Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Menemui Istri Andre


__ADS_3

Griya Permata, blok G1 nomor 10. Itu adalah alamat rumah Andre yang ku ketahui dari hasil stalker media sosial istrinya. Saat itu aku sempat menyesal, kenapa tiga bulan berhubungan dengan Andre, tak pernah mencari tahu lewat media sosial juga, padahal semuanya terpampang nyata. Hanya saja saat itu aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor sehingga tak terpikirkan untuk melakukan semua itu. Lagipula aku adalah orang yang jarang bermain media sosial. Dulu punya akun media sosial juga untuk kepentingan melamar pekerjaan.


Memasuki halaman media sosial istrinya Andre, membuat jantungku berdebar menatap wajah istrinya. Memang tidak tergolong cantik, tapi terlihat berkelas. Lalu dua anaknya, wajahnya teramat mirip ayah mereka. Ingatanku langsung tertuju pada anak kecil yang menabrakku waktu di Playground. Iya, ini dia. Anak yang sama dengan yang mempertanyakan ayahnya padaku. Berarti ia benar, melihatku bersama ayahnya. Ahhh rasanya sangat bersalah sekali sudah membuat anak sekecil itu terluka. Bahkan usianya jauh lebih muda ketimbang aku yang ditinggal Abah.


Rumah ini tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Tapi tidak menggambarkan bahwa yang tinggal di sini adalah orang kaya. Menurutku masuk kategori menengah. Halamannya yang tak terlalu luas, tapi cukup lega untuk sebuah perumahan.


Aku menekan bel. Tak berapa lama keluar perempuan yang ku cari. Mbak Lina Aprilia. Ia kaget mendapati kedatanganku.


"Mau apa kamu ke sini?" Ia menyanbutku dengan tidak ramah, bahkan sangat judes. Berbeda dengan sikapnya yang lemah saat datang ke rumahku. Tapi aku bisa memahami, ia begitu karena luka yang aku buat. Bahkan jika ia lebih kasar pun aku tetap memaklumi.


"Mbak, maaf kalau kedatangan saya mengganggu mbak. Saya ...."


"Ya. Sangat menggangu. Siapa nama kamu? Tira ya."


"Iya mbak. Sebelumnya maafin saya, tapi bolehkah saya minta waktu mbak sebentar untuk bicara?"


"Saya tidak ingin meladeni kamu."


"Saya nggak akan minta macam-macam, mbak. Saya hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar mbak nggak salah paham."


"Tidak perlu mbak. Untuk apa menjelaskan semuanya, toh sudah jadi benang kusut. Kamu menghancurkan rumah tangga saya. Ngerti "


"Mbak, saya sudah mundur."


"Lalu? Apa?"


"Mbak, barangkali mbak bisa memperbaiki rumah tangga mbak."

__ADS_1


"Heh, enggak perlu. Kamu tahu, kehadiran kamu itu adalah malapetaka besar yang membuat saya dan anak-anak saya menderita. Sekarang kamu mau ngapain lagi? Kamu sudah sukses membuat semuanya menjadi sangat berantakan."


"Boleh saya jelaskan semuanya?"


"Tidak!"


"Lalu bagaimana caranya saya meluruskan kalau mbak nggak mengizinkan saya menjelaskan semuanya."


"Permisi, ada apa ini?" Seorang perempuan yang usianya mungkin sama seperti aku datang, ia tak sendiri, tapi aku tak terlalu memperhatikan. Rupanya ia adiknya mbak Lina. Entah siapa namanya, tapi ia langsung meradang begitu tahu kalau akulah perempuan kedua suami kakaknya. Tanpa basa-basi ia langsung menarik kerudungku sekencang mungkin, memukuli aku tanpa ampun. Aku hanya bisa berteriak minta bantuan sambil memegang kerudungku agar tak lepas.


Hantaman dan pukulan di wajah dan badan yang cukup keras membuatku benar-benar kewalahan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Inilah resiko sebab menjadi perempuan kedua dari suami orang.


