
"Apa kabarmu,Tira?" tanya pak Saka, saat aku baru datang. Ia melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya. "Apa kamu baik-baik saja? Kalau kamu masih merasa belum baik atau masih belum nyaman, kamu boleh istirahat dulu. Tidak perlu masuk tidak apa-apa. Saya bisa handle semuanya sendiri." Pak Saka memaksakan senyum.
"Saya baik-baik saja, pak." Kataku. "Lagipula bapak yakin bisa handle sendiri?" aku menatapnya, mencari kebenaran dari kata-katanya. "Pak ... Pak, kita itu kan satu tim. Bapak sudah menyatakan mengandalkan saya untuk proyek ini, lalu saat semuanya sudah di depan mata, bagaimana mungkin saya bisa melepaskannya. Saya tahu bapak sangat menginginkan agar goal setelah gagal berkali-kali. Sekarang saya ada di pihak bapak, lalu apakah bapak akan melepaskan kesempatan untuk menang ini?" Kataku. "Mengenai masalah pribadi, saya akan belajar profesional, Pak. Saya akan memisahkan dengan urusan pekerjaan. Sekarang saya tak akan mencampur adukkannya." kataku. Tak ingin berbicara panjang lebar, aku segera mengambil proposal dan berkas-berkas untuk kegiatan besok dimana kami akan bertemu dengan perusahaan lama tempatku bekerja. Besok, adalah masa dimana aku akan berhadapan dengan managerku. Aku sangat yakin ialah yang akan maju mewakili perusahaan sebab sampai sekarang posisiku masih kosong. Aku tahu dari informasi yang ku kumpulkan. Memang, sampai saat ini aku belum bisa melepas perusahaan itu, aku masih mencari tahu tentang mereka. Bukan hanya karena aku dendam pada beberapa orang yang di sana, tapi karena mereka juga akan jadi rival terberatku.
"Kemarin kalian mengatakan memperkerjakan aku hanya karena wajah ini, padahal selama ini aku yang kalian jadikan pion untuk memenangkan proyek-proyek. Benar-benar tidak tahu terimakasih. Sekarang akan ku buktikan, siapa yang hanya hiasan, siapa yang otaknya kosong. Aku atau kalian!" kataku dalam hati.
***
Semalaman aku tak tidur, sibuk mempersiapkan semuanya. Pagi ini, hanya berdua dengan pak Saka, kami menuju gedung tempat para pesaing berkumpul. Melihat kedatangan aku dan pak Saka, seperti dugaanku, pak Robin dan rombongannya menertawakan kami.
"Sungguh menyedihkan nasib kamu Tira. Dari perusahaan besar sekarang malah bergabung ke ... Apa itu namanya? perusahaan? Bagaimana mungkin kalian bisa menyebutnya perusahaan karena kalian hanya berdua!" tawa pak Robin terdengar seperti bara api yang membuatku panas.
"Berapapun orangnya itu tak penting, yang terpenting adalah kwalitasnya. Dari pada banyak yang datang tapi seperti rombongan sirkus, yang bekerja hanya satu orang." Aku balik menyerang.
"Apa maksudmu dengan rombongan sirkus?" pak Robin tampak kesal.
"Anda lupa atau memang sudah amnesia. Selama ini kan kalau ada proyek seperti ini saya yang selalu maju. Kalian ... satu, dua, tiga dan semuanya hanya penonton saja, kan? Ikut hanya untuk meramaikan saja. Tapi nggak kerja. Kalah cuma kalian saja, saya sangat yakin bisa memenangkan tender ini karena saya tahu kalian itu kosong!" Aku membalas telak mereka. Tapi dalam hati mengucap istighfar berulang kali, takut kalau apa yang ku ucapkan tadi adalah bentuk kesombongan meski sebenarnya benar bahwa saat bekerja di sana hanya aku yang bekerja. Yang lain hanya terima beres.
__ADS_1
Tak ingin terlalu jauh bertindak, aku berlalu. Menyusul pak Saka yang sudah mendapatkan perusahaan kami. Aku duduk persis di sebelahnya, menyimak mereka-mereka yang gantian presentasi.
