Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Amanda


__ADS_3

Aku baru saja hendak memejamkan mata, tapi tertunda karena Hp berbunyi. Pukul sebelas malam. Aku mengernyitkan dahi, siapa yang menghubungi semalam ini. Karena khawatir ada yang penting makanya aku kembali bangkit .


Amanda! Rasa kantuk yang tadi sudah tak tertahankan kini tiba-tiba hilang. cepat-cepat ku angkat.


[Ada apa, Man?] tanyaku.


[Ra, kamu bisa datang ke sini. Ada hal penting yang ingin aku katakan.] katanya, dari ujung telepon dengan suara agak serak, seperti habis menangis.


[Ada apa, Man? Ini sudah malam. Aku nggak berani keluar sendiri semalam ini.]


[Tolong, Ra. Aku mohon.]


[Memangnya ada apa?]


[Bisa kamu datang sekarang. Aku ingin memberi tahu sesuatu tentang Hito dan Robin. Barang bukti yang selama ini kamu butuhkan untuk membuktikan busuknya mereka berdua. Aku tunggu ya Ra, di apartemenku. Apartemen Mawar Putih, unit B, nomor seratus empat lantai tiga.]


Klik. Telepon dimatikan. Saat ku coba menghubungi kembali, nomor Amanda sudah tidak aktif.


Aku benar-benar bimbang. Apakah harus mengabaikan atau datang ke tempat Amanda. Tapi ini sudah sangat malam.


Bukti apa yang ingin diberikan Amanda kepadaku? Jujur saja aku sangat tertarik dengan apa yang ia tawarkan. Hanya saja datang malam-malam ke sana rasanya perlu dipikir ulang.


Tapi bagaimana kalau aku tak datang malam ini, setelah itu ia pasti tidak akan memberi bukti itu padaku.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi apartemen Amanda. Rasanya tak mungkin ada sesuatu yang membahayakan sebab aku dan Amanda sama-sama perempuan. Tapi sayangnya, setelah satu jam lebih mencari taksi, tak satu pun aku dapatkan. Makanya dengan sangat terpaksa, aku menghubungi pak Saka. Berharap ia masih terbangun dan mau mengantarkan aku.


Aku sangat beruntung, pak Saka rupanya belum tidur. Ia tak keberatan mengantar meski malam semakin larut.


"Maafkan saya, pak. Lagi-lagi saya merepotkan bapak." kataku.

__ADS_1


"Tidak masalah, Ra. Justru saya senang sebab kamu mau meminta bantuan saya. Ini adalah langkah yang benar. Jangan pernah pergi kemanapun sendirian semalam ini. Kamu tahu kan ini Jakarta, sangat tidak aman meski yang akan kamu kunjungi adalah seorang perempuan." nasihat pak Saka.


"Ya, baik pak."


Sesuai kesepakatan, pak Saka tak mau membiarkan aku sendiri masuk ke apartemen Amanda. Rupanya ia merasakan hal yang sama seperti aku. Merasa ini agak ganjil. Namun pak Saka tak bisa menghentikan langkahku sebab tekadku sudah bulat. Aku harus ke sana.


"Ingat, jangan sampai Hp kamu mati. Tetap biarkan menyala. Kalau sampai Hpnya mati maka saya akan menghampiri kamu membawa polisi. Kamu mengerti, kan?" pak Saka mewanti-wanti.


Aku mengikuti semua syarat yang diajukan pak Saka. Masuk menuju unit Amanda tanpa mematikan Hp milikku. Sementara pak Saka menunggu di lobby. Ia menyatakan siap jika ada hal buruk yang terjadi.


Sampai di depan kamar Amanda, ia sudah menungguku. Persis dugaanku, ia baru saja menangis. Matanya sangat sembab.


"Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku.


"Panjang ceritanya..Ayo masuk." ia mengajakku masuk setelah celingak-celinguk ke kiri dan kanan. "Istrinya Hito baru saja melabrak aku, Ra. Ini untuk kesekian kalinya dalam sebulan ini. Ia benar-benar marah. Gak hanya itu, ia juga memukul, menampar bahkan mencakar badanku, padahal sebelumnya ia hanya berani memakai. " Amanda menunjukkan bekas pukulan istri sah Hito. "Aku nggak tahu kenapa sekarang ia jadi seperti itu. Hito bilang istrinya tidak galak, tapi saat kami berhadap-hadapan, ia benar-benar seperti singa kelaparan."


