
Aku juga pernah membaca buku yang mengatakan kalau memandang langit biru bisa membuat kita menjadi tenang. Refleks aku pun melakukan hal yang sama, memandang langit dari jendela mobil yang sudah terbuka.
"Anda pasti bertanya-tanya, kenapa saya ada di sana. Atau mungkin sudah tahu siapa saya." Kataku, membuka kembali pembicaraan setelah beberapa saat kami saling diam.
"Saya tidak tahu apa-apa, mbak Tira. Saya bukan bagian dari keluarga itu. Hanya kebetulan berteman dengan Vina, itu juga tidak terlalu akrab. Kebetulan kami satu angkatan, tadi ada pertemuan kecil-kecilan untuk persiapan reuni, dan kami bertemu. Ia meminta saya untuk mengantarkannya pulang, karena tidak ada teman-teman yang bisa mengantarkan dan kebetulan di lokasi sulit taksi, makanya saya akhirnya mengantarkan meski sebenarnya berat." Ia menjelaskan.
"Oh begitu. Saya kira kekasihnya."
"Tidak. Saya masih jomblo. Tapi apa itu perlu?"
Pertanyaannya membuatku canggung. Aku merasa pipiku memanase. Kenapa jadi bicara masalah ini.
"Tapi tahu berita di media sosial, kan?" tanyaku lagi.
Ia tertawa kecil. "Maaf mbak Tira, sepertinya saya akan kembali membuat anda kecewa. Saya tidak punya media sosial. Boro-boro mau main medsos, punya teman saja saya terbatas." Jelasnya.
"O," entah harus senang atau tidak, tapi akhirnya ku putuskan untuk jujur padanya, tentang siapa aku. "Saya sebelumnya menjalin hubungan dengan seorang lelaki, sama seperti anda, saya tidak punya banyak teman, bahkan bisa dikatakan tidak punya. Medsos pun jarang sekali. Punya hanya untuk melamar pekerjaan saat lulus kuliah. Itu juga sudah tidak aktif lagi..suatu waktu, saya dikenalkan oleh teman kampus pada seorang laki-laki, kami menjalin hubungan selama tiga bulan, lalu menikah akhir pekan kemarin. Setelah ijab kabul, tak berapa lama, datang beberapa orang perempuan, salah satunya mengaku istrinya. Perempuan itu adalah kakaknya mbak Vina.
Saya benar-benar tidak tahu bahwa ia adalah suami orang. Mungkin anda juga tak akan percaya seperti orang lain. Tapi saya senaif itu. Esoknya, saya viral di media sosial, makian dan cacian ditujukan pada saya. Efeknya berimbas pada ibu dan adik-adik saya.
__ADS_1
Tadi saya memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya. Bahkan saya juga ingin mengembalikan semua pemberian suaminya dala.. bentuk seserahan. Selebihnya saya tak pernah mau menerima apapun saat kami masih penjajakan. Tapi kembali saya katakan bahwa anda boleh percaya atau tidak cerita saya. Tapi tolong Jangan ikut menghujat sebab saya sudah sangat lelah. Mental saya sudah Hancur." kataku.
"Begitu." Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saya percaya pada anda."
"Benarkah?" aku benar-benar tak percaya dengan apa yang ku dengar barusan, namun membuatku merasa Bahagia..seperti mendapat rezeki nomplok. Akhirnya, setelah diusir ibu, dihakimi secara sepihak oleh keluarga besar, dimaki dan disumpahi netizen, ada juga yang percaya padaku. "Terimakasih, terima kasih banyak." Aku sampai tak bisa membendung air mata, saking terharunya. "Tapi jangan minta saya untuk menerima tawaran anda bekerja di perusahaan anda ya, meski anda sudah mempercayai saya sehingga membuat saya punya sedikit harapan tapi tetap saja saya tak ingin pindah kerja. Saya sudah nyaman dengan kantor lama saja " Kataku.
"Hah?" ia sempat bengong, lalu tertawa terbahak-bahak. "Aku benar-benar nggak nyanka kamu sereceh ini, Ra. Boleh kan aku manggilnya Tira saja?"
"Ya. Tidak masalah, sepertinya anda lebih tua dari saya. Saya 22 tahun. Anda?
