Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Menunda-nunda


__ADS_3

Mas Saka melihatku dengan penuh tanda tanya. Aku benar-benar harus berpikir cepat agar menemukan jawaban yang tepat supaya tidak lagi dipermasalahkan. "Baiklah, aku mengaku bohong. Aku hanya ingin terlihat tidak ketinggalan dari kamu. Maksudnya agar kita seperti sekelas. Sejak tadi, waktu kita belanja kebanyakan kamu yang menentukan. Aku hanya bisa diam, bengong karena memang tak paham apa-apa dan jujur aku merasa enggak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Aku ...."


"Sayang, tak perlu begitu. Baiklah, maafkan aku sudah membuat kamu tidak nyaman. Kita lupakan masalah ini. Sekarang ayo kita cari makan saja. Kamu lapar, kan? Kamu mau makan apa?" tanya mas Saka.


Syukurlah berhasil. Aku bersorak gembira dalam hati. "Hmmm, aku mau makan mi." kataku.


Mas Saka membawaku ke salah satu resto khusus mi. Begitu masuk kami sudah disambut dengan aroma mi yang menggugah selera. Aku sampai menelan ludah beberapa kali saking harumnya. Kami memesan dua mangkok mi dan dua gelas minuman dingin. Tak butuh waktu lama, mas Saka sudah menyelesaikan makannya. Sementara aku yang sebenarnya tak suka makan berlama-lqma harus menahan diri agar tak segera kembali ke hotel.


"Sekarang apa lagi ya alasannya?" aku kembali berpikir keras.


"Sudah?" Mas Saka membuyarkan lamunanku.


"Eh itu, pengen wafel." Kataku.


"Oh, di bawah ada." usai membayar sejumlah nominal makanan kami, aku dan mas Saka menuju bawah. Di sana ada outlet yang menjual wafel dan jenis lainnya.


Aku memilih dua buah wafel, es krim strawberry. Lalu makan roti Maryam, beli coklat, puding . Setelah selesai mas Saka kembali mengajak kembali ke hotel. Tapi ku alihkan menuju toko buku karena perutku sudah tak sanggup untuk menghabiskan makanan lagi.


Sudah dua kali mutar, tapi belum ada satu bukupun yang cocok denganku, karena sebenarnya aku tak berniat untuk membeli buku. Akhirnya ku putuskan untuk mengambil buku secara acak sebab mas Saka sudah mulai curiga.


"Sudah sayang? Sekarang kita pulang yuk. Aku sudah capek mutar-mutar. Lagipula ini sudah jam sembilan!" katanya.

__ADS_1


"Duh, jangan dulu. Aku mau ...." aku mencoba berpikir. "Kita nonton. Ya. Mau ya sayang!"


"Tapi ini sudah malam Ra,"


"Belum malam-malam banget lah. Masih banyak kok orang berkeliaran. Lagian aku dari dulu pengen banget nonton di bioskop malam-malam, tapi enggak pernah bisa karena nggak punya teman yang mau diajak. Kamu mau kan mewujudkan mimpiku? Anggap saja ini hadiah pernikahan kita. Ya?"


"Baiklah," dengan berat hati akhirnya mas Saka mengikutiku menuju bioskop di lantai paling atas. Sayangnya tak ada pilihan film yang menurutku bagus. Tetapi, daripada diajak pulang, akhirnya aku memilih satu film secara asal. Tak lupa sebelum masuk bioskop membeku makanan kecil dan minuman.


Dua jam aku dan mas Saka menonton. Tentunya tidak khusyuk. Aku menonton sambil ogah-ogahan sementara mas Saka sambil tiduran karena sepertinya ia benar-benar kelelahan. Tapi melihatnya ngabtuk-ngantuk, aku selalu berusaha membangunkan agar nanti kantuknya tidak hilang. Jadi sampai di hotel langsung tidur.


