Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Diantara Dua Bandot Tua


__ADS_3

Dua orang ini masih saja berusaha untuk menyudutkan aku, memaksaku mengaku bahwa aku seperti yang mereka duga. Rasanya ingin berteriak agar semua yang ada di kantor ini paham siapa mereka sebenarnya. Menyesal aku sudah sangat menghormati dua orang ini saat masih bekerja di sini.


"Dengar Tira, lagian kalau kamu memaksa bekerja di sini, kamu juga tidak ada gunanya. Kamu kira kamu diterima karena ada prestasinya. Tidak! Kamu diterima ya hanya karena kamu cantik. Kami menginginkan kamu. Hahaha." ungkap pak Robin.


Aku benar-benar panas mendengarnya. Jadi selama ini apa yang sudah kulakukan demi perusahaan ini tak pernah dianggap.


"Saya sudah menyelesaikan tanggung jawab saya, jadi bapak tidak bisa sembarang bicara. Bahkan saya terpilih sebagai pegawai terbaik!" aku.menegaskan.


"Hahaha, kamu pikir siapa yang memilihnya Tira? Aku. Akulah yang memilih sebab aku menyukai kamu!" ungkap pak Hito. "Ayolah Tira, tidak perlu bertele-tele lagi, enggak usahlah jual mahal. Penuhi saja keinginan saya."


"Tidak. Tidak akan pernah!" kataku.


"Lalu kamu mau apa pela--- kecil?" giliran pak Robin yang bicara.


"Terserah kalian, saya tidak punya waktu untuk meladeni kalian berdua lagi. Nanti, saya pastikan kalian akan menyesal sebab sudah menilai saya sembarangan dan sudah melecehkan saya!" Aku menegaskan. Sebelum pergi ku berikan kunci dan berkas yang diminta lewat email. Finis, aku berhenti dari pekerjaan. Aku tak Sudi menjadi bawahan dari laki-laki menjijikkan seperti mereka.


"Tira .... Tira!" Pak Robin berusaha menghentikan langkahku. Ia berusaha mengunciku di ruangannya.


"Kalian tak akan mendapatkan aku!" Kataku. "Kalian lah yang akan menyesal sebab sudah merendahkan aku sedemikian rupa!" aku mengancam. "Buka pintunya atau saya akan teriak kalau kalian berniat jahat pada saya!"


""Teriak? Tira Tira. Satu kantor juga sudah tahu siapa kamu saat ini. Semuanya sudah membaca berita tentang kamu yang menghebohkan jagat perkantoran ini. Jadi kalaupun kamu teriak, kamulah yang akan kalah sebab kamu tak punya bukti apa-apa. lagipula kamu di sini sendiri sedangkan Kami berdua!" Pak Hito bangkit dari duduknya, ia hendak menyergap aku.


"Saya tidak peduli apa kata orang, bagi saya mempertahankan harga diri saya adalah segala-galanya!" Kataku. "Buka pintunya atau saya akan berteriak!" kataku. Jujur aku sangat takut, dua bandot tua ini seperti ingin menerkam, menghabisi aku sampai tiada sisa. Aku benar-benar takut. Badanku gemetaran namun aku harus sigap untuk melindungi diriku sendiri.


"Robin, tunggu apalagi, sikat dia!" Kata pak Hito.

__ADS_1


Pak Robin langsung menangkap dan membekap mulutku, belum sempat ia melakukan apa-apa, tiba-tiba pintu ruangan pak Robin diketuk secara keras. Lebih tepatnya seperti digedor. Dua orang itu langsung panik. Ini kesempatan untukku. Aku langsung menerjang, menggigit tangan pak Robin hingga cengkeramannya lepas, lalu aku berlari ke pintu, membuka kuncinya dan langsung keluar.


"Tira?" Amanda, salah seorang sekretaris pak Hito berdiri di hadapanku.


"Amanda, kamu yang mengetuk pintu? Ada apa? Berani sekali kamu!" pak Hito tampak marah.


Ia tak menjawab, buru-buru menyeret ku menjauh. Amanda tak melepas tangannya hingga kami benar-benar keluar dari gedung perkantoran. Melewati beberapa gedung di samping kantor kami hingga akhirnya sampai di masjid yang berjarak cukup jauh dari kantor.


"Kamu enggak apa-apa, kan?" Tanya Amanda.


"Nyaris," kataku.