"Vina, sudah. Lepaskan. Apa-apaan kamu itu?" Seorang lelaki, temannya Vina membantu memisahkan aku dari adiknya mbak Lina. Setelah berhasil melepas kami, ia langsung berdiri di antara kami sehingga aku bisa melihat jelas siapa orang yang sudah membantuku itu


"Mbak Tira?" ia menunjukku.


"Mbak, ayo cepat pergi!" lelaki itu dengan cepat menyambar tanganku, menuntunku naik ke mobilnya, lalu melaju meninggalkan rumah mbak Lina. Aku hanya bisa mengikuti dengan diam. Sementara Vina yang sudah menyadari aku kabur langsung mengejar, tapi ia kalah cepat sebab aku naik mobil sementara ia berlari.


💐💐💐


"Saya nggak akan nanya apa-apa. Tapi saya tahu betul Vina orang yang seperti apa. Kalau mbak enggak pergi, bahaya. Mbak bisa lebih babak belur lagi." kata Mas Saja, setelah mobil berhenti cukup jauh dari rumahnya. Ia menunjukkan luka di wajahku lewat kaca. "Itu, wajah mbak luka-luka, sebaiknya diobati." ia mengeluarkan kotak P3K, lalu membantuku mengobati lukanya.


"Boleh saya minta tolong?" kataku.


"Apa?"


"Tolong antar saya pulang. Bisa? Saya sudah sangat lelah, kalau sendiri saya takut ....." Aku menunjuk keluar sambil air mata berlinang.

__ADS_1


"Ya, mbak nggak usah khawatir, saya akan antar mbak sampai rumah ya." ia langsung melajukan mobilnya menuju alamat kosan yang ku sebutkan di awal.


Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis, menahan rasa tidak nyaman sebab sekarang tubuhku gemetaran. Aku benar-benar takut. Rasanya semua orang jadi garang. Mulai dari disiram air, dimaki, dipaksa sujud hingga diserang secara fisik.


"Mbak Tira tidak apa-apa? Apa butuh ke rumah sakit? Saya bisa antar, mbak." ia menawarkan bantuan.


"Enggak perlu, saya pulang ke kosan saja." Kataku.


"Mbak sabar ya. Saya yakin mbak Tira orang baik."


Kata-katanya barusan menjadi penyemangat untukku yang sudah patah harapan. Seperti menemukan seteguk air di tengah panasnya Padang pasir. Aku kembali menangis, tapi kali ini tangis bahagia sebab akhirnya ada yang meyakini bahwa aku bukan orang jahat.


"Terimakasih, terimakasih sudah berprasangka baik pada saya. Saya memang bukan orang jahat. Saya tak ingin menyakiti siapapun. Saya adalah korban tapi dijadikan pelaku." Kataku lagi, sambil menyeka sisa air mata.


"Begitulah sandiwara dunia, susah di pahami." Katanya. "Mbak jangan nangis lagi ya. Mbak tenanglah. Atau kalau mbak memang sedang banyak pikiran sebaiknya jangan pulang dulu, tapi kita cari tempat yang nyaman ...."


Entah apa lagi yang ia katakan. Aku benar-benar lelah juga mengantuk. Sejak semalam tidurnya tidak jelas, ditambah menangis berkali-kali sehingga matanya berat karena bengkak.


💐💐💐


Siluet senja membuat mataku silau. Saat aku membuka mata, di depanku ada pemandangan pantai. Aku masih berada di atas mobil, sudah agak lebih segar ketimbang sebelum tidur.


"Mbak Tira sudah bangun?" tiba-tiba mas Saka muncul dari balik jendela mobil. Rupanya ia dari tadi menungguku terbangun di luar.


"Maaf ya mas, saya ketiduran. Saya benar-benar merepotkan mas." Kataku


"Enggak kok. Malah saya senang, akhirnya saya bisa ke sini untuk melihat langit." Ia menatap ke atas. "Bagus ya awannya. Kalau sedang sedih atau banyak masalah, maka saya akan melihat awan. Rasanya tenang saja." ia menceritakan padaku bahwa ibunya telah lama meninggal. Kalau kesepian maka ia akan melihat awan.

__ADS_1


__ADS_2