Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Akhirnya Menikah


__ADS_3

"Kamu beneran mau nikah, Ra?" Pak Robin selaku manajer melihatku berulang kali saat aku mengajukan cuti menikah selama sepekan seusia ketentuan perusahaan.


"Iya pak." jawabku, jelas dan singkat.


"Kenapa tiba-tiba begini? Kamu enggak hamil duluan, kan?"


"Hahaha, ya enggaklah pak." aku langsung tersenyum kecut. Seenaknya saja dia mengatakan seperti itu.


"Ya habisnya nikahnya tiba-tiba, enggak ada undangan untuk karyawan di sini juga. Apalagi coba yang jadi alasan orang-orang nikah dadakan selain hamil duluan? Lagian kamu kan cantik, masih muda dan sekarang tinggal di Jakarta juga."


"Maaf pak, enggak semua perempuan muda seperti itu." aku menegaskan padanya bahwa aku perempuan yang sangat menjaga kehormatan makanya memutuskan menikah lebih cepat ketika ada yang cocok agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Yakin? Apa enggak takut dengan pernikahan kamu nantinya karir kamu terhambat? Bekerja di kantor ini merupakan mimpi banyak orang lho Ra. Saya saja sampai rela nunda nikah demi bisa fokus berkarir di sini. Demi masa depan saya dan calon keluarga saya nantinya. Soalnya kalau sudah menikah biasanya pikirannya bercabang, dan nggak fokus. Terutama perempuan. Banyak banget episode penuh dramanya. Akan ada masa hamil, melahirkan, menyusui, anak sakit, suami sakit, ART bermasalah, keluarga bermasalah. Duh pokoknya pusing lah Ra. Makanya sebelum kamu mengalami semua itu mending pikirkan lagi deh."


"InshaAllah semuanya sudah saya pikirkan pak."


"Memang calon suami kamu kerja dimana, Ra?"


"Migas, pak."


"O ya ya ya. Sudah mapan ya. Baiklah kalau begitu..semoga pernikahan kamu lancar ya Ra dan kamu tetap bisa berkarier. Jangan berhenti di tengah jalan ya Ra. Sayang sekali kalau kamu berhenti meski suami kamu sudah mapan. Kamu itu selain cantik juga pintar Ra. Biasanya kalau perempuan sudah berhenti nikah, meski cantik nakal Buluk juga dan nanti jadi tergantung sama suaminya. Laki-laki kalau istrinya bergantung padanya Biasanya gampang menyepelekan istrinya. Pokoknya hati-hati saja Ra. Saya itu kasihan dan nggak mau terjadi hal-hal yang tidak-tidqk pada kamu karena sebenarnya saya sangat peduli lho Ra dengan kamu."


"Terimakasih pak atas kepeduliannya. InshaAllah saya sudah memikirkan semuanya matang-matang dan saya akan tetap lanjut bekerja di sini meski nanti saya punya anak." Kataku.

__ADS_1


Selesai mengurus cuti, aku segera kembali ke meja kerja. Kembali fokus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan termasuk untuk sepekan kedepan agar saat cuti bisa nyaman.


💐💐💐


Pagi ini, aku sudah berada di kamar rumah ibu, mengenakan gaun putih panjang yang dipilih dalam waktu kurang dari seminggu. Aku termasuk beruntung sebab butik yang kami pilih kebetulan memiliki stok gaun pernikahan yang sesuai dengan apa yang ku inginkan. Dibantu oleh MUA, gaun sudah terpasang lengkap dengan makeup flawles yang membuatku tampak berbeda karena biasanya tak pernah mengenakan riasan. Paling cuma bedak tabur ditambah colon bayi.


Dari balik kamar, aku mengintip ruang tengah yang dibuka hingga tampak terus ke rumah tamu. Semuanya pun sudah dihias. Meski sederhana namun terlihat berbeda. Nuansa merah muda dan putih menjadi warna pilihan sesuai dengan warna kesukaanku.


Tak sengaja aku melihat ibu yang sibuk lalu-lalang mempersiapkan semuanya. Menyambut tamu yang notabene adalah keluarga besar sendiri. Sejak sepekan ini ibu adalah orang yang paling direpotkan untuk menyambut acara pernikahan ini. Sementara Abah, duduk santai ditemani istrinya di ruang tengah sambil menyulut rokoknya. Tiba-tiba hatiku sesak, melihat kontrasnya kedua orang tuaku di hari bahagiaku ini. Tampak siapa yang benar-benar sayang dan yang palsu.


