih satu bagian sehingga terhubung dengan jembatan layang.


Ketika di perjalanan, ia terus menggenggam erat tanganku. Kami layaknya pengantin baru yang benar-benar tak ingin terpisahkan. Namun tentunya tetap menjaga norma yang berlaku dengan tidak berlebihan mengumbar kemesraan.


Aku dan mas Saka masuk ke beberapa outlet yang cukup ternama, memilih beberapa pakaian. Sebenarnya aku sudah menolak, mau beli pakaian di bawah saja yang harganya lebih terjangkau, tetapi mas Saka memaksa. Lagipula ia juga memilihkan beberapa pakaian couple denganku. Lagi-lagi aku menolak memakai baju kembaran karena merasa malu sebab bukan remaja yang sedang kasmaran, tapi karena dipaksa mas Saka akhirnya baju kembaran itu masuk ke keranjang belanjaan.


"Sudah semua?" tanya mas Saka. "Berarti kita pulang sekarang ya. Sudah pukul delapan malam." ia menunjukkan jamnya.


"E, itu. Aku lapar." kataku, sambil menunjuk perut yang sengaja ku buat semakin kempes dengan menahannya.


"Lapar? Kita makan di hotel saja, ya."

__ADS_1


"Jangan. Makan di sini saja, aku suka makanan yang ada di restoran sana." aku sengaja berjalan duluan, pura-pura mencari restoran yang aku sukai padahal sebenarnya ini pertama kalinya masuk ke mall ini. Sayangnya, sudah tiga kali putaran belum juga ada restoran yang sesuai denganku.


"Restonya dimana, sayang?" tanya mas Saka yang sudah kelihatan lelah.


"Ada mas, tapi aku lupa disebelah mana. Makanannya enak sekali. Aku ingin makan di sana lagi."


"Namanya apa?"


"Lupa."


"Oke, ciri-cirinya seperti apa?"


"Mmmm, seperti apa ya? Itu, ada makanannya, restonya asik, pelayanan juga baik."


"Maksudnya, jenis makanannya? Fast Casual Dining, Casual Style Dining, cafe, restoran cepat saji, fine dining, atau apa?"


"Mmmm, itu, apa ya?" Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Sayang?"


"Apa? Aku enggak tahu. Maksudnya aku lupa."


"Seorang Tira Pratiwi lupa? Seperti mustahil ya sayang."


"Ya bagaimana lagi. Aku benar-benar lupa. Aku kan juga manusia." aku semakin gugup, takut ketahuan bohong.


"Baiklah, kapan kamu makan di restoran itu?"


"Sekitar delapan atau sembilan tahun lalu, jadi wajar kan lupa?"


"Sayang, mall ini baru dibuka satu tahunan ini."


"Hah?" aku terdiam, keringat dingin memikirkan jawaban selanjutnya. Bodohnya aku, kenapa asal-asalan kalau mau mengarang.

__ADS_1


__ADS_2