
Kami kembali ke Jakarta naik pesawat agar tak perlu memakan waktu lama. Sampai di Jakarta, Pak Saka menemui ayah untuk meminta izin menikah. Aku sengaja tak muncul duluan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena saat ini keluarga besar mencari keberadaanku yang dianggap menjadi penyebab batalnya pernikahan Ciya dan mas Bagus.
Untungnya ayah tak terlalu terpengaruh dengan kondisi yang memanas saat ini, ia yang memang tak terlalu peduli dengan anak-anaknya memenuhi keinginan Pak Saka untuk menikahkan kami asalkan pak Saka mau memberikan uang kepada ayah.
Sebenarnya sikap ayah yang lepas tangan itu sangat menyedihkan, apalagi ia punya empat orang anak perempuan, tapi juga jadi kemudahan untuk kami menikah. Apalagi setelah kejadian melelahkan usai dibohongi Andre Winata.
"Aku sudah mengatur persiapan pernikahan kita. Setelah ketemu MUA, kita bertemu orang tuaku." kata pak Saka. Aku menganggukkan kepala. "Apa kamu akan bahagia menikah denganku?" tanya pak Saka
"Menurut bapak?" aku balik bertanya.
"Hmmm, entah. Tapi yang jelas aku akan berjuang untuk membuat kamu bahagia." katanya lagi.
Kami berdua berjalan bersisian meski dengan jarak sambil tersenyum.
Jodoh itu memang benar-benar aneh. Aku mengira benar-benar hanya akan satu kali jatuh cinta lalu menikah. Tapi ternyata Tuhan memberikan lelaki yang tak tepat dulu. Sekarang, aku berharap pak Saka benar-benar jodohku.
"Kita sudah sampai." kata pak Saka, saat mobilnya memasuki halaman rumah besar yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Rumah yang teramat mewah dengan bangunan menjulang tinggi ditambah halaman yang super luas. Belum masuk saja aku sudah bisa membayangkan betapa kayanya keluarga mereka. Tapi kenapa pak Saka memulai usahanya dari nol, kalau ternyata keluarganya sekaya ini. Dahulu, kakak iparnya juga pernah mengatakan padaku tentang ayahnya pak Saka yang memang sangat kaya, ia pemilik Duta Grup yang memang termasuk salah satu perusahaan raksasa dengan banyak cabangnya dimana-mana.
"Kenapa diam saja? Ayo turun?" ajak pak Saka yang sudah berdiri di depan pintu mobil tempat aku turun.
"Apa bapak yakin saya akan diterima oleh ... Maksud saya," aku tak bisa menjelaskan. Jujur nyaliku ciut, tak menyangka ia sekaya ini. Sejujurnya sangat khawatir tak diterima sebab aku bukan siapa-siapa.
"Papa menerima kamu atau tidak, tak akan merubah keputusanku untuk menikahi kamu, Ra. Aku sudah lama menjaga jarak dari keluarga ini, tujuanku memperkenalkan kamu bukan untuk mencari restu karena aku tak butuh itu. Aku hanya ingin memberitahukan mereka kalau kita akan menikah. Hanya itu." kata pak Saka. Ia memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi tetap saja aku masih grogi, badanku sampai panas dingin.
Kami berdua memasuki rumah orang tua pak Saka yang bagiku seperti istana. Rumah mewah bernuansa gold. Di sana sudah ada ayah dan ibu tiri pak Saka, Abang dan kakak iparnya.
__ADS_1
"Saya ingin meminta restu pada papa." kata pak Saka. "Kami akan menikah pekan depan."
"Saka ... Papa tak pernah mempermasalahkan kamu mau menikah dengan siapapun, tapi tolong, ini adalah momen bahagia di keluarga kita karena akhirnya putra bungsu Keluarga ini menikah juga. Jadi, bisa kan pernikahan ini dibuatkan pesta." pinta pak Prasetyo.
"Tidak bisa. Acaranya tinggal beberapa hari, kalau semuanya di rumah sesuka hati papa maka acaranya akan kacau. Terserah papa mau datang atau tidak, yang jelas konsep pernikahan kami sudah matang dan tak bisa diubah-ubah." tambah pak Saka lagi
Mendengar itu, aku agak kesal pada pak Saka. Orang tuanya sudah berusaha meminta dengan cara baik, kenapa juga harus ditolak?
