Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Marah


__ADS_3

Di dalam mobil pak Saka, aku menangis sejadi-jadinya. Merasa semuanya tak adil untukku. Kenapa begitu sulit membuktikan kejahatan tiga orang laki-laki jahat itu. Apalagi ditambah Amanda yang tega ikut-ikutan terlibat untuk menjahatiku.


"Ini benar-benar nggak adil, kenapa mereka begitu licin seperti belut, padahal sudah beberapa kali tapi selalu gagal untuk memasukkannya ke penjara. Lagi-lagi mereka yang menang!" Aku merasa sangat frustasi. terus mengomel meski sekarang mobil sudah melaju meninggalkan apartemen.


"Tira, tenanglah. Kadang memang kita tak bisa membalas sendiri perbuatan jahat orang lain kepada kita, jadi serahkan semuanya kepada Tuhan." Nasihat pak Saka. Sambil fokus menatap jalanan. Ia terlihat sangat kelelahan namun masih sangat sabar menantikan aku.


"Apa? Jadi aku harus melepaskan mereka lagi?" aku menggeleng. "Tidak bisa, Pak. Ini bukan hanya sekedar tentang saya saja. Tapi ada banyak korban lainnya juga yang masih tak bisa bersuara. Entah sudah berapa banyak gadis-gadis yang jadi korban mereka. Di rusak kehormatannya."


"Ya, tapi ...."


"Pak, saya sangat berterima kasih sebab anda susah membantu saya keluar dari perangkap mereka. Bahkan bapak sudah membawa polisi segala, tapi tetap saya akan berusaha memenjarakan mereka!" kataku.


"Polisi-polisi itu bukan saya yang memanggil, Ra."


"Oh ya? Lalu siapa?"


"Saya tidak tahu. Yang jelas saya melihat banyak polisi masuk, perasaan saya tidak enak, makanya mengikuti dari belakang dan ternyata memang benar dugaan saya kalau kamu sedang dalam bahaya. Saya tak naik karena Hp kamu matikan, saya pikir semua aman-aman saja. Kamu hanya ingin bicara masalah yang tak ingin didengar oleh orang lain selain kalian berdua. Jadi saya putuskan untuk menunggu saja."


Aku langsung diam, kalau bukan pak Saka yang memanggil, lalu siapa? Pikiranku langsung tertuju pada Amanda. Apakah ia yang melakukan semua ini, karena rasanya tak mungkin orang lain? Kalau memang benar, kenapa tadi ia malah diam saja seolah berpihak pada ketiga orang itu.

__ADS_1


"Itu pasti Amanda!" aku meyakini sebab hanya ia yang punya akses untuk menghubungi polisi saat itu. "Aku harus bicara dengannya. Kita kembali ke tempat tadi, pak." Pintaku.


"Ra, untuk apa ke sana lagi. Kalaupun tebakan kamu benar itu Amanda, ia pasti merencanakan sesuatu. Tapi yang jelas itu berbahaya untuk kamu, Tira. Kamu bahkan tak tahu cara menghadapi mereka. Jadi mulai sekarang saya perintahkan pada kamu untuk sudahi ini semua. Jangan pernah datang ke sana lagi. Jika suatu saat Amanda menghubungi kamu, abaikan saja." Kata pak Saka. Ia menghentikan mobilnya.


"Tapi Pak,"


"Tak ada tapi-tapi Tira. Keselamatan kamu jauh lebih penting ketimbang membalas dendam atau mencari jawaban dari teka teki ini. Pokoknya kamu nggak boleh ke sana lagi."


"Maaf, Pak. Tapi saya harus tetap ke sana." Aku meminta diturunkan di sini sebab pak Saka menolak untuk mengantarkan kembali ke apartemen Amanda. Ada hal yang tak beres menurutku. Entah apa itu, tapi hari ini juga aku harus mendapatkan jawabannya. Kami sempat berdebat hingga akhirnya aku marah sebab ia bertahan tak mau mengantarkan. "Bapak nggak bisa ngelarang saya seperti itu. Kalaupun ada apa-apa, saya sendiri yang akan menanggung akibatnya. Sekarang bukain pintunya karena saya mau turun. Saya menghargai kebaikan bapak yang mau membantu mengantarkan saya, tapi bukan berarti bapak bisa mengatur hidup saya. Bapak bukan siapa-siapa saya!" Aku menegaskan karena sangat kesal sebab ia tak mau membukakan pintu juga.


