
Akhirnya aku kini menikah. Menjadi istri dari Andre Winata. Lelaki asing pertama yang aku cintai dan mencintaiku juga. Ialah yang membuatku percaya bahwa ternyata cinta itu ada selain cinta dari ibu dan adik-adikku.
Aku berjalan penuh keyakinan menyambut uluran tangannya. Kami saling tersenyum, ia bahkan menatapku dengan mata berkaca-kaca. Saat kami berhadap-hadapan.
"Terimakasih bang, terimakasih sudah menjadikan aku sebagai istri Abang." Kataku, dengan suara terbata, menahan haru.
"Abang yang terimakasih Ra, kamu mau menjadi istri Abang. Sungguh Abang sangat beruntung, Ra." Katanya.
Aku mencium dengan khidmat punggung tangannya usai ia menyerahkan mahar yang kemudian mahar emas diambil alih Abah, lalu berpindah tangan ke Tante Utami. Meski itu sangat menggangu, namun aku tak peduli. Untuk saat ini saja, biarkan aku abai dengan sikap Abah dan istrinya itu. Aku tak ingin kebahagiaan ini rusak dengan sikap mereka.
Bang Andre mengambil keningku, mengusapnya dengan penuh khidmat. Tak berhenti bibirnya mengucapkan kebahagiannya akan pernikahan ini.
Selesai akad, kami menjami tamu-tamu yang datang. Meski hanya dihadiri keluarga dekat dan tetangga kiri kanan, namun ibu sudah menyiapkan suguhan sebanyak mungkin. Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk putri pertamanya. Kata ibu, setelah menikah, biasanya putri akan dibawa oleh suaminya, inilah masa terakhirnya orang tua menjamu anaknya sebelum diambil alih suaminya.
Kami berdua seperti tak bisa dipisahkan. Kemana-mana berdua, saling bergandengan tangan. Bahkan menyalami tamu yang hadir juga menikmati hidangan. Aku berharap genggaman tangan ini untuk selamanya.
"Sel, cari suami itu seperti suaminya Tira. Punya masa depan jelas. Jangan sembarang. Supaya nggak ngerugiin orang tua juga!" Tegas Abah saat kami lewat di depan mereka.
Meski mendengar jelas, aku mencoba pura-pura tidak tahu, namun dengan ujung mata aku bisa melihat raut wajah Gisel berubah tak suka.
Usai menyalami tamu dan beramah-tamah dengan keluarga besar Abah dan ibu yang hadir, aku dan bang Andre makan soto Betawi. Ibu adalah salah satu hidangan kesukaanku, makanya ibu sengaja menyiapkan menu tersebut di acara ini.
__ADS_1
Sedang menikmati makanan, tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar, diikuti dengan tangis histeris. Aku dan bang Andre melirik ke luar mengikuti orang-orang yang keluar satu persatu untuk melihat sumber keributan tersebut.
Tampak seorang ibu muda menangis histeris ditemani tiga orang lainnya. Satu memegang kamera, satu lagi memegang ibu muda yang histeris sedangkan satunya lagi memaki-maki dengan kasar.
"Sungguh kalian tega, merebut suami saudara kamu dan merayakannya dengan penuh kegembiraan. Benar-benar tidak tahu malu, kalian pikir bisa selamat dunia akhirat. Tidak! Semua yang hadir di sini akan kami tuntut di akhirat kelak!" kata yang paling tua.
"Ibu-ibu, sebelumnya tenang dulu. Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" pak RT selaku yang dituakan maju untuk meredam keributan ini.
"Kalian sudah memfasilitasi pernikahan suami adik kami!" Katanya.
"Maksudnya bagaimana?" tanya salah seorang saudara ibu.
"Itu ... Andre Winata adalah suami sah dari adik kami!" Ia menunjuk bang Andre.
💐💐💐
Bang Andre suami orang. Apa-apaan ini? Aku langsung lemas. Teringat kejadian dulu saat aku masih kecil, ketika ibu sedang hamil Kiki. Dengan mata berkaca-kaca ibu membawaku beserta Ciya dan Elis ke suatu tempat dimana di sana tengah berlangsung acara pernikahan.
