
Desa Rambutan, di wilayah Bantul. Pak Saka masih sibuk mengotak -atik google map. Mencari dimana letak keberadaan kampung perempuan yang telah melahirkanku. Sementara aku masih diam melamun, memikirkan ibu dan Ciya. Hari ini pernikahan adik sulungku. Hingga sekarang mereka belum menghubungi aku. Apakah aku benar-benar sudah gak ada di hati mereka?
Terpikirkan olehku tentang masa sebelum semua ini terjadi. Dimana hubungan kami masih baik-baik saja. Tak pernah aku merasakan ibu bersikap tak adil padaku. Ia selalu memperlakukan aku sama seperti adik-adikku. Tapi mengapa begitu cepat mereka melupakan aku, apakah benar tak ada sedikitpun tersisa perasaan sayang untukku, apakah kesalahanku amat fatal hingga akhirnya tak mendapatkan tempat meski hanya sedikit?
Aku menatap langit kota Jogja. Membayangkan bagaimana bahagianya orang-orang di rumah saat ini.
[Selamat berbahagia, dik. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah.] pesan singkat ku kirim ke Ciya.
Tak berapa lama ada balasan dari Ciya. [Apa maksudmu? Kamu sekarang pasti sedang menertawakan aku? Kamu puas sudah menyakiti aku hingga hancur berkeping-keping? Kamu tahu, ibuku sudah mengasuhmu sejak kamu masih bayi merah, memberikan apa yang bisa ia berikan. Tidak pernah membeda-bedakan antara kamu dan kami anak-anak kandungnya. Tapi ini balasannya. Kamu memang rendahan. Sama seperti ibumu. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kelak rasakanlah pembalasan dari Tuhan karena sampai kapanpun aku tak rela diperlakukan seperti ini!]
Balasan yang dikirimkan Ciya membuat keningku berkerut. Kenapa jadi begini? Apa aku melakukan kesalahan? Padahal hanya mengucapkan selamat, itupun rasanya tak ada yang menyinggung.
"Kita berangkat sekarang?" tanya pak Saka, membuyarkan lamunanku.
"Hah, eh, iya pak." aku tersadar dari lamunan.
"Kenapa Ra, ada masalah?"
"Enggak." saat ini aku akan mengabaikan masalah ini dahulu sebab ada yang lebih penting. Menemukan perempuan itu agar pak Saka tak perlu berlama-lama di sini menemani.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, pak Saka sibuk memantau lewat maps di Hpnya, sesekali ia mengajak berbincang. Tapi aku hanya menanggapi seadanya karena pikiranku bercabang-cabang.
Sejak tadi, bergantian nomor masuk ke Hp. Entah siapa -siapa yang menghubungi, aku belum berani membukanya sebab khawatir pikiranku makin tidak fokus. Sekarang biar aku menyelesaikan yang di sini dulu, nanti setelah semuanya jelas maka aku akan menghubungi kembali orang-orang yang sejak tadi menelepon.
Mobil kami berhenti tepat di sebelah lapangan bola sebab di sinilah maps menunjukkan alamat yang disebutkan ayah. Aku dan pak Saka melihat ke kiri dan kanan, mencari petunjuk. Namun nihil. Di sekitar lapangan ini tak ada bangunan rumah. Hanya ada kebun-kebun tebu yang sudah meninggi, siap untuk dipanen.
"Kita cari kemana ya?" tanya pak Saka.
"Entahlah. Masa cuma sampai di sini? Jangan-jangan alamatnya salah." kataku, sambil melihat ke arah Hp pak Saka, tapi benar, sudah tepat di titik tujuan.
"Bagaimana?" tanya pak Saka lagi.
"Baiklah." pak Saka mengikuti kata-kataku. Ia membuka setengah kaca, untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang lewat.
Lima menit, sepuluh hingga setengah jam menunggu. Aku sudah bosan. Kesabaranku sudah habis, makanya ku ajak pak Saka untuk turun.
"Ya sudah, kita lari saja di lapangan untuk membuang jenuh, siapa tahu nanti ada yang lewat " kata pak Saka. Ia lari duluan. Aku yang sudah ada di depan lapangan hanya diam mematung, malas untuk ikut berlari. "Ra ... Tira. Ayo ke sini!" panggil pak Saka.