"Kamu mau bicara apa juga saya tidak peduli, Tira. Mau marah juga silahkan. Tapi yang jelas saya enggak akan membiarkan kamu kesana sebab itu sangat bahaya. Sia-sia saya menjaga kamu kalau saya melepaskan kamu begitu saja. Saat ini saya memang bukan siapa-siapa kamu, Tira, tapi saya berniat ingin menjadi teman hidup kamu untuk selamanya."


"Tira ... saya sudah pernah mengatakan isi hati saya bahwa saya mencintai kamu. Itu benar. Saya ingin menikah dengan kamu. Sekarang hingga nanti, izinkan saya untuk menjaga kamu selamanya."


"Bapak bicara apa sih?" Aku mengerutkan kening.


"Harus ada seseorang yang menjaga kamu sebab mereka bertiga mengintai kamu dan tidak tertutup kemungkinan mereka akan kembali melakukannya. Saya mohon, izinkan saya untuk menjaga kamu selamanya. Ayo kita menikah!"


"Me ... menikah? Nggak, saya nggak mau menikah dengan orang hanya karena ia kasihan dengan saya."

__ADS_1


"Siapa bilang hanya karena kasihan. Tapi juga karena saya sangat mencintai kamu, Tira!"


"Maaf pak, tapi saya tidak tertarik bicara masalah cinta. Lagipula hati saya sudah tertutup untuk masalah cinta-cintaan. Gara-gara cinta saya jadi susah seperti ini!"


"Tira,"


"Terimakasih bapak sudah banyak membantu saya, tapi sepertinya saya tak bisa untuk bersama bapak lagi." karena tak ingin berdebat lagi, makanya ku minta ia untuk mengantarkan aku pulang.


Malam ini rasanya sangatlah melelahkan. Siapa yang tak bahagia bisa mendapatkan cinta pak Saka, tapi bukan itu tujuan hidupku sekarang. Aku harus mengantarkan tiga penjahat itu ke penjara. Barulah mungkin aku bisa memikirkan kebahagiaan untuk diriku sendiri.


***


[Jangan lupa, hari ini kita bertemu. Saya sudah jelaskan apa yang harus mbak lakukan. Kalau mbak mau berdamai, maka ikuti semua yang saya katakan..Ayo sama-sama bicara jujur!] pesan ku kirimkan pada mbak Lina. Setelah semua selesai, sekarang waktunya untuk membuat surat pengunduran diri.


Namaku sudah sangat tercoreng, semakin banyak yang mengetahui kasusku dan menghukum secara sepihak tanpa mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku gak ingin membuka lembaran baru, memulai kisah baru sebab yakin itu hanya akan jadi masalah lagi untukku. Rasanya sudah lelah menjalani ini semua. Setelah urusan dengan mbak Lina dan Andre selesai maka aku akan fokus balas dendam pada tiga penjahat itu. Apapun caranya aku harus bisa menemukan bukti untuk menghancurkan mereka.


"Pak Saka, maafkan saya. Terimakasih banyak sudah memberikan banyak kesempatan untuk saya." tanpa sadar aku menitikkan air mata. Ia adalah satu-satunya teman yang aku miliki saat ini, ia yang begitu bersemangat membelaku, mensupport bahkan membantuku di setiap masalah. Sekarang aku harus meninggalkannya. Setidaknya aku sudah membantunya membangun perusahaan impiannya yang sudah dikenal oleh khalayak. Ia sudah menggapai apa yang dicita-citakannya. Tinggal mengembangkan saja. Tugasku sudah selesai. Aku bisa fokus dengan urusanku lagi.


Teringat saat pertama kami bertemu, ia begitu sabar berusaha agar aku mau menjadi pegawainya.

__ADS_1


"Sekarang bapak bisa melanjutkan mimpi bapak, kita sudah mencapai titik tertinggi, tinggal mempertahankan saja." aku menatap keluar jendela apartemen, lalu tersenyum membayangkan sedang melempar senyum pada pak Saka.


__ADS_2