Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Yang Dianggap Bersalah


__ADS_3

"Mbak Tira ... mbak Tira," pengurus kosan menyusulku masuk ke kamar. Ia sampai ngos-ngosan.


"Kenapa mbak?" Tanyaku.


"Itu, temannya mbak Tira. Nekat mau nabrakkan dirinya ke mobil yang lewat, mbak."


"Biarin saja mbak."


"Lha, mbak Tira enggak apa-apa kalau dia nanti ketabrak?"


"Ya nggak apa-apa. Kalau itu yang terbaik. Dia yang nyari masalah biar dia yang tanggung akibatnya!"


"Tapi mas nya juga enggak kenapa-napa mbak. Tadi tahu mbak masuk sempat ngelirik-lirik, setelah itu minggir. Kayaknya cuma mau ngetes mbak saja. Itu bukannya pacar mbak Tira, tho? Pasti baru putus ya? Masalah apa tho, mbak? Bagaimanapun sekarang kesalnya, yakin sudah nggak cinta? Biasanya penyesalan itu datangnya di akhir lho mbak. Apa nggak sayang? Aku ya pernah muda mbak, baru putus itu rasanya ya benci banget. Tapi setelah itu ya nyesel. Eh keburu dia sudah punya pacar baru. Apalagi masnya lumayan cakep meski kayaknya sudah matang alias agak berumur ya? Tapi kayaknya juga lumayan kaya ya mbak. Mobilnya bagus, mahal juga itu "


"Saya sudah nggak suka sama sekali mbak. Nggak peduli juga dia punya pengganti secepat apa. Sudah ya mbak, saya enek ngomongin dia. Oh ya, kalau ada dia lagi bilang saya ngga ada ya." Aku menghalau mbak penjaga kosan dengan halus sebelum ia membuka pergunjingan di kamarku. Setelah itu aku menghempaskan tubuh di atas tempat tidur, mencoba mengatur agenda hari ini meski sebenarnya aku masih ingin mengurung diri di kamar untuk menenangkan diri. Tapi bagaimanapun juga aku harus menemui bibi Par, ia orang yang gak akan tinggal diam, apalagi kalau kakek dan nenek sudah diajak serta.


💐💐💐


Taksi online yang ku tumpangi berhenti di depan rumah bibi Par. Rumah sederhana dengan cat yang sudah mengelupas karena sejak kecil seingatku belum pernah dicat ulang, rumah yang dahulu sering dikunjungi ibu tapi pemiliknya tak terlalu welcome kepada kami. Kedatangan kami hanya diterima hingga teras rumah. Kami disuruh menunggu, duduk di kursi butut yang kini sudah diganti dengan kursi kayu sampai bibi siap bertemu kami, itupun de ban ekspresi bibi yang setengah hati.


Setiap ke sini, tak pernah ada suguhan yang keluar, meski hanya air putih. Pernah suatu waktu, sibungsu Kiki kehausan, kebetulan ibu juga tidak membawa air mineral. Padahal biasanya sebelum ke sini ibu selalu mengenyangkan perut kami dan menyuruh minum agar tak minta apa-apa. Kala itu Kiki sampai menangis kencang, tapi entah terbuat dari apa hati bibi, tetap tenang tak tergerak sedikitpun untuk memberi segelas air putih padahal kami adalah keponakannya dan saat itu masih kecil. Bahkan ketika Kiki menangis semakin kencang sambil mengutarakan keinginannya, bibi tetap diam. Ibu pun akhirnya berinisiatif menyuruhku membelikan minuman. Sayangnya aku hanya dapat dua potong es lilin yang kami habisi berempat. Pulang dari rumah bibi kami demam dan batuk-batuk karena kemungkinan air esnya tidak matang.


Itulah kenapa aku tak terlalu hafal bagian rumah bibi sebab masuk ke dalamnya bisa dihitung jari. Hanya saat arisan keluarga, itupun kami anak-anak ibu sering diusir kelur oleh mbak Dila. Tentu saja atas perintah ibunya.

__ADS_1


Baru jalan beberapa langkah, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Keluar bibi dan nenek. Sama sepertiku, mereka juga kaget dengan keberadaan kami masing-masing.


"Datang juga kamu," sindir bibi Par.


"Bi ... Nenek. Bagaimana kabarnya?" aku mengulurkan tangan, tapi hanya nenek yang menyambut uluran tanganku.


