
Rumah yang dibeli mas Saka sangat nyaman, meski nanti kami punya dua anak pun rasanya masih pantas. Semua furniture juga bagus. Aku benar-benar kagum dengan selera suamiku. Bisa dibilang seleranya sangat tinggi sebab perabotan yang dibelinya rata-rata berkelas. Mungkin karena ia lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kaya makanya terbiasanya dengan barang-barang berkelas.
"Sekarang baru segini tidak apa-apa ya sayang, aku janji secepatnya akan membelikan rumah yang lebih bagus dan besar." katanya. Ia masih saja merasa tak enak hati, padahal sudah berulang kali aku katakan kalau aku sangat menyukai rumah ini.
"Segini sudah cukup mas, beneran deh. Sekarang lebih baik kita siap-siap pindah, tidak perlu ada rehap lagi, segini sudah lebih dari cukup. Aku suka kok. Lagian kalau mas masih punya dana lebih, sebaiknya pakai untuk tambahan perusahaan..kita masih butuh banyak tenaga IT dan untuk mendapatkan karyawan yang sesuai standar kita maka kita pun harus royal pada mereka." kataku, mengikuti sedikit gaya dari perusahaan lama tempatku bekerja. Mereka memang sangat royal pada karyawan sehingga banyak yang betah di sana. Bahkan mati-matian memberikan yang terbaik agar tidak tereliminasi.
"Oke kalau begiitu. Sekarang kita ke apartemen dulu, besok setelah memenuhi undangan Papa baru kita pindah ke sini. Cukup membawa pakaian saja karena barang-barangnya sudah cukup." kata mas Saka.
Setelah mengunci seluruh bagian rumah, kami berdua langsung meluncur menuju apartemen tempat aku tinggal sebelumnya.
Malam harinya, kembali mas Saka mendekat, tapi aku memberi jarak dengan berbagai alasan. Antara lain mempersiapkan diri dan pakaian untuk pertemuan besok. Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan keluarga mas Saka setelah resmi sebagai istrinya secara agama. Aku ingin memberikan yang tebaik. Ingin mereka menerima dengan terbuka sehingga bisa jadi jembatan untuk mas Saka dan ayahnya.
Melihat pertikaian ayah dan anak itu, sebenarnya, menurut penilaianku, permasalahan mereka hanya pada kurangnya komunikasi. Ego sama-sama tinggi hingga akhirnya terjadi hal tersebut. Mas Saka masih haus kasih sayang ayahnya, tapi ayahnya sudah menghadirkan Perempuan lain sebagai ganti ibunya padahal bagi mas Saka ibunya tak tergantikan. Andai komunikasi mereka bagus sebenarnya ini tak perlu terjadi karena ayah dan anak ini sebenarnya sama-sama saling sayang, sama-sama ingin diperhatikan tapi tak mau memulai duluan.
"Sayang, kenapa sih kita tidak melakukannya sekarang?" tanya mas Saka, ia berusaha meraihku dengan wajah cemberut, tapi aku kembali mengelak.
"Mas, maaf, tapi aku harus mempersiapkan untuk acara besok pagi. Aku benar-benar gugup." Kataku
"Tapi ini malam kedua kita dan kamu masih saja tidak mau. Atau jangan-jangan kamu memang mengelak?" mas Saka menyelidik.
__ADS_1
"Apa sih mas? Memangnya salah kalau aku ingin mempersiapkan untuk acara besok? Mas nggak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Aku belum siap. Pernikahan kita terlalu dadakan. Aku ini Perempuan, nggak bisa langsung satset satset seperti mas. Butuh menenangkan diri dulu kecuali mas memang mau memaksakan kehendak dan mas tahu kan pada akhirnya segala yang dipaksa itu nggak akan baik?"
"Iya iya iya. Tapi setelah itu kamu jangan menghindari aku lagi ya?"
Aku tak menjawab, kembali pura-pura fokus dengan pakaian yang tergantung dalam lemari.
"Paling tidak buka kek kerudungnya," mas Saka mengomel.
Aku tetap bertahan, pura-pura tidak mendengar, terus memilih, berulang kali membalik satu persatu pakaian yang sebenarnya akupun sudah bosan dan tak terlalu peduli besok mau pakai baju apa karena menurutku semua pakaian yang ku miliki saat ini adalah terbaik karena inilah pilihanku, tapi demi menghindari mas Saka, terpaksa ini ku lakukan.
Suara dengkuran mas Saka akhirnya terdengar juga. Meski sangat pekan namun terdengar jelas sebab malam yang sunyi dan di sini kami hanya berdua. Begitu yakin ia sudah lelah barulah aku berjinjit menuju sofa, tidur karena akupun sudah teramat lelah seharian ini beraktivitas.
***
"Enggak perlu begitu sayang. Kamu diterima atau tidak juga enggak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan kita. Justru aku berharap tak perlu ada hubungan yang terlalu dekat. Keluarga kita adalah keluarga kita dan nggak akan pernah satu dengan keluarga papa!" Kata mas Saka.
"Tapi enggak ada salahnya juga kan kalau aku baik sama mereka. Siapa tahu mereka juga bisa menerima aku dan aku bisa mendapatkan keluarga baru yang lebih banyak lagi. Mas kan tahu kalau aku sekarang hanya seberang kara. Tidak punya siapa-siapa." Kataku.
"Tidak, ada aku, sayang. Kita berdua adalah keluarga untuk selama-lamanya dan nanti kita akan punya anak yang banyak. Hidup kita akan penuh dengan kebahagiaan!' Janji mas Saka.
__ADS_1
***
Kami sampai di restoran yang sudah dibooking oleh keluarga mas Saka. Ada ayah dan ibu tirinya. Kakak dan kakak iparnya. Saat pertama kali datang, aku langsung menyalami mereka semua, Sementara Saka hanya diam mematung. Ia seolah tak peduli.
"Ayo kita makan Sekarang." kata pak Prasetyo.
Semua orang berjalan menuju meja makan. Tak ada satu oatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Aku seperti orang hilang. Ingin mengakrabkan diri tapi semuanya seperti patung.
Acara makan sudah selesai, ayah mas Saka memanggilnya. Diikuti oleh mas Aryo, mereka bertiga menuju ruangan lainnya. Tertinggal aku, ibu tirinya mas Saka dan mbak Andin. Untung saja aku sudah kenal dengan kakak iparnya sehingga aku bisa basa basi.
"Rencana kapan akan mengadakan resepsi?" tanya Bu Heni, ibu tiri mas Saka.
"Belum tahu pastinya Tante, masih belum pasti, harus diundur lagi karena ada pekerja mendesak yang tak bisa ditinggalkan." kataku
"Oh begitu ya Ra. Kalau sudah pasti kapan waktunya, kabari ya. Jangan lupa kasih tahu juga apa saja yang kamu dan Saka perlukan. Tidak perlu sungkan-sungkan sebab kita sekarang adalah kekuarga." kata mbak Andin. "Iya kan, ma?" mbak Andin menatap Tante Heni. "Satu lagi Ra, jangan panggil mama Tante, tapi panggil mama saja sebab sekarang kamu adalah menantu di keluarga ini."
"Eh, iya, maaf mbak, maaf Tan ... maksudnya mama." Aku tersenyum.
"Kenapa pernikahannya terburu-buru begitu?" tanya Bu Heni.
__ADS_1
"Oh itu ... mas Saka yang mau, ma." Jawabku.
"Kalian tidak melakukan hak yang terlarang kan?" tanyanya lagi. "Kami dengar kamu tinggal di apartemen Saka, benar?" Bu Heni dan mbak Andin menatapku sehingga membuatku gugup.