Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Penghakiman Mbak Dila Dan Keluarga Besar


__ADS_3

"Sudah marah-marahnya? Puas sudah memaki-maki orang lain, menjambak, main fisik kayak orang bar-bar saja. Benar-benar tidak tahu malu. Kampungan. Puas Tira Pratiwi? Kamu sukses membuat kehebohan malam ini. Kamu benar-benar berbeda dengan kamu yang dulu. Tetuah kita pasti sangat malu. Anak yang dididik dan dijaga dengan baik oleh ibunya dengan susah payah malah kayak gini. Jauh dari kata terpelajar, beradab dan punya etika. Kamu benar-benar kayak perempuan liar yang nakal, kasar dan menyedihkan!" bentar mbak Dila yang merasa kesal sebab ia pun sempat menjadi sasaran cakaran aku dan Giya karena ia berada di antara kami. "Lihat ini, lihat ini baik-baik." ia menunjukkan luka di lengannya. "Semua gara-gara kamu. Gini kwalitas perempuan yang selalu dibangga-banggakan kakek dan nenek kita. Memalukan!"


"Maaf mbak," kataku. Jujur aku kaget dengan apa yang dituturkan mbak Dila, kenapa ia bisa membuat kesimpulan seperti itu tentangku. Hanya karena aku tak teliti mencari jodoh, maka aku terlihat seperti manusia yang paling hina dan banyak dosanya. Benar-benar tak bisa dimaafkan, apalagi dimengerti. Padahal aku pun sangat menderita dengan semua itu. Aku tak hanya sakit hati, tapi merasa hancur sehancur-hancurnya. Tapi aku mencoba memahami, ia begitu pasti karena kesal sebab sudah menjadi tameng dan tersakiti oleh kami berdua.


"Maaf maaf maaf. Lalu nanti mau ulangi lagi? Kalau ketemu anak itu mau marah-marah lagi, mau menyerangnya lagi? Benar-benar nggak elegan..sikap kamu itu benar-benar menunjukkan bahwa gen ayah kamu mengalir kuat di dalam tubuh kamu, Ra. Kamu persis abahmu, hanya bisa membuat masalah. Lihat tuh grup keluarga besar kita, semua membicarakan kamu. Semuanya malu dengan kelakuan kamu. Apa Ndak mikir kamu, Ra. Kamu nggak kasihan sama ibumu. Adik-adikmu juga. Benar-benar menyedihkan!"


"Aku nggak menghendaki semua ini, mbak."


"Enggak menghendaki tapi sampai menikah sama suami orang. Apa itu namanya Tira? Ya Allah, malu benar aku sebagai saudara kamu Tira. Benar-benar malu aku. Bagaimana kalau semua orang tahu kejadian ini dan mereka juga tahu kamu itu saudaraku. Bisa-bisa aku juga dianggap sama seperti kamu. Iiihhh amit-amit banget Ra. Mbok ya kamu itu mikir Tira, sebelum melakukan semua ini. Kamu itu kan cantik, pintar juga, kenapa bisa sebodoh itu, kayak enggak ada laki-laki lain saja. Malu aku Ra, malu. Serendah itu kamu, Ra. Apa nggak lihat bagaimana merah padamnya muka tetuah kita sebab menahan malu karena ulah kamu!"


"Mbak malu punya saudara seperti aku? Mbak malu kalau orang-orang tahu? Tenang saja, mbak. Aku nggak akan pernah memberitahukan pada siapapun kalau kita ini saudara. Bahkan kalau orang bertanya pun aku tak akan memberitahu sebab aku tahu diri mbak, aku yang penuh dosa ini memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga besar kita yang suci. Yang nggak pernah berbuat kesalahan dan selalu menjaga kehormatan kakek kita. Puas, mbak? Terima sudah menghakimi saya, menambah luka dalam hati saya. Nggak hanya Keluarga besar kita yang terhormat itu yang malu, tapi aku juga malu, mbak. Akulah yang paling malu sebab berkaitan dengan diriku sendiri!" aku merasakan dada ini begitu sesak. Dari tadi hanya mendengar penghakiman orang-orang saja tanpa ada yang prihatin denganku. Apakah aku sehina itu? Tak ada perempuan baik-baik yang mau menghancurkan rumah tangga orang lain sebab taruhannya adalah dosa besar dari Tuhan. Selama ini aku selalu menjaga diri dengan baik, baru berhubungan dengan laki-laki asing hanya dengan bang Andre tapi inilah yang ku dapatkan seolah aku perempuan liar yang bebas.

