
"Kamu enggak apa-apa kan sayang?" Tante Sonia sangat perhatian, ia langsung menepuk pelan Punggungku agar batuknya berhenti. Perlakuannya itu benar-benar membuatku nyaman, seperti seorang ibu pada putrinya. Sikap yang memang belum pernah aku dapatkan sebelumnya dari ibu atau siapapun. Mendadak hatiku merasa hangat, aku sangat senang namun juga merasa sedih.
Aku harus bagaimana?
"Sayang, sudah nyaman?" Tante Sonia masih khawatir. Ia bahkan menawarkan minuman dan memijit pelan pundakku. Mendapatkan perhatian seperti itu membuatnya nyaman dan jujur aku mulai berharap lebih bisa menjadi bagian dari keluarga mas Bagus.
"Alhamdulillah sudah baikan Tante." Aku memaksakan senyum.
"Kamu enggak suka ya Ra dengan apa yang dikatakan Mama?" tanya mas Bagus.
"Hah, enggak, bukan begitu mas," aku mengelak, bingung harus mengatakan apa. Sejujurnya aku memang belum memiliki perasaan apapun pada mas Bagus, lagian bagaimana aku bisa menyukainya sementara luka hatiku saja belum sembuh meski di hatiku sudah tak ada Andre Winata. Bagaimana mungkin aku bisa memulai cerita baru, apalagi dengan laki-laki yang terang-terangan disukai adikku dan juga didukung ibuku. Tapi aku juga berharap mendapatkan kasih sayang seperti yang diberikan Tante Sonia barusan.
"Ra, jujur saja. Tidak apa-apa. Apapun jawaban kamu enggak akan merubah sikapku kepada kamu." kata mas Bagus.
"Mas ... Tante, sebelumnya saya minta maaf. Tapi, apa pantas saya membalas perasaan seseorang yang bahkan bak langit dan bumi dengan saya. Saya ini sekarang adalah seorang gadis yang penuh cacat, pernah tercatat menikah meski itu bisa dibatalkan. Tapi tetap saja, aku punya banyak kekurangan yang akan membuat malu keluarga mas Bagus nantinya." kataku.
"Jangan bicara seperti itu nak, bagi Tante, Tira tetap seorang gadis baik hati yang pantas dijadikan calon menantu idaman. Tante sudah lama mendambanya. Agar kelak Tira bersanding dengan Mas Bagus." Tutur Tante Sonia.
Mendengar itu hatiku luluh, namun juga bimbang. Begitu besar harapan bisa mendapatkan kasih sayang seperti itu, telah lama aku idam-idamkan. Kalau masalah cinta, bukankah ia bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi halangannya amatlah berat. Adik dan ibuku sendiri.
"Tira, jawablah." Pinta mas Bagus.
__ADS_1
"Sungguh saya sangat terharu dilamar seperti ini, apalagi akan mendapatkan calon mertua sebaik Tante Sonia. tapi apalah daya, halangannya tak akan pernah bisa saya hadapi." Kataku, sambil menundukkan kepala.
"Kenapa Tira? Apa karena Dila?" mas Bagus tampak gelisah.
"Bukan mas. Lebih berat lagi. Ia adalah Ciya, adikku sendiri. Mas tahu tidak, kebersamaan selama beberapa waktu ini membuat benih-benih cinta tumbuh di hatinya. Sebelumnya ia sudah menanyakan pada saya apakah ada hubungan dengan mas Bagus. Namun karena saya tahu diri makanya saya membantah. Setelah itu Ciya memberanikan diri menyatakan bahwa ia mencintai mas, ia berharap bisa menjadi pendamping hidup mas dah ibu juga sudah merestui." Kataku
"Ciya? Tapi ... Tira, tapi aku tak menyukai Ciya. aku hanya menganggapnya sebagai adik saja. Aku dekat dengannya karena ia adalah adikmu." Kata mas Bagus.
"Tapi Ciya berharap lebih dan sebagai kakaknya saya juga tidak bisa membuat hatinya patah. Saat ini ibu masih sangat marah pada saya, jika saya mengabaikan harapan Ciya, maka ibu pun akan ikut murka sebab restu ibu sudah dimilikinya." Aku menjelaskan..Termasuk ketidak sanggupan aku untuk berkonflik dengan saudaraku sendiri, apalagi hanya karena masalah laki-laki.
