
"Bagaimana mbak Tira, sudah siap?" seorang perempuan memakai baju kaus dan celana jeans menghampiriku. Ia adalah salah satu pegawai dari artis pemilik podcast ini.
Sudah ku putuskan, aku memilih sebuah podcast untuk membuat klarifikasi atas apa yang sebenarnya terjadi. Tempat ini ku pilih karena di sini mbak Lina pernah menjadi bintang tamu, ia curhat habis-habisan, tentunya dengan tambahan bumbu-bumbu yang sangat berlebihan sehingga mengundang perhatian banyak orang sebab sebelumnya kasus kami memang sudah diviralkan lewat tulisan di akun temannya mbak Lina, kemudian ia pun ikut menulis juga.
Podcast ini sengaja ku pilih dengan pertimbangan artisnya punya track record yang baik, sopan, punya banyak penonton sehingga aku berharap setelah bicara satu kali ke publik maka semua akan clear. Terserah orang lain akan percaya atau tidak toh aku tak bisa mengatur agar semua orang dimuka bumi ini menyukai aku, yang jelas aku sudah menceritakan semuanya sebenar-benarnya sehingga aku tak punya beban lagi untuk meluruskan jika nanti ada yang mempertanyakan.
"Hmmm," aku menarik nafas dalam-dalam. Melihat ke arah mbak Lina dan Andre. Sepertinya mereka juga sudah siap. Makanya aku mengikuti perempuan tadi menuju ruang podcast.
Berbagai rasa berkecamuk di dalam hatiku. Usai basa-basi sebentar, kami memulai semuanya.
"Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga broken home. Meski aku tak tahu siapa aku sebenarnya, tapi aku sangat mencintai orang-orang yang hingga kini ku anggap keluarga. Aku tak pernah peduli, seberapa dalam mereka menorehkan luka di hatiku sewaktu aku kecil, yang aku tahu, aku menyayangi mereka. Sayang yang teramat besar hingga kadang aku tak sempat mencintai diriku sendiri. Fokus hanya pada mereka.
Suatu hari aku jatuh cinta. Aku tak tahu jika cinta itu salah, sebab ia adalah seorang suami dan ayah dari dua orang putri. Aku tak punya banyak waktu untuk mencari tahu tentangnya sebab aku yang haus akan kasih sayang seorang ayah, merasa seperti mendapat air di Padang pasir. Yang aku tahu ia lelaki baik dan serius makanya aku berani menerima lamarannya bahkan kami sampai mengucapkan janji suci di hadapan Allah.
Besar sekali harapanku saat itu, tapi ternyata semua semu. Bahagia itu belum tertuju untukku. Aku ikut menangis, bahkan sangat menderita membayangkan betapa hancurnya hati istri dan anak-anaknya saat itu. Andai kita bertemu kala itu, aku ingin bersimpuh memohon maaf padanya. Aku tetap menganggap apa yang ku lakukan salah meski aku tak pernah sengaja melakukannya." setetes air mata mengalir di mataku. Lama-lama makin deras. Aku menjeda sejenak cerita ini, mengusap dengan kasar air mata yang tak terbendung.
Artis itu memberikan tisu padaku, ia juga memberikan segelas air putih agar aku nyaman.
__ADS_1
"Aku menyadari salahku." aku melanjutkan pembicaraan. "Aku benar-benar bertaubat. Menerima dengan lapang dada penghakiman yang amat keras untukku. Aku kehilangan keluarga, kehilangan pekerjaan, dicaci, dimaki, dikasari, bahkan dilecehkan beberapa kali. Aku menerimanya." suaraku semakin serak. Dadaku rasanya teramat sesak.
Andai, andai ada seseorang yang bisa memelukku. Aku butuh sekali sandaran sebab sekarang aku yang terlihat tegar sebenarnya sudah sangat rapuh.