"Menurut kamu apa aku baik-baik saja setelah kamu kasari?" ia masih ketus padaku. "Semalaman aku menangis sebab baru pertama kali dikasari sama orang lain karena aku tak pernah punya musuh. Aku selalu baik dan lembut pada orang lain. Sungguh keterlaluan kamu Tira!"


"Tira minta maaf, Bi. Tira tidak bermaksud begitu. Tira terbawa emosi," aku mengutarakan penyebab berbicara seperti itu.


"Hem," nenek berdehem. "Tira ... walau bagaimanapun kamu itu yang lebih muda. Tidak pantas bicara seperti itu pada bibimu. Dia bahkan lebih tua dari ibumu. Di atas ibumu. Apa pantas bicara seperti itu?"


"Iya nek," aku tak membantah. Aku tahu betul sifat dan karakter nenek dan bibi, tak bisa dibantah dan sangat gila hormat. Kalau kedudukan kita di bawah mereka maka lebih baik diiyakan saja agar cepat selesai.


"Kamu sujud pun aku tak akan memaafkan kamu!" tegas bibi Par.


"Lalu Tira harus melakukan apa, bi?" tanyaku.


"Menurut kamu?" ia balik bertanya.


"Bi," aku berlutut di hadapan bibi, memohon maaf padanya meski sebenarnya hatiku menolak melakukan ini semua. Tapi aku tak punya pilihan lain.


"Baiklah, kau ku maafkan Tira. Tapi tetap hatiku masih terluka. Makanya aku belum bisa menganggap kamu sebagai keponakanku!" Tegas bibi Par, lalu ia berlalu ke dalam. Membiarkan aku dan nenek berduaan.

__ADS_1


"Bagaimana selanjutnya, Ra?" tanya nenek.


"Apa nek?" Aku balik bertanya sebab tak tahu maksud pertanyaan nenek.


"Laki-laki itu. Kenapa kamu menikah dengannya? Ahhh andai dulu kita terima pinangan si Bagus itu pastilah hal buruk seperti ini tak perlu terjadi. Sekarang semuanya sudah tercoreng, Tira. Kamu benar-benar membuat malu keluarga besar kita."


"Maafin Tira, nek."


"Maaf saja tak bisa mengubah semuanya. Nasib ibumu susah sangat menyedihkan, kenapa kamu malah ikut-ikutan seperti itu. Dosa apa yang dilakukan ibumu hingga kalian harus menjalani hidup seperti ini?"


"Maafkan Tira, nek. Semua karena kebodohan Tira "


"Ya, kebodohanmu. Padahal kau cucu nenek yang paling cantik. Banyak yang menanyakan kamu, Ra. Tapi karena tak enak pada kakak sepupumu si Dila, akhirnya aku dan kakekmu menolak semuanya. Malah begini jadinya. Menjadi wanita kedua. Ya Tuhan, malunya aku!"


"Nek maafkan Tira," kini aku berlutut di hadapan nenek, memohon ampunan darinya. Ia hanya mengangguk tapi tetap mengeluhkan kondisiku yang dinilai sangat mengecewakan mereka.


"Entah pada siapa akan ku sandarkan masa tuaku. Anak-anakku tak ada yang menjadi, cucu-cucuku pun begitu. Sebenarnya adik-adikmu juga mending, tapi mereka harus menerima getah akibat cempedak yang kau makan Tira."


Ya Allah, semakin hancur hatiku mendengarnya. Berulang kali aku mengucapkan istighfar, memohon agar hak buruk tak menimpa adik-adikku. Aku sangat menyayangi mereka. Selama ini mereka juga sudah cukup menderita. Biarlah aku saja yang menanggung semuanya, mereka jangan.


"Enggak nek, Tira tak akan membiarkan mereka terkena akibat dari apa yang sudah Tira lakukan. Biarkan semuanya jadi tanggung jawab Tira " kataku.


"Bagaimana mungkin bisa, Tira? Orang-orang yang tahu kamu menjadi istri kedua akan berpikir ulang untuk melamar adik-adikmu. Mereka juga akan direndahkan karena kamu!" ungkap nenek lagi.

__ADS_1


"Bu, masuklah. Untuk apa di luar lama-lama." Dari dalam rumah bibi Par memanggil nenek.


Perempuan yang sudah melahirkan ibuku itu pun pamit Kedalam. Ia membiarkan aku sendiri dengan air mataku.


__ADS_2