
"Kamu menjebakku, Man?" Aku menatap Amanda dengan tajam, ia sampai mundur beberapa langkah, lalu menundukkan kepalanya. "Kamu tahu Man, kalau ini perbuatan kriminal. Jangan main-main Man, kamu bisa terseret masalah hukum!" kataku. Berharap dengan ditegaskan seperti ini ia jadi sadar dan mau membantuku sebab sekarang hanya ia yang bisa ku andalkan. Telepon dengan pak Saka sudah mati. Ia tak akan tahu kalau sekarang aku sedang tidak baik-baik saja.
"Hahaha, kamu mau ngomong apa sih sayang? Sudahlah, menyerahlah. Tak perlu sok jual mahal seperti itu sebab bagaimanapun juga sekarang kamu sudah tak bisa kemana-mana. Sekarang kamu adalah milik kami bertiga. Ayo menyerahlah, kalau kamu mau berdamai itu jauh lebih baik, kami pasti akan memberikan keuntungan untuk kamu." kata Robin dengan sangat menjijikkan, membuatku mual dan ingin meludahi wajahnya.
"Iya, benar apa yang dikatakan Robin. kamu menyerah saja, sayang. Jadilah peliharaan kami seperti Amanda, dijamin hidup kamu enak. Kamu mau apa tinggal bilang saja, kami akan berikan semuanya." sibandot Hito ikut maju.
"Tapi kalau kamu berani menolak kami, atau coba-coba kabur maka kamu tahu sendiri balasannya. Kamu akan kami habisi malam ini juga!" Robin menyeringai.
Tuhan, hanya Engkau yang bisa membantu hamba. Dalam kondisi tersudutkan, aku berusaha keras untuk tetap tenang meski sebenarnya badanku sudah mulai menggigil karena takut jadi korban mereka. Aku tak takut jika mereka membunuhku, tapi aku sangat tidak rela jika mereka berani menyentuhku.
"Masih ada kesempatan Amanda." aku melirik Amanda. "Kamu tahu kan apa yang akan terjadi kalau kamu tak segera bertindak!" Kembali aku mengancam, menunjukkan bahwa aku tak akan pernah rela jadi korban mereka bertiga.
"Heh perempuan bodoh. Sana pergi. Masuk ke kamarmu dan biarkan kami bersenang-senang dengan nona cantik yang sok pintar ini!" seperti serigala buas yang kelaparan lalu melihat mangsanya, Robin menyuruh Amanda untuk masuk ke kamarnya. Ia tak ingin Amanda terpengaruh oleh ucapanku.
"Tolong ya Allah, tolong gerakkan siapa saja untuk membantuku." pintaku dalam hati. "Aku sungguh tak rela dihinakan seperti ini!" aku kembali menyebut Allah, memohon agar ada keajaiban untukku yang semakin terpojok. Meski begitu aku tetap berpikir mencari celah untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi masih buntu. Kalau harus berteriak rasanya juga tak mungkin sebab unit apartemen Amanda ada peredam suaranya. Aku hanya akan melakukan hal yang sia-sia.
__ADS_1
Tiga berandal itu tak mau membuang waktu. Mereka berusaha mendekatiku namun sekuat mungkin aku berusaha mengelak, menggunakan apapun untuk menyelamatkan diri sambil terus berdoa agar Allah mengirimkan seseorang untuk membantuku.
Aku nyaris memasrahkan diri untuk mati saja saat itu juga ketika tangan kotor Robin nyaris menyentuhku.
Bruk. Beberapa orang berseragam coklat telah datang, aku benar-benar gemetar. Tangis ku langsung pecah saat melihat Pak Saka ada di belakang mereka.
Aku selamat! Air mataku semakin deras, aku sampai terduduk saking lemasnya. Tak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya diriku jika mereka terlambat sedetik saja. Mereka pasti akan menyentuhku dan hidupku semakin hancur.