"Ra?" ibu menghampiri, saat tanpa sengaja mata kami saling bertatapan.


"Bu," kataku, sambil menahan haru. "Maafin Tira."


"Ibu pasti sangat lelah sekali sampai harus mengerjakan semuanya sendiri padahal Tira itu anak Abah dan ibu "


"Pstttt, Ra, jangan bicara begitu. Ibu sayang sama anak-anak ibu. Ibu akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian." Kata ibu.


Aku sangat percaya itu. Ibu selalu berusaha sekuat mungkin semenjak kami masih kecil, meski saat itu Abah masih bersama kami hingga Abah benar-benar meninggalkan ibu. Baru tiga bulanan ini ibu benar-benar berhenti kerja. Itupun setelah aku bersikeras. Makanya ibu mau. Kalau tidak mungkin ibu masih bekerja keras untuk adik-adikku.


Makanya aku heran, kenapa Abah tega meninggalkan ibu. Meninggalkan permata hanya untuk batu kali. Begitu ungkapan orang-orang.


Dulu, di rumah kami, Abah di rajakan oleh ibu. Tapi setelah menikah dengan istri barunya, Abah harus bekerja keras. Aku sering mendengar cerita abah harus berhutang kalau tidak bisa memberi uang pada istrinya saat Abah sakit.

__ADS_1


Tapi Tuhan Maha adil, saat ini hidup ibu jauh lebih baik dari abah. Ibu bisa menikmati hasil dari kerja kerasnya meski ibu tak pernah menuntut apapun dari ku. Sementara Abah masih harus bekerja keras menghidupi istri dan dua anaknya itu.


"Kamu harus bahagia ya Ra." Kata ibu.


"Kalau ibu bahagia, Tira juga pasti akan bahagia!" Kataku. Kami berpelukan.


"Jangan menangis nak, nanti makeup kamu luntur lho." Kata ibu. Meski begitu aku tetap tak bisa menahan haru. Aku sangat menyayangi ibu.


💐💐💐


Menikah dahulu bukanlah sesuatu yang ada dalam mimpiku. Pernikahan Abah dan ibu yang gagal membuatku juga enggan membayangkan pernikahan. Bagiku, belajar yang rajin agar mendapatkan pekerjaan terbaik, kemudian membahagiakan ibu dan adik-adikku adalah impian terbesar sekaligus terakhir. Itulah kenapa aku berjuang keras menolak laki-laki yang mendekatiku.


Paras yang cantik membuatku mudah disukai orang lain, itulah kenapa aku harus bekerja keras menolak mereka dari yang sekedar mengajak kenalan, nembak, memberi hadiah hingga langsung melamarku menjadi istri. Semuanya ku tolak.


Kini, di depan sana, sudah ada seseorang yang usianya terpaut sembilan tahunan tengah mengucap ijab kabul dengan abah. Ia tengah mengambil alih penjagaanku dari abah. Besar harapanku ia benar-benar bertanggung jawab atasku..tidak menyia-nyiakan aku seperti apa yang Abah lakukan kepada kami selama ini.


Usai mengucap ijab kabul, tanpa sadar air mataku dan ketiga adikku; Ciya, Elis dan Kiki mengalir. Kami berempat berpelukan. Mereka juga meminta padaku agar tak meninggalkan mereka meski aku sudah menikah.


"Tentu saja kakak nggak akan meninggalkan kalian. Bagi kakak kalian bertiga dan ibu adalah bagian dari hidup Kakak. Kalian sangat berarti dan sampai kapanpun nggak akan pernah kakak tinggalkan." Kataku.


"Kalau begitu sekarang ayo keluar kak. Temui bang Andre. Kami berdoa agar kakak bahagia selalu." kata adik sulung ku.


Ditemani tiga adikku, kami berjalan beriringan keluar dari kamar menuju pengantin laki-laki. Semua mata tertuju padaku. Tapi tatapanku tertuju pada ibu, tatapan penuh kasih yang tak bisa aku lewati. Aku yakin ibu pun sama harunya dengan kami berempat.

__ADS_1


__ADS_2