"Aku sudah tak bisa menahan semuanya, Ra. Aku ingin pindah dari sini, juga keluar dari pekerjaan sebab istrinya mengancam akan nekat membunuh jika suaminya masih bersamaku."


"Hmmm, Hito itu bukan milik mu, ia sudah punya istri dan anak. Jadi hargai itu Amanda "


"Tira, kalau hanya masalah anak, aku siap mengandung anak Hito. Asalkan ia mau menceraikan istrinya yang kasar itu."


"Astagfirullah, kamu bicara apa sih Man? Memisahkan suami istri yang sah itu dosanya besar!" Aku semakin kesal dengan anak ini. Ia masih menganggap apa yang dilakukannya itu benar padahal salah. "Sampai kapan kamu akan menjadi perempuan seperti ini. " kataku


"Sampai aku dan anakku mendapatkan hak yang sama atas Hito."


"Maksud kamu?"


"Ya Tira, aku hamil. Sudah tiga bulan." kata Amanda.

__ADS_1


"Astagfirullah. Lalu sekarang bagaimana?"


"Aku mau ia tanggung jawab, anak ini juga harus mendapatkan hak yang sama seperti kakak-kakaknya!"


Aku dan Amanda masih berdebat hingga akhirnya ia memperlihatkan bukti rekaman serta foto yang menunjukkan kebusukan Hito dan Robin.


"Kamu bisa mendapatkan semua itu asalkan kamu mau membantuku." kata Amanda.


"Syaratnya apa?" aku balik bertanya.


"Kamu harus bantu aku agar Hito mau menceraikan istrinya dan menikahi aku."


"Apa? Nggak nggak nggak. Kamu salah Man, aku nggak akan melakukan semua itu. Lagipula aku tak pernah ada di tim wanita kedua atau perusak rumah tangga orang lain. Aku ada di tim istri sah!" aku menegaskan.


"Ra, pikir baik-baik. Ini kesempatan kamu untuk memulihkan nama baik kamu di kantor. Juga untuk mendapatkan kembali posisi kamu "


"Nggak perlu, Man. Aku juga tak berminat kembali ke kantor itu. Aku melakukan itu semua hanya untuk menegakkan keadilan, bukan untuk mencari jabatan. Aku sudah tak tertarik. Sudah ya, kalau tujuan kamu hanya ingin membuat mereka berpisah, aku nggak berada di posisi kamu. Kita berbeda Amanda!"


Sayangnya saat aku hendak meninggalkan apartemen Amanda, tiba-tiba Hito, Jimi dan Robin datang.


"Good. Kerja bagus Amanda sayang, akhirnya kita bisa bertemu kembali nona Tira!" kata Hito yang tertawa diikuti oleh dua temannya. Kedatangan mereka benar-benar membuatku kaget. Aku tak menyangka, Amanda ternyata menjebak ku.


"Kamu sengaja melakukan ini semua?" tanyaku pada Amanda. Ia tak berani buka mulut, hanya bisa menunduk.


"Malam ini kita akan bersenang-senang Tira sayang. Menyelesaikan apa yang pernah tertunda." ucap Robin. Tiga orang laki-laki jahat itu tertawa bersamaan.


Aku benar-benar ketakutan. Hanya berharap pak Saka bergerak cepat sebab jika aku harus berjung melepaskan diri sendiri rasanya akan sangat mustahil sebab mereka bertiga, belum lagi ada Amanda yang ternyata mengkhianati aku.


Tenang Tira, tenang. aku berpikir keras agar mereka tak mendekatiku dulu..Sampai pak Saka datang aku harus bisa mengundur waktu. Tapi sayangnya, saat aku melihat ke arah Hp di tas yang sedikit terbuka, ternyata Hpnya mati. Habislah aku!

__ADS_1


__ADS_2