"Ra, kamu enggak apa-apa, kan?" pak Saka menghampiri. Aku menggeleng. "Maaf kalau kedatanganku terlambat. Kamu mematikan telepon, aku pikir kamu baik-baik saja. apalagi pembicaraan kamu diawal tak ada yang mencurigakan." kata pak Saka lagi
"Saya tidak apa-apa, pak. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Untunglah bapak datang membawa polisi sekalian kalau tidak mungkin saya sudah hancur." aku masih terus menangis.
"Bapak-bapak jangan sembarangan. Kami tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Kami bertiga orang-orang yang terhormat. Kami ke sini untuk menghadiri undangan istrinya pak Hito. kebetulan di sini ada mbak Tira juga. Kalau benar kami ingin menjahati Mbak Tira, tidak mungkin kami melakukannya di apartemen istri pak Hito, yang benar saja. Lagipula yang datang ke sini adalah mbak Tira sendiri, masa korban menyerahkan dirinya pada pelaku. Itu namanya suka rela;" elak Jimi.
"Bohong, saya ke sini karena diundang oleh Amanda, ia sudah menjebak saya!" kataku yang terbawa emosi.
__ADS_1
"Mana buktinya istri saya mengundang anda?" tanya Hito.
Aku langsung gemetar. Tak ada satu bukti yang aku miliki untuk mengungkapkan bahwa aku benar-benar dijebak. Amanda tidak mengirimkan pesan melainkan menelepon langsung, itupun hanya sekali. Sekarang aku benar-benar sadar kalau mereka sudah merencanakannya dengan sangat matang. Aku tak akan bisa lagi mengelak.
"Kamu tega, Man," aku melihatnya tajam.
"Bagaimana bapak-bapak? jangan sampai salah tangkap hanya karena salah paham. Sebenarnya antara kami memang ada masalah dengan mbak Tira, kami adalah atasannya yang terpaksa memecat karena ia melakukan perselingkuhan dengan suami orang. Di sini harusnya mbak Tira yang dicurigai, sengaja ingin membuat jebakan untuk kami, mungkin ia mau balas dendam pada kami. Sementara kami tak ada motif apapun sebab kami tak ada masalah dengannya. Benar begitu kan mbak Tira?" dengan liciknya Jimi memutar balikkan fakta sehingga aku tak bisa berkutik.
"Benar-benar licik!" kataku. "Man, ini kesempatan terakhir untuk kamu, kalau kamu tak berkata jujur, jangan menyesal jika suatu hari kamu mendapatkan balasannya!" kataku lagi.
Amanda masih tutup mulut. Pak Saka mengingatkan aku agar segera mundur saja sebab perdebatan ini hanya akan sia-sia saja. Aku tak punya bukti apapun. Ditambah mereka memang belum sempat melakukan apapun padaku sehingga aku tak bisa berkutik.
Dengan menahan kemarahan, akhirnya aku berlalu dari apartemen Amanda, sebelum pergi ku katakan padanya agar ia belajar menghargai dirinya sendiri.
"Aku nggak tahu sudah sejauh mana kamu, Man. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan. Kamu tak harus diperlakukan seperti itu. Kamu harusnya dihormati, Man. Jangan pernah percaya pada buaya-buaya itu atau kamu akan menyesal selamanya. Sekarang mereka memang masih menampung dan memberikan apa yang kamu mau, tapi nanti, dengan mudahnya mereka akan menggantikan kamu dengan yang lebih muda dan lebih menarik. Jadi hargai diri kamu sendiri, Man, agar orang lain pun menghargai kamu!" kataku.
__ADS_1
Amanda tak bicara, seperti tadi, ia hanya menunduk. Lalu aku dan pak Saka pergi meninggalkan unit Amanda. Begitu masuk ke dalam lift, aku menangis sekencang mungkin untuk menumpahkan kekesalanku.
"Kenapa ... Kenapa aku harus mengalami semua ini. Mereka terus berusaha untuk melecehkan aku namun sampai saat ini tak ada bukti yang kumiliki. Masa harus jadi korban dulu untuk dapat keadilan!" aku menggerutu.