Kami tak lama, hanya memperkenalkan diri lalu pergi. Sebelum meninggalkan rumah, kakak iparnya pak Saka memintaku bicara sebentar saat pak Saka ditahan oleh abangnya.
"Ra, hanya kamu yang bisa melembutkan hati Saka. Tolong bujuklah ia agar sekali-kali mengikuti keinginan papa sebab papa sudah sangat tua, kasihan kalau dibantah terus." kata mbak Andin. Ia sempat menceritakan secara singkat bagaimana rumitnya hubungan ayah dan anak itu, semua karena pak Saka tak menyukai pernikahan ayahnya dengan Tante Heni yang berakibat pada kaburnya ia dari rumah besar ini.
"Baik mbak," aku menyanggupi meski sebenarnya tak tahu apakah bisa membujuk atau tidak.
"Punya orang tua sebaik itu, kenapa harus menjaga jarak sih?" tanyaku, saat kami di perjalanan pulang.
"Mbak Andin bilang apa?" pak Saka balik bertanya.
"Nggak banyak, hanya meminta agar aku membujuk bapak untuk berdamai dengan orang tua bapak." jawabku
"Oh," ia hanya menjawab pendek, lalu memacu kendaraannya dengan cepat hingga membuatku berteriak karena takut
"Pak Saka apa-apaan sih? Kalau kita kenapa-napa bagaimana?" tanyaku, saat mobil berhenti.
"Kamu boleh minta apapun dariku, tapi tolong jangan ikut campur dengan urusanku dan papa " pintanya.
__ADS_1
Pak Saka kembali memajukan mobil, tapi tak sekencang tadi.
Sampai di depan apartemen, aku tak langsung masuk. Memilih duduk sejenak dalam mobil untuk menenangkan hati yang sempat tidak enak setelah menegur pak Saka.
"Apa bapak marah?" tanyaku
"Untuk?" ia kembali bertanya.
"Sebab bapak sudah lancang mengingatkan saya "
Pak Saka tertawa. "Kamu tak tahu Tira, aku begitu karena masih sakit hati. Ayahku meninggalkan ibuku demi perempuan kedua yang dikasihani, diberi tempat tinggal dan pekerjaan, tapi tega berkhianat pada ibuku. Pengkhianatan itu sungguh membekas dalam ingatanku hingga aku memutuskan untuk keluar saja dari keluarga itu sebab Papa tak pernah benar-benar mendengarkan. ia benar-benar abai. Dari pada aku stres lebih baik keluar." kata pak Saka. "Lagipula, orang bilang, laki-laki yang sudah berkhianat biasanya ia akan mengabaikan anak-anaknya. Kamu juga merasakan hal itu, kan? Makanya untuk apa memperjuangkan kemustahilan. Perempuan kedua akan selalu dimenangkan!"
Aku tak bisa berkata-kata, bisa membayangkan saat ayah mendua dan ia mengabaikan kami. Rasanya dunia ini telah berakhir namun harus dijalani.
Pak Saka benar, orang yang sudah mendua memang tak akan pernah peduli dengan anak-anaknya. Cinta telah membutakan mata dan hatinya. Kami yang sama-sama dari keluarga broken home bisa merasa bagaimana tak enaknya ketika ayah kami di ambil orang.
Namun dalam hati aku bersyukur sebab tak jadi menjadi perempuan kedua. Andai aku tak tahu topeng Andre Winata, pasti aku sudah mengulang kembali kesalahan ayah pada anak-anak mbak Lina.
"Saya mengerti," kataku.
"Kelak, jika kita sudah menikah, tak boleh ada yang berkhianat. Apalagi kalau kita sudah memiliki anak-anak sebab aku tak mau anak-anak kita merasakan apa yang kita rasakan." kata pak Saka
"Ya." jawabku.
Matahari telah kembali ke peraduannya. Aku diantar ke apartemen, setelah itu ia kembali ke ruko.
__ADS_1