"Maafkan aku. Maaf. Aku gak akan meminta apapun, hanya ingin kalian tahu bahwa aku menyesali semuanya. Aku tak ingin menjadi wanita kedua meski itu tak sengaja. Aku lelah, sangat lelah." aku menganggukkan kepala pada artis tersebut, menandakan sudah selesai bicara.
Selanjutnya mbak Lina dan Andre yang masuk. Mereka ikut membuat pernyataan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu kami sama-sama berjanji bahwa masalah ini selesai.
***
Jakarta masih sangat macet. Aku memutuskan turun dari taksi online, berjalan di atas trotoar menuju stasiun Gambir. Sudah ku putuskan untuk meninggalkan ibu kota, merantau ke kota lain sebab merasa tak ada harapan lagi. Ibu menyatakan bahwa lebih menginginkan agar kami tetap menjaga jarak, bahkan tak lagi saling kenal sebab sebentar lagi Ciya akan menikah dengan mas Bagus. Ibu khawatir, sebab bagaimanapun mas Bagus pernah melamarku dua kali.
Kereta api menuju Yogyakarta sebentar lagi jalan. Aku menatap jendela, mengucapkan selamat tinggal pada kota yang penuh kenangan untukku.
"Terimakasih sudah menempaku dengan sangat baik. Aku pamit. Titip orang-orang yang amat ku cintai." kataku dengan suara pelan.
"Enak saja main titip -titip seperti itu." seseorang menyahut sambil duduk di sebelahku.
__ADS_1
Suara itu tak asing. Waktu aku menoleh, ternyata Pak Saka. "Bapak? Bapak di sini?" tanyaku.
Teeetttt. Suara kereta api hendak berangkat membuatku tersadar. Aku langsung panik. Bagaimana ibu, kereta sudah mulai berjalan meski pelan. Segera ku dorong pak Saka agar segera bangkit, tapi lelaki itu hanya diam sambil tersenyum. Benar-benar menyebalkan.
"Pak, ayo bangkit. Segera loncat dari kereta atau bapak akan terangkut. Keretanya sudah mau jalan ini!" aku semakin panik saat laju kereta semakin kencang. "Iiihhh, kan, semakin kencang. Bapak sih, saya bilangin nggak denger. Sekarang bagaimana? Keretanya sudah jalan. Sebentar lagi petugas akan datang dan memeriksa tiket. Habislah bapak!" aku benar-benar heran, kenapa ia masih bisa senyum -senyum saat keadaan begitu genting seperti ini.
Memang sebagian orang kaya itu menyebalkan. Pak Saka salah satunya. Ia tahu akan ada dalam masalah yang dicarinya sendiri tapi masih bisa sesantai itu. Andai saja ia tak ikut-ikutan ke sini, mungkin aku tak akan ikut panik, bisa tenang meninggalkan ibu kota. Tapi dari siapa ia tahu kepergianku?
Wajahku langsung memucat saat melihat petugas kereta api mulai mengecek tiket penumpang satu-persatu. Habislah pak Saka. Ia akan didenda lalu diturunkan di stasiun terdekat.
"Benar-benar pembuat masalah!" aku menggerutu. Orang seperti ini kenapa bisa sesantai itu?
"Siapa?" tanyanya.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang menyebalkan yang memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya. Sekarang rasakanlah. Biar kapok. Petugas sudah datang." kataku. Aku langsung mengeluarkan tiketku, sambil merangkai kata untuk negosiasi agar pak Saka bisa lolos. Meski aku kesal padanya, tapi tak tega juga jika ia mendapatkan masalah. Lagian untuk apa juga ia ikut ke sini. Cari-cari masalah saja.
"Maaf tiketnya pak, Bu." kata petugas kereta api yang kini berdiri di depan kursi pak Saka. Aku langsung keringat dingin.
__ADS_1
"Eeee itu pak, maaf, teman saya ...." belum selesai aku bicara, pak Saka malah mengeluarkan sebuah tiket. Apa itu? Ia punya tiketnya. Aku melongo, Sementara ia tersenyum lebar.