"Benar, aku lebih tua dari kamu. Aku dua puluh lima tahun." ia tersenyum. "Tapi ngomong-ngomong, tawaran itu masih tetap ada ya. Kapanpun kamu ingin pindah, kantorku selalu welcome."
Perbincangan kami dilanjutkan sambil jalan pulang. Tak sadar, aku merasa sangat nyaman berbincang dengannya. Rupanya ia pun merasakan hal yang sama. Makanya ia menawarkan menjadi temanku. Karena masih trauma pada Andre, aku gak bisa menerima tawaran itu. Aku masih ingin sendiri, tak ingin berkawan dengan siapapun dulu.
💐💐💐
Sampai di depan kosan, aku turun dari mobil setelah menawarkan untuk mampir pada mas Saka. Tentu saja tawaran yang hanya basa-basi sebab ia sudah menolongku. Aku sebenarnya malas menerima tamu. Ingin istirahat dulu. Hari ini terlalu melelahkan. Mungkin setelah salat Isya aku akan tidur.
"Tira," mbak Dila memanggil. Aku ingin mengacuhkan karena seperti sebelumnya, malas untuk berdebat dengannya. Tapi seseorang yang berdiri di samping mbak Dila membuatku mengurungkan niat untuk pergi masuk ke kamar. "Mas Bagus mau bicara." Katanya.
__ADS_1
Aku melirik mas Bagus. Bagaimana ia bisa tahu tempat aku kos. Apa mungkin ia sebenarnya ingin bertemu mbak Dila. Mungkin ingin ngobrol denganku sekedar menyapa sebab bagaimanapun aku dan mbak Dila saudara.
"Pulang sama laki-laki mana lagi, Ra? Bukannya kapok malah tambah liar. Hati-hati lho Ra, sama penyakit menular " Sindiran mbak Dila rasanya sangatlah berlebihan. Ia seolah-olah ingin mengatakan bahwa aku suka melakukan hal-hal terlarang. Padahal ia tahu satu-satunya laki-laki yang pernah dekat denganku hanyalah Andre. Itu juga kamu tidak melakukan apa-apa. "Kamu itu sudah jadi istri orang, Ra. Harus bisa jaga diri baik-baik, meski hanya jadi perempuan kedua." ia kembali menegaskan bagaimana kedudukan aku saat ini.
"Pernikahan itu bisa dibatalkan." kata mas Bagus. "Laki-laki itu sudah melakukan kebohongan dan ia bisa dituntut." Tambah mas Bagus.
Benarkah begitu? Apa yang dikatakan mas Bagus membuka pikiranku. Aku jadi terpikirkan sesuatu.
"Dibatalkan bagaimana, mas?" mbak Dila tampan khawatir.
"Ya, Tira bisa mengajukan pembatalan pernikahan ke pengadilan sebab ia sudah ditipu oleh laki-laki itu. Begitu kan ceritanya? Saya juga baru dapat cerita separuh dari Ciya, adiknya Tira." ungkap mas Bagus.
"Ya, ia tak jujur di awal. Padahal di surat keterangan yang diberikannya, ia menuliskan keterangan masih perjaka." kataku. Aku ingat, sehari sebelum menikah, Andre menyerahkan surat keterangan belum menikah padaku. Itu adalah salah satu persyaratan untuk mengajukan permohonan pernikahan yang diminta saudara ibu, yang mengurusi surat-surat kami ke KUA. "Apakah itu bisa dituntut?" tanyaku.
"Tentu saja. Bisa dipidanakan ataupun di ajukan secara perdaa. Terserah kamu, Ra." ungkap mas Bagus. Aku jadi merasa mendapatkan angin segar.
"Tapi kan mereka sudah saling kenal sejak tiga bulan lalu, bisa saja kan Tira sudah tahu dan ...." mbak Dila masih memojokkan aku.
"Ya itu kan tebakan kamu, Dil. Siapa yang bisa menebak bagaimana isi hati saya sekarang meski sudah pernah lamarannya ditolak oleh Tira?" mas Bagus balik bertanya. Pertanyaan yang membuat mbak Dila tak nyaman. "Bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Maaf Dil, boleh tinggalkan saya dan Tira sebentar? Oh ya, terimakasih sudah menemani tadi " Kata mas Bagus, tentu saja membuat mbak Dila bersungut-sungut. Dengan wajah di tekuk ia masuk ke kamarnya.