__ADS_1


"Kok jadi kamu yang marah-marah? Kamu yang buat kesalahan jadi wajar dong orang lain menghakimi kamu. Aku lihat kamu semakin nggak bisa dikendalikan, Ra. Mentang-mentang di keluarga kita kamu paling cantik dan sekarang punya pekerjaan mapan tapi sombong sekali. Sadar Tira, bisa jadi ini semua adalah peringatan Tuhan untuk kamu yang terlalu membanggakan diri sendiri!"


Air mataku semakin deras. Aku tak seperti itu. Bahkan sampai detik ini aku tak pernah membanggakan paras yang Allah berikan, juga pekerja yang ku miliki sekarang. Semuanya ku syukuri sebaik mungkin. Aku cantik, tapi tak pernah mempergunakan kecantikan ini untuk maksiat. Aku punya pekerjaan bagus juga untuk ibu dan adik-adikku. Lalu kenapa mereka mengatakan seperti itu.


"Aku penasaran pengen lihat bagaimana tanggapan keluarga besar kita dengan sikap kamu tadi? apalagi kamu sampai marah-marah sama aku hanya karena aku nasihati..Itu bukti kesombongan kamu, Tira!"


"Aku nggak sombong, mbak. Aku marah bukan karena nasihat mbak, tapi karena mbak nuduh aku yang bukan-bukan."


"Aku nggak tahu, mbak, kalau dia sudah menikah."


"Halah, itu bisa-bisanya kamu saja kan nutup-nutupin keadaannya."

__ADS_1


"Enggak mbak,"


"Aku juga pernah tanya kamu tentang doa, kan? Tapi kamu nutup-nutupin."


"Enggak mbak, aku ..." Entah bagaimana menjelaskan padanya, tapi saat ini aku benar-benar terpojok. Kondisi itu malah membuat hatiku makin hancur. Aku seperti tak punya harapan lagi. Aku sudah sangat buruk Dimata mereka meski aku tak peduli itu, tapi tolong jangan kasar sekali. "Baiklah kalau itu penilaian mbak Dila, meski aku tak merasa seperti itu. Aku terimaa, mbak. Aku juga akan berusaha memperbaiki diri sebaik mungkin nantinya. Sekarang biarkan aku sendiri." pintaku, dengan perasaan yang sudah tak menentu.


"Oooh ngusir? Heh, nanti kalau ada apa-apa jangan nyari aku..Sekalian bilang sama ibuku Ra, nggak usah melibatkan aku untuk ngelihatin kamu. aku terbebani. aku nggak suka dimintai tolong seperti itu. Paham nggak kamu. Emang nggak tahu terima kasih, sudah dibantu malah ngusir. Nggak tahu diri!" Mbak Dila melengos pergi, tentu saja tanpa perasaan bersalah sedikitpun sudah membuat hatiku terluka.


Di kamar ini, aku.menangus sejadi-jadinya. Andai mereka tahu, menjadi aku tidaklah mudah. Sejak kecil dihantui rasa takut sebab paras ini membuatku diincar banyak laki-laki. Belum lagi kehilangan sosok Abah membuatku semakin tak percaya yang namanya cinta. Aku benar-benar tumbuh dengan selalu mengesampingkan perasaanku sendiri..bagiku, cukup untuk ibu dan adik-adik saja.


Apakah memang hingga akhir nanti aku akan seperti ini. Tak berhak merasakan cinta untuk selamanya. Hidupku hanya bentuk pengabdian pada ibu dan adik-adik.

__ADS_1


__ADS_2