"Kamu lihat mereka baik-baik, Ra. Perhatikan jangan sampai lengah. Kamu harus bisa tampil lebih baik dan meyakinkan!" Tegas pak Saka.
"Ya, InshaAllah." jawabku, yang tak terlalu memperhatikan pesaingku.
"Tira, kamu dengar, kan?" pak Saka nyaris melotot sebab kini aku sibuk dengan Hp.
"Iya pak, saya tahu." aku mengangguk-angguk.
Ternyata yang maju bukanlah pak Robin dan dayang-datangnya. Tapi pak Hito sendiri. Aku cukup kaget karena ini pertama kalinya seorang GM turun tangan langsung. Tapi tak mengapa, justru permainan ini lebih menyenangkan kalau ia yang tampil. Aku menyimak dengan seksama, mencari celah untuk bisa mengalahkan mereka.
Pak Saka memberi isyarat agar aku maju. Tapi aku tak langsung berdiri, memastikan kalau lawan-lawanku menyaksikan aku. Melihat mereka sudah berkumpul, barulah aku maju.
Presentasi itu ku ubah. Tentunya hanya persekian detik sebelum tampil, dengan mengambil kelemahan dari perusahaan lama tempatku bekerja. Aku melakukannya dengan sangat sempurna sehingga membuat dewan juri berdiri dan bertepuk tangan. Setelah tugasku selesai, aku kembali melenggang ke tempat duduk dengan santainya.
"Kamu benar-benar membuat jantungku hampir copot." bisik pak Saka.
__ADS_1
"Hah, kenapa? apakah saya melakukan kesalahan?" tanyaku, sambil balas berbisik.
"Kamu merubah semuanya. Benar-benar mengagetkan, Tira!".
Aku terkekeh. "Apa bapak tak memperhatikan mantan perusahaan saya? Presentasi mereka sembilan puluh sembilan persen mirip dengan apa yang sudah kita desain. Kalau saya tetap membacakannya maka bisa dipastikan kita akan kalah."
"Mengapa begitu?"
"Ckckckk, kenapa bapak tak paham juga. Sepertinya kita salah posisi, saya yang pantas jadi atasan, bukan bapak." kataku, mencandai pak Saka yang langsung kesal. Aku kembali terkekeh. "Perusahaan kita belum punya pengalaman, ini baru pertama kalinya. Sementara lawan kita selalu langganan memenangkan proyek ini. Berkas yang mereka pakai itu adalah berkas yang sama dengan yang saya buat periode kemarin. Sudah pasti goal karena sebelumnya juga sudah menang. Makanya saya mengubah untuk menghadangnya. Sebagai orang yang membuatnya saya sangat yakin bisa menghadang dengan cara ini sebab saya yang paling tahu kelemahannya." kataku. Pak Saka mengangguk-angguk. "Sekarang bapak lihat mereka, tampak gelisah, kan? Karena mereka tahu mereka akan kalah." lagi-lagi pak Saka mengangguk-angguk.
***
Seperti dugaanku, kami yang berhasil menang. Pak Saka tampak puas, sebab akhirnya cita-citanya terkabul juga. Aku sendiri merasa senang sebab bisa membuktikan pada orang-orang lama bahwa aku bukan hanya sekedar hiasan. Aku bukan pegawai yang kosong hanya mengandalkan wajah. Aku juga punya kwalitas!
"Bagaimana bapak-bapak, sudah paham siapa yang kosong siapa yang berisi?" Aku berani berhadapan dengan pak Robin dan pak Hito. Mereka menatap heran, aku semakin senang. "Oh ya, pak GM, lain kali kalau hanya berjuang sendiri lebih baik pangkas saja pegawai-pegawai yang tak berguna seperti manager anda. Masa seorang manager saja tak tahu cara membuat proposal yang baik. Atau jangan-jangan semua pekerjaan dia tidak tahu. Makan gaji buta, dong. Hanya mengandalkan pintar ngomong dan cari muka saja!" Aku tertawa lebar, lalu melambaikan tangan meninggalkan mereka yang menatap kesal.
"Kamu ... Benar-benar di luar dugaan Tira." kata pak Saka.
__ADS_1
"Kedepan mereka pasti akan membalas saya, makanya kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya." kataku. Sambil melangkah terus meninggalkan gedung pertemuan.