Seperti anak kecil, ia berlari-lari kesana-kemari sambil tertawa-tawa kecil. Aku tak merespon, sibuk dengan pikiranku sendiri yang sudah sangat ruwet.
__ADS_1
"Tira ... Tira, ayo ke sini!" tiba-tiba pak Saka kembali memanggil, ia melambaikan tangan. Tapi karena aku mengabaikan, akhirnya ia memilih untuk mendatangiku. "Ra, di belakang sana ada pemukiman penduduk, barangkali kita bisa mendapatkan informasi dari sana. Ayo ke sana!" ajak pak Saka.
Setitik harapan mulai terasa. Aku yang semula sempat bermalas-malasan karena tak kunjung mendapatkan petunjuk akhirnya kembali bersemangat. Kami berdua berjalan kaki ke sana karena merasa tak memungkinkan membawa mobil sekalian.
"Apa saya bilang, nggak mungkin di sini nggak ada rumah sementara ada lapangan bolanya." kata Pak Saka, sambil berjalan bersisian denganku.
Semakin dekat, semakin aku merasakan ada sesuatu yang memanggil-manggil di sana. Entah siapa. Langkahku semakin cepat, semakin dekat.
***
Dengan segala keterbatasan bahasa, akhirnya kami mendapatkan penerangan dari kepada dukuh di sana. Kampung ini, benar kampung kelahiran sekaligus tempat tumbuh Perempuan yang melahirkan aku hingga usianya delapan belas tahun. Beberapa perangkat desa dan juga tetua-tetua di sini menceritakan tentang perempuan itu.
"Ajeng Anyelir adalah yatim piatu, ia diasuh dan dibesarkan oleh mbahnya. Sejak dahulu ia adalah bunga di kampung ini. Karena banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya, tak hanya di kampung ini, tapi juga dari kampung sebelah membuat Ajeng tak disukai gadis-gadis belia lainnya sebab dianggap menghambat jodoh mereka. Lama-lama Ajeng jengah juga sebab ia tak disukai teman sebayanya, cenderung dimusuhi bahkan kadang dikerjain. Merasa tak nyaman, akhirnya ia merantau ke Jakarta untuk bekerja jadi pembantu rumah tangga. Ajeng yang polos, di perjalanan bertemu laki-laki licik yang kemudian mempersunting diam-diam. Ia dijadikan istri kedua tanpa tahu sebelumnya bahwa ia adalah istri kedua, bukan istri pertama. Laki-laki jahat itu adalah Budi, ayah kamu nduk." cerita Mbah tetangga rumah perempuan itu.
Mendengar cerita itu, aku bagai di sambar petir. Cerita yang nyaris sama dengan kisah hidupku. Beruntung aku berhasil terlepas dari jerat laki-laki itu meski ia sempat mengucapkan ijab kabul dengan ayah.
Hatiku pun sakit mendengar bagaimana liciknya ayah menipu perempuan polos seperti dirinya.
"Ajeng ketakutan saat istri pertamanya melabrak bahkan mengancam akan melaporkan ke polisi. Karena takut, akhirnya ia pulang ke kampung dengan kondisi sudah berbadan dua. Ajeng harus kembali berjuang sebab gadis-gadis di sini tak menyukainya yang meski sudah pernah menikah dianggap akan menjadi ancaman untuk rumah tangga mereka. Dalam kepayahan itulah akhirnya Ajeng melahirkan kamu. Ia yang tak punya apa-apa tak punya pilihan lain selain menyerahkan kamu ke istri pertama ayahmu agar ia tak dilaporkan ke polisi. Sejak kamu pergi dari pelukannya, Ajeng hilang arah. Ia sempat dilecehkan, menjadi perempuan malam hingga akhirnya ia meninggal karena dipasung sebab dianggap gila. Hidupnya sungguh sangat tragis. Dari lahir hingga tiada tak pernah merasa bahagia. Tapi semoga saja ia mendapat ampunan Tuhan agar bahagia di surga sana." kata mbah tersebut, menutup ceritanya dengan meneteskan air mata.
__ADS_1