"Ya Allah," Amanda memelukku, ia mengatakan bahwa sekarang aku aman karena dua bandot tua itu tak akan bisa mengejar ku lagi.


"Kamu sudah menyelamatkan aku, Man," kataku. Aku kembali menangis.


"Tapi bagaimana kamu tahu kalau mereka ...."


"Sebelumnya aku sudah mendengar rencana mereka, Ra. Saat kamu masih cuti. Dua orang penjahat itu sebenarnya sudah lama mengincar kamu, jauh sebelum kejadian yang menimpa kamu. Aku ingin memberi peringatan tapi khawatir kamu tak percaya sebab aku tak punya bukti, lagipula kita tak akrab sebelumnya."


"Ya Allah, kenapa mereka begitu jahat " aku meradang.


"Ya begitulah, Ra. Mereka selalu tak bisa menahan diri melihat gadis-gadis muda, apalagi yang cantik seperti kamu. Asal kamu tahu, di kantor kita yang jadi korban bukan hanya kamu, tapi sudah banyak gadis-gadis lainnya. Aku punya daftar namanya sebab saat melakukan itu aku melihatnya tapi aku tak bisa mengatakan."


"Tapi kamu akan mendapatkan masalah karena sudah menolongku, Man."

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Aku akan tetap aman di sisi mereka sebab mereka masih membutuhkan aku."


"Kamu nyaman bekerja dengan mereka, Kan?"


"Ra, aku tak bisa menuntut kenyamanan lagi. Untuk seorang wanita kedua, uang adalah segala-galanya. Mereka rela menggadaikan kenyamanannya demi uang "


"Ma ... Maksud kamu, Man?"


"Ya Tira, aku adalah wanita simpanan pak Hito, bukan hanya sekedar sekretarisnya."


"Astagfirullah," aku menutup mulut dengan kedua tangan. Pengakuan Amanda benar-benar membuatku terkejut. Bagaimana mungkin seorang yang sangat tertutup di kantor, jarang berbicara dengan siapapun ternyata adalah seorang wanita simpanan.


Penampilan Amanda jauh sekali dari penampakan perempuan nakal. Ia sangat tertutup, bahkan selalu berpakaian rapi meski tidak memakai hijab. Aku memang tak terlalu mengenalnya sebab kami beda divisi, tapi ia tak mencolok sedikitpun.


"Tapi kenapa Man?" aku tak habis pikir. Amanda perempuan yang pintar, cantik dan berprestasi. Sayangnya ia membiarkan dirinya terjerumus dalam kubangan kesalahan.


"Aku tak punya pilihan lain, Tira " ungkap Amanda.


"Hito memaksa kamu?"


"Ini kesalahanku. Aku jatuh cinta pada suami orang. Sebenarnya aku tak menginginkan semua itu, tapi cinta datang tanpa bisa aku halangi. Ia menyambut cintaku hingga terjadilah hal yang tak pernah aku inginkan. Kami sudah melewati batas. Pak Hito selalu berjanji akan menikahi aku Tira, tapi aku tahu kalau janji itu hanyalah janji palsu yang tak akan pernah terwujud. Ia hanya menginginkan tubuhku." Amanda tersenyum miris, lalu air matanya mengalir. "Aku seperti perempuan bodoh, ya?"


"Ya Allah Man," kini giliran aku yang memeluknya. "Kamu tidak bodoh, hanya si Hito yang kurang ajar pada kamu, Man."


"Ini semua bukan sepenuhnya salah mas Hito, Ra. Akulah yang ingin tenggelam bersamanya."

__ADS_1


"Man, jangan pernah melakukan itu. Kamu sangat berharga. Hentikan semuanya. Di luar sana pasti ada laki-laki baik yang siap menjadi pendamping hidupmu. Ia bukan sekedar memanfaatkan kamu, tapi benar-benar mencintai kamu Man."


"Enggak Tira. aku nggak bisa. Aku nggak akan meninggalkan mas Hito." Amanda menghapus air matanya, ia langsung bangkit. "Kamu nggak mengerti. Cinta yang aku rasa beda dengan cinta yang kamu rasakan pada suami orang itu." Ia mengelak "Aku harus pergi, mereka pasti menungguku. Kamu jangan pernah kembali ya Ra. Jangan pernah mau terjebak seperti aku. Kamu harus bisa menjaga diri dengan baik.." Amanda segera pergi. Ia bahkan mengabaikan panggilanku.


__ADS_2