
Malam ini sebelum akhirnya aku membuat keputusan, aku sengaja menghabiskan waktu untuk bermunajat kepada Tuhan agar keputusan yang ku buat adalah keputusan yang benar.
Semalaman suntuk aku tak tidur, terus merapalkan doa-doa dan zikir. Tak ada yang bisa aku andalkan, bahkan diriku sendiri, kecuali Tuhan. Aku menangis sejadi-jadinya, pasrah yang benar-benar memasrahkan semuanya. Dua kali gagal memilih calon imam, kini aku tak ingin gagal lagi.
***
Pukul delapan pagi, aku bertemu Tante Sonia. Kami memang sudah membuat janji. Padanya ku katakan semua tentang isi hatiku terhadap mas Bagus. Tentang keinginanku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku memang sengaja mengatakan semuanya pada ibunya untuk mempermudah jalanku. Yang aku tahu dan berharap ia masih menyukai aku, kalau Tante Sonia masih mendukungku sebagai calon pasangan putranya, maka jalanku untuk bersatu dengan mas Bagus akan lebih mudah.
"Hmmm," Tante Sonia berucap pelan. "Tentu saja Tante akan selalu ada di pihak kamu sayang. Dari dulu Tante selalu berharap punya menantu sebaik, sepintar dan secantik kamu." kata Tante Sonia sambil memberi pelukan yang menandakan ia welcome. Aku sangat terharu, sebab satu langkah akhirnya aku lewati juga. "Tunggu sebentar ya, Tante akan telepon Bagus. Dia pasti senang dengan apa yang kamu katakan tadi mengingat dia memang belum bisa move on dari kamu sayang, sampai susah untuk di Carikan jodohnya." kata Tante Sonia lagi.
Aku dan dan Tante Sonia menunggu selama hampir satu jam hingga akhirnya mas Bagus datang. Ia agak kaget melihatku bersama ibunya. Tadi saat ditelepon Tante Sonia, mas Bagus memang tidak diberitahu akan dipertemukan denganku, tapi Tante Sonia hanya mengatakan ingin mempertemukan dengan calon istrinya mas Bagus hari ini juga.
"Kenapa lama sekali, hampir saja Tira pulang." kata Tante Sonia.
"Ada apa Ma? Kenapa ada Tira di sini?" tanya mas Bagus, kebingungan.
"Sudah mama katakan tadi, kan, hari ini mama akan mempertemukan kamu dengan calon istri kamu." Tante Sonia tersenyum padaku.
"Lalu?" mas Bagus masih belum paham, sementara aku hanya tersenyum sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Lalu apa? ya ini, Tira yang akan jadi calon istri kamu. Bagaimana?" tanya Tante Sonia lagi.
Mas Bagus terdiam sesaat. Ia menatapku, bergantian dengan ibunya. Lalu dia menggeleng. "Kenapa harus pakai sandiwara ini?" tanya mas Bagus. "Kalau memang mau menerima, kenapa harus selama ini? Kamu tahu, kalau dari dulu, seharusnya kita sudah punya anak usia tiga tahun dan aku nggak harus mengalami yang namanya galau!" mas Bagus marah. Aku dan Tante Sonia hanya tersenyum, kami berdua berpelukan.
***
Aku masih berdiri kaku di depan kaca. Memandang bayangan seorang perempuan memakai gaun putih. Ini untuk ketiga kalinya seorang laki-laki akan mengucapkan ijab dan kabul. Hanya saja aku takut, apakah ini akan lama atau sama seperti sebelumnya, hanya beberapa saat saja. Aku jadi khawatir.
"Ra, ayo!" Amanda membuyarkan lamunanku.
"Man, apa ini akan sementara saja?" tanyaku.
Aku dan Amanda berjalan bersisian menuju altar usai mas Bagus dan ayah mengucapkan ijab dan kabul. Perasaanku campur aduk. Antara takut dan cemas. Sungguh, aku takut ia pun akan meninggalkan aku. Jika itu terjadi, mungkin aku tak akan pernah bisa bangkit lagi
"Sayang," mas Bagus membuyarkan lamunanku. Ia menyodorkan tangannya. Aku menyambut ragu-ragu, itupun setelah Amanda yang menuntun.
Saat akad ini memang tak banyak yang datang. Hanya keluarga mas Bagus, ayah, aku, Amanda, dua saksi dan penghulu. Kami sengaja tidak mengundang banyak orang karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Apakah kamu akan meninggalkan aku juga?" tanyaku, saat berhadapan dengan mas Bagus.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan kamu sementara aku selalu mengikuti langkahmu semenjak kita kecil." kata mas Bagus.
"Tapi ... dengan cacat yang ada padaku,"
"Akupun tak sempurna sayang, tapi kita akan saling melengkapi, bersama untuk selamanya!" mas Bagus mengecup keningku.
***
Malam ini adalah pertama kalinya kami bersama sebagai suami istri. Aku dan dia kini sudah ada diperaduan.
"Kamu tahu, untuk mendapatkannya seseorang sempat meragukan aku." kataku, pada mas Bagus.
"Sayang, apa kamu percaya padaku?" tanyanya. "Aku sendiri sangat percaya padamu. Segala tuduhan itu .. aku tak pernah peduli. Kamu dan dua laki-laki dimasa lalumu bukan lagi urusan kita. Mulai sekarang tak perlu kita bahas. Kau adalah milikku untuk selamanya."
Langit meski semakin gelap namun dalam hidupku menjadi begitu biru dan terang. Aku tersenyum lega setelah memberikan semuanya pada lelaki yang tepat.
Beberapa orang memang tak mudah menerima masa lalu seseorang, bahkan terus mengungkap aib orang lain, tapi kamu tak boleh membiarkan itu semua menghancurkan hidupmu.
----TAMAT----
__ADS_1