Rencana akhir yang aku buat berhasil juga. Sampai di kamar, mas Saka benar-benar sudah mengantuk. Ia bahkan salat Isya sambil terkantuk-kantuk. Setelah itu tertidur di atas sajadah yang disediakan dalam kamar hotel. Sementara aku bisa tidur dengan tenang tanpa harus khawatir dengan yang namanya tradisi malam pengantin.


***


"Ahhh, ganggu." Kataku yang masih mengantuk karena baru bisa tertidur di atas jam dua dini hari sebab khawatir mas Saka terbangun.


"Sudah subuh. Ayo salat bersama." Katanya.


Aku menurut, kami salat berjamaah bersama. Setelah salam dan berdoa, ia berbalik ke belakang, lalu mengulurkan tangannya untuk ku cium. Aku meraihnya malu-malu.


"Sayang, sekarang kan kita ...." belum sempat mas Saka melanjutkan pembicaraannya aku langsung memotong.

__ADS_1


"Wah, udara sangat indah sekali. Bagaimana kalau kita lari pagi?" aku memberi usul, tentu saja awalnya ia mengelak, tapi tak akan mudah untuk mengalahkan aku, makanya akhirnya mas Saka ikut juga, tentunya dengan wajah cemberut.


Kami berdua lari pagi di joging track. Karena merasa areanya tak terlalu panjang, akhirnya ku ajak ia lari pagi keluar dari kawasan hotel. Kami lari sambil bercanda. Ia yang awalnya cemberut kini sudah bisa tertawa. Usai jalan pagi kami makan bubur ayam yang dijual di gerobak pinggir jalan. Lagi-lagi mas Saka protes sebab aku mengajaknya makan di sembarang tempat, tapi begitu merasakan rasanya ia akhirnya diam juga, bahkan sampai tambah jadi dua porsi.


"Ciee yang tadi protes ternyata malah nambah." aku menggodanya, tapi ia malah mencibir.


Usai jalan pagi dan sarapan, kami berdua berenang di kolam hotel. Aku sampai terkekeh, bergumam dalam hati, begini ternyata nikmatnya jadi orang kaya. Tidur di hotel, lari pagi, sarapan tanpa harus memasak, berenang, kamar dibersihkan.


"Tira, ada sesuatu untuk kamu." kata mas Saka, saat kami sudah berada di dalam kamar hotel.


"Apa, mas?" aku menatap sebuah amplop besar yang ia berikan ke hadapanku. Isinya ternyata kunci dan surat-surat rumah. Sebuah rumah yang menurutku sudah sangat bagus namun masih dianggap kurang oleh mas Saka.


"Maafin aku ya sayang, baru nisan memberi kamu rumah segitu " katanya.


"Enggak apa-apa mas. Kita mulai semua dari nol. Biasanya apa yang didapat dari hasil perjuangan itu rasanya lebih enak. Yang penting rumahnya berkah untuk kita."


Rencananya hari ini kami akan chek in dari hotel, lalu meninjau rumah baru kami sebelum pindahan. Meski belum melihat langsung, tapi dilihat dari bangunan baru namun sudah lengkap semuanya termasuk furniture, ku pikir tak ada lagi yang perlu ditambahkan.


Tapi mas Saka tetap ingin kami melihat semuanya dulu, ia tak mau aku kecewa belakangan. Makanya nanti setelah pulang dan meninjau rumah baru kami, untuk sementara waktu kami akan tinggal di apartemen miliknya yang sebelumnya ku tinggali.


Kami memang masih harus berjuang sebab sekarang masih membersarkan perusahaan mas Saka. banyak biaya juga yang dibutuhkan, makanya ia belum bisa memberikan kehidupan mewah untukku.

__ADS_1


Tapi apa yang sudah ku dapatkan sekarang sudah lebih dari kata cukup. Meski kedepannya, entah untuk berapa lama akan tinggal di perumahan tipe empat lima, tapi bagiku itu sudah cukup. Toh kami masih berdua, belum punya keturunan, jadi segitu sudah sangat besar. Bahkan jika harus tinggal di rumah petak pun aku tak keberatan.


__ADS_2