Mas Bagus masih bimbang, untungnya ibunya memahami.. Lagi-lagi membuatku berharap semoga mendapatkan mertua seperti Tante Sonia.
"Tapi aku tak bisa jika harus beralih pada Ciya. Bagiku ia hanyalah seorang adik." tegas mas Bagus lagi. "Dua kali aku ditolak Ra. Apakah kita benar-benar tak akan bisa berjodoh?" lelaki itu menatapku penuh harap. Aku jadi grogi dengan tatapan itu.
"Maafkan saya, mas." kataku.
Kami menutup malam itu dengan perasaan yang tak enak. Namun sama-sama bisa menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Kadang, untuk masalah hati, ada masanya kita harus berkorban untuk orang lain demi keberlangsungan hubungan kekeluargaan agar tak ada konflik.
***
Sayangnya, aku benar-benar terkesan dengan kebaikan Tante Sonia dan tentunya mas Bagus yang begitu legowo. Sikap mereka membuatku malah memikirkan mas Bagus dan tanpa bisa aku hentikan, aku malah jatuh cinta sejak berpisah di resto tadi. Akibatnya, tidur malam ini jadi resah. Aku malah berharap agar Tuhan menghadirkan laki-laki lain di hidup Ciya agar ia bisa berpindah ke lain hati.
__ADS_1
[Bagaimana, kakak sudah sampaikan pesanku pada mas Bagus?] tiba-tiba masuk pesan dari Ciya.
Aku tak membalas. Malah semakin galau.
[Kak, Ibu sangat berharap agar aku jadi dengan mas Bagus. Mungkin inilah caranya agar kehormatan keluarga kita bisa bangkit lagi. Ciya yakin kakak bisa membatu sebab kakak kenal dekat dengan mas Bagus. Jadi mohon bantu Ciya ya kak.] pinta Ciya.
Ku putuskan untuk mematikan telepon. Menghayal memikirkan tentang masa depanku. kemarin Tuhan menghadirkan seorang lelaki tak baik di hidupku, ia menghancurkan aku hingga aku kehilangan banyak hal termasuk keluarga dan pekerjaan. Sekarang Tuhan menghadirkan seorang lelaki yang baik menurutku, tapi aku malah berhadapan dengan ibu dan adikku.
Apakah jangan-jangan mas Bagus adalah jodohku yang sebenarnya? Tapi aku tak bisa menyakiti perasaan adikku sendiri.
Malam semakin larut, aku benar-benar tak bisa memejamkan mata. Aku terus memikirkan semua itu. Merasa seolah-olah semua ini tak adil untukku.
Sebelum pikiranku semakin kemana-mana, ku putuskan untuk salat dan mengaji. Aku memutuskan untuk beribadah agar mendapatkan petunjuk dari Allah. Aku tak ingin lagi merasakan gagal seperti sebelumnya.
***
Alarm dari jam weker membuatku terbangun. Aku yang tertidur di atas sajadah segera bangkit dan menghidupkan Hp, tak lama banyak pesan masuk, salah satunya dari ibu. Aku yang semula terkantuk-kantuk langsung terjaga.
[Kamu tahu ibu masih sangat terluka atas apa yang kamu lakukan. Apapun alasannya ibu gak bisa menerima. Kamu benar-benar menghancurkan harga diri keluarga kita. Hanya ada satu cara untuk menaikkan kembali martabat Keluarga kita, yaitu apabila Ciya menikah dengan Bagus. Ia laki-laki baik dan berasal dari keluarga terhormat, bila mereka menikah maka kita akan kembali dihormati. Semua itu bisa terjadi jika kamu bisa membantu Ciya. Kali ini anggaplah ibu memohon padamu Ra, tolong bantu Ciya. kalau kamu berhasil, ibu akan memaafkan kamu.] pesan ibu.
Aku menelan ludah membacanya. Andai ibu tahu, aku pun kini mulai menyukai mas Bagus, kalau ia tahu, apakah ibu bisa merelakan mas Bagus menjadi milikku?
__ADS_1