Ya, Abah yang sedang mengucap ija. Kabul, membuat janji suci dengan Tante Utami. Mereka menikah saat ibuku masih menjadi istri sah Abah. Hati kami berempat hancur, ibu berusaha sekuat mungkin menceritakan siapa dirinya dan bagaimana status Abah, namun semua yang hadir di sana seolah menutup mata, mereka abai dengan keterangan ibu, bahkan berlindung dengan pengakuan Abah yang mengatakan sedang proses bercerai dari ibu.
Bukannya mendapat simpati dan dibela, namun ibu malah dikatai balik. Dinilai sebagai istri yang tidak becus sehingga suami berpaling.
__ADS_1
Aku yang kala itu sudah mulai paham sedikit-sedikit hanya bisa mengajak ibu pergi agar tak ada lagi luka baru. Tak lupa sebelum meninggalkan tempat itu aku memaki abah dan tentunya dibalas dengan sumpah serapah oleh Abah.
"Dasar anak durhaka..begini ya ibu kamu ngajarin kamu selama ini. Biar deh, semoga saja nanti kamu juga ngerasain seperti Abah. Jatuh cinta sama orang lain yang sudah punya pasangan supaya kamu tahu namanya pernikahan kalau istrinya tidak becus memang pantas untuk diganti!" Sumpah itu membuat ibu histeris, sementara aku tak peduli sama sekali.
Tuhan, dari dulu aku tak pernah tahu apa itu bahagia. Aku selalu menjalani hari dalam kesendirian. Tadi, aku merasa hidupku sudah sangat sempurna. Aku mengira kesedihan itu tak akan pernah lagi hadir di hidupku. Tapi ternyata aku salah. Kebahagiaan itu semu, hanya sementara. Sepertinya aku tak akan pernah bahagia untuk selamanya.
"Kakak sudah bangun?" tanya Kiki dan Elis, yang menemaniku di kamar. "Kakak nggak apa-apa kan?" tanyanya.
Bagaimana aku tidak apa-apa sementara aku baru saja menikah dengan laki-laki yang masih berstatus suami orang. Ya, itu berarti aku menjadi wanita kedua. Innalilahi. Aku merutuki nasibku sendiri. Kenapa aku harus menjalani nasib seperti ini. Ada begitu banyak lelaki yang datang kepadaku saat itu, menawarkan menjadi teman dekat hingga menikah, tapi kenapa akhirnya harus menikah dengan suami orang? Nasibku benar-benar buruk.
"Aaaaaaaaaa!" aku berteriak histeris, tak sanggup rasanya menjalani ini semua. Dahulu aku sangat membenci yang namanya wanita kedua, sebab sudah menghancurkan rumah tangga abah dan ibu, tapi kenapa sekarang justru aku yang menjadi perempuan kedua? Ya Allah ....
Bang Andre juga kenapa tega padaku. Entah apa salahku hingga ia tega menipuku. Aku benar-benar merasa duniaku hancur. Aku sudah tak punya harapan hidup lagi. Dalam keputusasaan ini aku berharap bisa merubah waktu atau ini hanya mimpi sehingga ketika aku terbangun semuanya akan baik-baik saja.
"Kak, kakak tenang dulu kak. Jangan menangis. Kasihan ibu kak, nanti kalau kakak kenapa-napa ibu juga semakin sedih." Ucap Elis.
Sekejap aku tersadar. Benar, ada ibu yang entah bagaimana perasaannya sekarang. Kalau Abah, aku tak peduli. Dan aku sangat yakin ia pun tak akan mengambil hati insiden ini sebab dahulu Abah pun melakoni hak yang sama.
"Ibu, mana ibu?" Tanyaku pada mereka berdua.
"Ibu ada di depan kak, sedang bicara dengan ...." Elis melirik Kiki.
__ADS_1
Aku tak membutuhkan jawaban lainnya, tanpa bicara sepatah katapun aku langsung bangkit menuju ke depan menemui ibu